Jadah Blondo: Jejak Rasa, Tradisi Panjang, dan Kelangkaan Kuliner Solo

Bagi masyarakat Jawa, jadah sering kali menjadi pilihan kudapan untuk mengisi waktu luang. Jadah bisa menjadi santapan yang dinikmati bersama kopi maupun teh di sela-sela kesibukan.

Nagekeo yang Tak Banyak Orang Tahu, Temukan di Edisi Spesial Ini!

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia! Selengkapnya
X

Pada suatu pagi yang teduh di sudut Kota Solo, aroma kelapa yang dipanaskan perlahan tercium dari dapur-dapur tua yang masih bertahan di tengah modernisasi. Asap tipis mengepul dari tungku tanah liat, sementara tangan seorang ibu mengaduk santan yang dimasak berjam-jam hingga menyisakan serpihan berwarna kecokelatan.

Di saat yang sama, beras ketan yang telah dikukus mengeluarkan uap wangi yang lembut—sebuah pertanda bahwa jadah hangat sedang menunggu pasangan alaminya. Dari proses panjang dan sabar inilah, jadah blondo—kuliner sederhana namun sarat memori budaya—lahir dan dijaga oleh waktu.

Di kota yang terkenal dengan kelembutan tutur warganya, makanan ini menjadi salah satu jejak rasa yang memadukan keheningan, kesabaran, dan ritual. Jadah blondo bukan sekadar kudapan, tetapi cerita panjang tentang masyarakat Jawa yang hidup dalam harmoni antara tradisi, alam, dan keluarga.

- Advertisement -

Perpaduan Rasa dari Dapur-Dapur Tradisi

Jadah telah lama menjadi bagian dari lanskap kuliner Jawa Tengah. Teksturnya yang kenyal, rasanya yang gurih, dan kehangatan yang melekat membuat makanan ini menjadi teman setia minum kopi atau teh di sela-sela kesibukan. Namun Solo memiliki versinya sendiri—jadah blondo—sebuah varian yang memiliki karakter rasa berbeda, lebih dalam, lebih berlapis, dan lebih sarat filosofi.

Nama jadah blondo diambil dari dua komponennya: jadah sebagai dasar makanan, dan blondo sebagai isiannya. Blondo merupakan ampas santan yang tersisa dari proses pembuatan minyak kelapa. Pada tahap ini, santan yang dimasak pelan selama berjam-jam akan mengalami perubahan warna dan tekstur: dari cairan putih menjadi gumpalan kecil kecokelatan yang kaya minyak dan aroma.

Dalam buku Kuliner Tradisional Solo yang Mulai Langka karya Dawud Achroni, disebutkan bahwa untuk mendapatkan blondo yang sempurna, dibutuhkan waktu sekitar tujuh jam memasak santan di atas api kecil. Proses ini menuntut ketelitian dan kesabaran—dua nilai yang melekat kuat dalam budaya Jawa.

- Advertisement -
Baca Juga :  Pecel Ndeso, Jejak Rasa Pedesaan di Jantung Kota Solo

Blondo biasanya disajikan bersama jenang, namun di Solo, ia dipadukan dengan jadah. Perpaduan ini menghasilkan cita rasa yang lembut, gurih, sekaligus memiliki sentuhan karamel dari proses pemasakan yang lama. Rasanya jauh lebih kompleks dibanding jadah dari wilayah lain, membuatnya berbeda dan mudah dikenali bagi para pencinta kuliner tradisional.