Di sebuah rumah panggung di wilayah Sulawesi Tengah, suasana pagi terasa lebih hening dari biasanya. Tidak ada musik, tidak pula percakapan yang keras. Keluarga besar berkumpul dalam diam, menanti satu momen penting, pelaksanaan Nompudu Valaa Mpuse, ritual adat yang menandai pemutusan tali pusar bayi yang baru lahir.
Bagi masyarakat setempat, kelahiran seorang anak bukan sekadar peristiwa biologis. Ia dipahami sebagai peralihan besar dari dunia yang tak kasatmata menuju kehidupan sosial yang nyata. Karena itulah, setiap tahap awal kehidupan bayi diiringi dengan tata cara adat yang sarat makna, salah satunya melalui Nompudu Valaa Mpuse.
Tradisi ini telah dijalankan turun-temurun, khususnya di kalangan masyarakat Kaili dan sejumlah komunitas adat di Sulawesi Tengah. Dalam pandangan budaya lokal, tali pusar dan tembuni (plasenta) bukanlah sisa biologis semata, melainkan bagian penting dari perjalanan hidup bayi yang harus diperlakukan dengan hormat dan penuh kehati-hatian.
Prosesi dipimpin oleh sando mpoana, figur adat yang berperan sebagai dukun bersalin sekaligus penjaga pengetahuan tradisional. Dengan gerak yang tenang dan penuh perhitungan, sando menyiapkan alat-alat sederhana namun sarat simbol: sebilah bambu tajam atau pisau khusus (benji), kepingan uang logam, serta benang dari serat alami.
Dua keping uang logam diletakkan di telinga bayi. Tindakan ini dimaknai sebagai bentuk perlindungan, penutup dari gangguan yang tak terlihat, sekaligus doa agar sang bayi kelak tumbuh dengan pendengaran yang baik mampu mendengar nasihat dan kebaikan. Tali pusar kemudian dipotong di atas uang logam, sebuah simbol pemisahan yang diyakini membawa keberkahan dan keselamatan.
Setelah diputus, tali pusar diikat menggunakan benang tradisional dari serat alam, seperti sabut kelapa atau kulit kayu tertentu. Ikatan ini bukan sekadar prosedur teknis, melainkan penanda bahwa kehidupan sang bayi kini telah berdiri sendiri, terpisah secara fisik, namun tetap terhubung secara spiritual dengan keluarga dan leluhur.
Perhatian khusus juga diberikan pada tembuni. Dalam kepercayaan lokal, tembuni dipandang sebagai “saudara” bayi bagian dari tubuh yang telah menemani sejak dalam kandungan. Karena itu, tembuni dibersihkan, dibungkus kain kuning atau putih, lalu dimasukkan ke dalam belanga tanah yang baru. Di dalamnya ditambahkan garam, asam, dan rempah-rempah tertentu sebagai simbol keseimbangan dan penjagaan.
Prosesi belum berakhir. Beberapa hari kemudian, tembuni akan ditanam di tanah melalui ritual tersendiri. Penanaman dilakukan dengan penuh tata krama. Anak perempuan yang masih memiliki kedua orang tua sering ditunjuk untuk membawa tembuni menuju lokasi penanaman sebuah simbol kelangsungan hidup dan keberkahan garis keluarga. Selama perjalanan, pantangan diberlakukan: tidak berbicara, tidak menoleh, dan tidak bercanda.
Tembuni biasanya ditanam di dekat rumah atau di samping bibit pohon kelapa. Kelapa dipilih bukan tanpa alasan. Dalam pandangan masyarakat setempat, pohon kelapa melambangkan kehidupan yang panjang, ketahanan, dan kegunaan bagi banyak orang sebuah harapan yang kelak disematkan pada sang bayi.
Selama masa awal ini, bayi juga tidak diperbolehkan keluar rumah atau menyentuh tanah sebelum seluruh rangkaian ritual selesai. Pantangan tersebut dimaksudkan sebagai bentuk perlindungan selama masa transisi, saat bayi diyakini masih rentan terhadap pengaruh lingkungan sekitar, baik yang tampak maupun yang tak kasatmata.
Di tengah perkembangan layanan kesehatan modern, Nompudu Valaa Mpuse tetap dijalankan oleh sebagian masyarakat, berdampingan dengan praktik medis. Tradisi ini tidak dimaknai sebagai penolakan terhadap ilmu kesehatan, melainkan sebagai pelengkap cara adat untuk merawat aspek spiritual dan sosial dari kehidupan manusia sejak awal.
Bagi keluarga, ritual ini menjadi ruang kebersamaan. Bagi masyarakat, ia menjadi pengikat identitas. Dan bagi budaya lokal, Nompudu Valaa Mpuse adalah penanda bahwa kehidupan tidak dimulai begitu saja, tetapi dirawat, dihormati, dan disambut dengan penuh kesadaran.
Ketika seluruh rangkaian selesai, bayi itu akhirnya dibawa keluar rumah. Tidak ada upacara besar, tidak ada sorak-sorai. Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan keyakinan kuat: bahwa kehidupan telah dilepas dengan doa, dijaga dengan adat, dan diserahkan pada perjalanan panjang yang akan ditempuhnya sendiri.


