Jadah dalam Upacara Adat Jawa
Dalam masyarakat Jawa, jadah memiliki makna yang melampaui sekadar makanan. Ia hadir di berbagai momen penting: dari syukuran keluarga, acara adat, hingga ritual kehidupan. Begitupun jadah blondo, yang turut menyertai upacara-upacara tradisi di Solo.
Salah satu momen yang paling dikenal adalah upacara tedak siti—ritual untuk memperingati pertama kalinya seorang bayi menjejakkan kaki di tanah. Jadah blondo menjadi bagian dari rangkaian sajian yang melambangkan awal perjalanan hidup seorang anak di dunia. Tekstur jadah yang lengket dianggap melambangkan harapan agar hubungan dalam keluarga tetap erat, harmonis, dan tidak mudah tercerai-berai.
Lihat postingan ini di Instagram
Dalam acara pernikahan Jawa, jadah juga menjadi simbol bersatunya dua keluarga. Ketika jadah disajikan, ada pesan tersirat yang ingin disampaikan: bahwa dua keluarga akan menyatu dengan kuat, sebagaimana lengketnya tekstur ketan yang menjadi bahan dasar makanan ini.
Melalui jadah blondo, nilai-nilai budaya dan filosofi masyarakat Solo tersampaikan tanpa perlu banyak kata—cukup lewat cita rasa dan bentuk penyajiannya.
Tradisi yang Hampir Padam
Meski jadah blondo memiliki kekayaan budaya dan cita rasa yang unik, keberadaannya kini semakin sulit ditemukan di Solo. Hanya sedikit pedagang yang masih mempertahankan tradisi membuat blondo secara manual. Proses yang memakan waktu panjang—sekitar tujuh jam memasak santan—membuat banyak pelaku kuliner beralih pada menu lain yang lebih praktis.
Di sisi lain, perubahan gaya hidup masyarakat urban membuat makanan tradisional yang membutuhkan proses lama menjadi kurang populer. Jadah blondo perlahan bergeser menjadi hidangan yang lebih sering dikenang daripada dikonsumsi.
Karena itu, untuk bisa mencicipi jadah blondo, seorang pengunjung Solo sering kali membutuhkan keberuntungan, kesabaran, atau rekomendasi dari warga lokal yang masih menjaga tradisi ini.
Namun ketika akhirnya berhasil menemukannya—mungkin di sebuah pasar pagi, atau di dapur kecil milik seorang ibu sepuh—pengalaman itu lebih dari sekadar menikmati makanan. Ia adalah perjalanan kecil dalam memahami bagaimana sebuah budaya bertahan melawan waktu.


