Filosofi Ma’burasa, Tradisi Bugis-Makassar Menjelang Lebaran

Di balik bentuk pipih dan aroma daunnya, burasa’ menyimpan ilmu yang diajarkan dari generasi ke generasi.

Nagekeo yang Tak Banyak Orang Tahu, Temukan di Edisi Spesial Ini!

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia! Selengkapnya
X

Menjelang Lebaran, ketika angin sore mulai menurunkan suhu di dataran rendah Sulawesi Selatan, aroma santan yang mendidih perlahan dari tungku kayu menjadi tanda bahwa Ma’burasa telah dimulai. Di rumah-rumah Bugis-Makassar, baik di kota pesisir maupun di desa yang masih dipenuhi hamparan sawah, tradisi ini menyatukan keluarga dalam sebuah ritme kuno: mempersiapkan burasa’, makanan khas yang tak pernah absen dari perayaan Idulfitri.

Burasa’—beras yang dimasak bersama santan, dibungkus daun pisang, lalu direbus hingga padat—adalah warisan kuliner yang melekat kuat dalam identitas masyarakat Bugis-Makassar. Kehadirannya bukan sekadar pelengkap hidangan, tetapi simbol keterikatan pada masa lalu.

Banyak orang Bugis yang merantau jauh tetap membuat burasa’ menjelang Lebaran, seolah menyelipkan sepotong kampung halaman ke dalam perayaan mereka. Tradisi ini bahkan dipraktikkan pula oleh komunitas non-Muslim seperti kelompok Tolotang di Sidrap, menunjukkan bahwa Ma’burasa telah menjelma menjadi pusaka budaya, bukan sekadar ritual keagamaan.

- Advertisement -

Di masa lalu, Ma’burasa adalah momen sosial yang berlangsung di beranda rumah. Perempuan dari berbagai usia duduk melingkar, menyusun lembaran daun pisang dan membungkus beras yang sudah dimasak bersama santan.

Kaum laki-laki menyiapkan tungku, menjaga nyala api, dan memastikan burasa’ matang sempurna setelah delapan jam perebusan. Setiap langkah dilakukan dengan sabar, saling membantu, dan penuh percakapan yang menyalakan kembali rasa kebersamaan dalam keluarga besar.

Nilai gotong royong begitu terasa dalam proses panjang ini. Burasa’ yang telah matang biasanya dibagi rata kepada setiap keluarga dalam lingkaran kekerabatan. Dalam setiap pembagian itu tersimpan pesan tersirat tentang kebersamaan dan solidaritas.

- Advertisement -

Pada keluarga yang lebih mampu, burasa’ dibagikan kepada tetangga atau kerabat yang membutuhkan, menjadi wujud perhatian sosial yang diwariskan turun-temurun. Tradisi ini tidak hanya menghasilkan makanan, tetapi juga memupuk rasa saling peduli.

Baca Juga :  Bubor Paddas, Warisan Rasa dari Tanah Sambas

Ingatan, Adaptasi, dan Warisan yang Terus Bertahan

Di balik bentuk pipih dan aroma daunnya, burasa’ menyimpan ilmu yang diajarkan dari generasi ke generasi. Anak-anak biasanya mengikuti proses ini dari dekat: belajar memperhitungkan takaran beras, menata daun, dan mengikat burasa’ agar tidak terurai saat direbus.

Pembuatan burasa’ bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan terburu-buru. Ia menuntut ketelitian, kesabaran, dan perhatian pada detail kecil—keterampilan yang diwariskan hampir seperti mewariskan aksara budaya.

- Advertisement -

Perubahan zaman membawa bentuk adaptasi. Jika dulu seluruh proses menggunakan bahan dari alam—daun pisang yang dijemur, santan segar dari kelapa parut, hingga tali pengikat dari serat batang pisang—kini banyak keluarga beralih pada bahan yang lebih praktis.

Daun pisang siap pakai dari pasar dan tali rafia menggantikan bahan-bahan tradisional demi efisiensi waktu. Kesibukan masyarakat perkotaan juga membuat Ma’burasa lebih sering dilakukan oleh keluarga inti di rumah masing-masing, atau bahkan digantikan dengan memesan burasa’ dari orang lain yang menyediakan jasa membuatnya.

Meski bentuk praktiknya berubah, inti dari tradisi ini masih bertahan: kehangatan keluarga, ajaran solidaritas, dan keinginan mempertahankan identitas kuliner Bugis-Makassar. Di banyak desa, versi lama dari Ma’burasa—dengan tungku kayu, ikatan kulit pisang, dan kerja kolektif—masih hidup dan dipertahankan sebagai cara untuk menjaga warisan leluhur.

Pada akhirnya, Ma’burasa bukan sekadar persiapan menjelang Lebaran. Ia adalah cara masyarakat Bugis-Makassar merawat ingatan tentang masa lalu, merayakan kebersamaan di masa kini, dan mengirimkan nilai kepada generasi berikutnya. Dalam setiap burasa’ yang disajikan di meja Lebaran, tersembunyi cerita tentang keluarga, perjalanan, adaptasi, dan keteguhan sebuah budaya untuk tetap hidup di tengah perubahan zaman.