Masjid Tua Tondon, Jejak Islam dan Warisan Megalitikum di Atas Batu Purba Enrekang

Masjid Tua Tondon bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan pengingat bahwa iman, budaya, dan sejarah dapat berpadu dalam satu ruang sakral yang melampaui zaman.

Nagekeo yang Tak Banyak Orang Tahu, Temukan di Edisi Spesial Ini!

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia! Selengkapnya
X

Di perbukitan hijau Desa Tokkonan, Kecamatan Enrekang, berdiri sebuah masjid tua yang seolah menantang waktu. Namanya Masjid Tua Tondon — rumah ibadah yang telah berdiri selama lebih dari empat abad, menatap perubahan zaman dari atas hamparan batu besar yang menjadi fondasinya.

Bagi masyarakat Enrekang, masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan simbol perjumpaan antara warisan Islam awal dan jejak prasejarah yang masih hidup di tanah Sulawesi Selatan.

Di Atas Batu yang Menyimpan Waktu

Perjalanan menuju Masjid Tua Tondon membutuhkan waktu sekitar 30 menit dari pusat Kota Enrekang. Jalanan menanjak perlahan, menembus udara sejuk dan pemandangan sawah yang membentang di bawah kaki bukit.

- Advertisement -

Begitu tiba di lokasi, pengunjung disambut oleh pemandangan yang unik: sebuah bangunan kayu bergaya rumah panggung, berdiri kokoh di atas paparan batu datar sepanjang 300 meter dan lebar 100 meter. Batu ini menjulang sekitar 10 meter dari permukaan tanah — seolah menjadi singgasana alami bagi masjid berusia 400 tahun tersebut.

“Lokasi ini bagian dari situs prasejarah,” ujar Arsyad, penjaga masjid yang telah merawatnya selama puluhan tahun. Ia menunjuk permukaan batu yang dipenuhi goresan-goresan dan ratusan lubang kecil (lumpang) dengan berbagai ukuran. “Kata arkeolog, dulu lubang-lubang ini digunakan untuk membuat rempah atau obat-obatan. Satu lumpang mewakili satu keluarga.”

Temuan itu membuat kawasan Tondon dipercaya sebagai situs megalitikum terbesar di Sulawesi Selatan, tempat manusia purba pernah bermukim dan meninggalkan jejak kehidupannya.

- Advertisement -

Masjid Kayu di Atas Zaman

Menurut cerita masyarakat, masjid ini didirikan oleh Nene Semi, tokoh penyebar Islam di Enrekang. Struktur awalnya sederhana — seluruh bangunan dari kayu, atap dari ijuk pohon aren, tanpa paku, tanpa semen.

Baca Juga :  Sejarah Masjid Kuno Bayan Beleq, Masjid Pertama di Pulau Lombok

“Pernah direhab total sekali, karena kayunya sudah lapuk,” kata Arsyad. “Tapi bentuk aslinya kami pertahankan.”

Meski berada jauh dari permukiman, masjid ini masih difungsikan hingga kini. Pada hari-hari besar Islam seperti Idul Fitri, Idul Adha, dan Salat Jumat, warga Desa Tokkonan akan naik ke bukit untuk beribadah bersama. Jika jamaah penuh, sebagian dari mereka akan melaksanakan salat di atas permukaan batu, tepat di bawah langit terbuka.

- Advertisement -

Suasana di sana hening, hanya terdengar desir angin dan gemerisik daun. Setiap kali azan berkumandang, gema suaranya menyatu dengan alam — menghadirkan nuansa spiritual yang sulit ditemukan di tempat lain.

Tradisi Delapan Tahun Sekali

Masjid Tua Tondon
Masjid Tua Tondon

Selain menjadi pusat keagamaan, Masjid Tua Tondon juga menjadi tempat diselenggarakannya ritual adat Maccera Manurun, sebuah tradisi yang dilakukan setiap delapan tahun sekali. Upacara ini merupakan bentuk syukur dan doa keselamatan masyarakat Desa Tokkonan.

Pada waktu yang sama pula, warga mengganti kulit bedug masjid. Namun prosesi ini bukan perkara sederhana. Kulit bedug harus berasal dari kerbau jantan pilihan, dan penyembelihannya dilakukan di lokasi masjid setelah mendapat restu dari tokoh adat.

“Sebelum diganti, kulit lama harus dipukul-pukul sampai benar-benar robek,” tutur Arsyad sambil tersenyum. “Baru setelah itu diganti dengan yang baru. Itu tradisi kami, dan selalu meriah.”

Saat ritual berlangsung, ratusan warga berkumpul — bukan hanya dari Tokkonan, tapi juga dari desa-desa sekitar, bahkan dari luar Enrekang. Musik tradisional menggema, aroma masakan khas desa memenuhi udara, dan di tengah keramaian itu, masjid tua berdiri tegak sebagai saksi dari kehidupan yang terus berlanjut.

Menapaki Kawasan Suci

Namun bagi siapa pun yang ingin berkunjung ke kawasan ini, ada aturan adat yang harus dihormati. Pengunjung wajib didampingi tokoh adat atau penjaga masjid, serta memiliki niat yang jelas.

Baca Juga :  Asal Usul Suku Madura dan Kemiripannya dengan Bangsa Tibet

“Tidak boleh berkata kasar, tidak boleh memakai pakaian warna merah atau kuning,” tegas Arsyad. “Perempuan yang sedang haid juga tidak boleh masuk.”

Pantangan-pantangan ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menjaga kesakralan tempat. Karena bagi masyarakat Tokkonan, Masjid Tua Tondon bukan hanya bangunan bersejarah, tapi juga ruang spiritual tempat leluhur mereka masih “berdiam” dan menjaga keseimbangan alam sekitar.

Warisan Hidup di Puncak Enrekang

Saat matahari condong ke barat dan cahaya keemasan jatuh di dinding kayu masjid, suasana di Tondon menjadi magis. Bayangan atap ijuk memanjang di atas batu purba, sementara suara ayam hutan bergema dari kejauhan.

Di sini, waktu terasa melambat. Setiap sudut batu, setiap ukiran kayu, dan setiap tiupan angin menyimpan kisah panjang tentang peradaban yang menyatu — antara Islam, adat, dan sisa-sisa dunia megalitikum yang masih hidup.