Pagi itu, langit Enrekang masih diselimuti awan kelabu. Embun menetes di pucuk bambu, dan aroma tanah basah merayap dari lembah-lembah di kaki Gunung Bambapuang. Di kejauhan, tampak siluet gunung cadas yang menjulang tegak — bagi masyarakat setempat, bentuknya menyerupai phalus laki-laki, pasangan abadi dari Gunung Nona yang dianggap berjenis kelamin perempuan.
Kami sedang menuju Desa Kaluppini, salah satu dari lima desa adat di Kecamatan Enrekang, Sulawesi Selatan. Perjalanan menuju desa yang terletak di ketinggian 800 meter di atas permukaan laut ini bukan sekadar perjalanan fisik. Ia seperti ziarah ke masa silam, menapaki ruang di mana hutan, batu, dan manusia masih terikat oleh aturan leluhur yang hidup hingga kini.
Ziarah ke Hutan Liang
Di tengah kabut pagi, kami tiba di Hutan Liang, salah satu hutan adat yang disakralkan masyarakat Kaluppini. Di sinilah berdiri sebuah situs yang dianggap paling tua: sebuah erung, peti kayu berlumut dengan pegangan besar di sisinya.
“Di dalamnya,” ujar Abdul Halim, pemangku adat setempat, “terdapat tengkorak leluhur kami, Dajeng Wanna Pute.”
Ia adalah satu dari lima anak Tomanurung Puang Palipada, tokoh mitologis yang dipercaya sebagai asal mula manusia di wilayah ini. Menurut kisah yang diwariskan turun-temurun, delapan dari sembilan anak Dajeng Wanna Pute kemudian menyebar secara gaib ke berbagai gunung di Sulawesi Selatan, sementara satu anak tetap tinggal menemaninya di Kaluppini.
“Ritual delapan tahun sekali, maccera’ manurung, adalah perayaan kembalinya delapan anak itu,” lanjut Halim.
Erung yang kini dipagari besi itu menjadi pusat ziarah. Setiap tahun, orang-orang datang dari berbagai daerah, bahkan dari Malaysia, untuk berdoa atau menyampaikan hajat. Mereka mengambil segenggam tanah di sekitar pagar erung, menyimpannya dengan janji akan mengembalikannya delapan tahun kemudian — ketika keinginan mereka telah terpenuhi.
Liang Wai: Sumber Air dari Dunia Dewata
Dari Hutan Liang, perjalanan berlanjut ke Kampung Kajao, di mana terdapat Liang Wai, batu besar berongga yang dipercaya sebagai sumber air suci. Tempat ini adalah inti dari ritual maccera’ manurung.
Di hari perayaan, ribuan orang memadati kawasan itu. Ritual dimulai dengan Ma’ Peong — menanak beras dalam bambu di lapangan sambil menyembelih ayam hitam. Saat doa-doa adat dibacakan, air tiba-tiba mengalir deras dari rongga batu yang sebelumnya kering.
Air itu dianggap titisan dewata, penuh berkah dan penyembuhan. “Hanya mengalir pada hari itu,” ujar Halim pelan. “Nanti akan hilang, dan baru muncul lagi delapan tahun berikutnya.”
Pemandangan luar biasa: ratusan warga berbaris membawa jerigen, menampung air dari batu yang bernafas. Di wajah mereka tergambar rasa takjub, syukur, dan keyakinan yang diwariskan dari leluhur.
Hutan Sebagai Ruang Suci
Bagi masyarakat Kaluppini, hutan bukan sekadar sumber kayu, melainkan ruang hidup yang suci. Di sanalah doa dan ritual dilangsungkan, tempat manusia menyatu dengan alam dan arwah leluhur.
Setiap batang bambu, setiap batu, bahkan aliran air memiliki penjaga gaib yang tak boleh diganggu. Penebangan pohon hanya boleh dilakukan dengan izin pemangku adat. “Tak ada yang berani melanggar,” ujar Halim. “Karena adat di sini masih sangat kuat.”
Hutan-hutan Kaluppini juga menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat di bawahnya. “Kalau hutan mereka rusak, air di Enrekang, Pinrang, bahkan Wajo bisa kering,” kata Paundanan Embong Bulan, Ketua AMAN Enrekang.
Pemerintah daerah pun menyadari pentingnya peran komunitas adat ini. “Masyarakat adat menjaga hutan dengan cara mereka sendiri,” ujar Bupati Enrekang, Muslimin Bando. “Dan itu menjaga suplai air untuk seluruh Massenrempulu.”
Adat, Agama, dan Harmoni
Meski masyarakat Enrekang dikenal religius, adat dan Islam berjalan beriringan tanpa benturan. Di Kaluppini, seseorang bisa salat lima waktu dan tetap memegang teguh pantangan leluhur. Bahkan di beberapa keluarga, perbedaan antara kekuatan adat dan agama menjadi keseimbangan, bukan perpecahan.
“Tidak pernah ada konflik dengan Toraja yang mayoritas Kristen,” ujar sang bupati. “Kami belajar dari leluhur: hormati semua yang berbeda, karena tanah ini milik bersama.”
Di Antara Gunung yang Menyusuri Waktu
Sore hari, matahari mulai tenggelam di balik pegunungan Massenrempulu, yang berarti “menyusuri gunung.” Cahaya jingga memantul di bebatuan dan pepohonan bambu, sementara suara burung hutan mulai terdengar dari kejauhan.
Di tanah yang dilingkupi legenda dan adat ini, waktu seolah tidak berjalan lurus. Ia berputar dalam siklus delapan tahun, bersama air suci yang mengalir hanya sekali dalam satu generasi.


