Setelah dialog selesai, barulah mandau diserahkan kepada pimpinan rombongan. Inilah bagian yang paling dikenal dari Tetek Pantan.
Pemotongan pantan dilakukan mengikuti arah tertentu yang disertai doa adat. Arah matahari menjadi bagian penting dalam simbolismenya. Potongan ke arah matahari terbenam atau pambelep dikaitkan dengan upaya membuang kesialan dan mara bahaya.
Sebaliknya, arah matahari terbit atau pambelum menjadi perlambang harapan akan kehidupan yang lebih baik—kesehatan, keberuntungan, umur panjang, dan rezeki.
Pemotongan ke bawah dan ke atas juga memiliki makna tersendiri. Bagian bawah dikaitkan dengan harapan agar seseorang dijauhkan dari bahaya, sementara arah atas menjadi simbol peningkatan kehidupan, kewibawaan, dan kemampuan menjadi pemimpin yang baik.
Ketika seluruh bagian pantan telah terpotong, penghalang secara simbolis telah disingkirkan. Tamu pun dinyatakan telah diterima secara adat.
Setelah Pantan Terbelah
Tetek Pantan biasanya tidak berlangsung dalam kesunyian. Alat musik tradisional mengiringi prosesi. Penari dengan pakaian adat tampil menyambut rombongan, sementara pemimpin adat membacakan doa. Dalam sejumlah pelaksanaan, doa dapat menggunakan Bahasa Sangiang, bahasa yang digunakan dalam konteks ritual adat tertentu untuk berkomunikasi dengan leluhur.
Di beberapa wilayah, rangkaian penyambutan juga dapat disertai penyembelihan hewan sebagai bagian dari penghormatan dan ungkapan syukur. Namun, pemotongan pantan bukanlah akhir dari ritual.
Ada tahapan yang disebut Mamapas, sebuah prosesi pembersihan simbolis terhadap tamu. Daun tangkawang papas digunakan dengan cara dipercikkan atau diusapkan kepada orang yang disambut.
Dalam pemaknaan tradisional, Mamapas bertujuan membersihkan pengaruh buruk dan memohon perlindungan selama tamu berada di wilayah tersebut. Harapannya mencakup kesehatan, keselamatan, umur panjang, serta kehidupan yang baik.
Pada beberapa pelaksanaan, prosesi juga dilengkapi penggunaan minyak kelapa dan bubuk putih sebagai bagian dari perlengkapan ritual.
Jika dilihat dari keseluruhan rangkaiannya, Tetek Pantan sesungguhnya merupakan sebuah ritual transisi. Tamu datang dari luar, berhenti di batas wilayah, menjalani serangkaian simbol adat, kemudian melewati penghalang setelah diterima oleh komunitas.
Batas fisik berupa batang kayu sekaligus menjadi batas simbolis. Setelah pantan terbelah, seseorang bukan lagi sekadar pendatang yang berdiri di luar. Ia telah diterima sebagai tamu.
Di situlah filosofi tamu adalah raja menemukan bentuknya dalam budaya Dayak. Hampir seluruh unsur masyarakat dapat terlibat, dari pemimpin adat dan tokoh masyarakat hingga warga yang ikut menyaksikan penyambutan.
Tetek Pantan pun terus hidup di tengah perubahan zaman. Kini, tradisi yang dahulu berkaitan dengan kepulangan pejuang dari medan perang telah menjadi bagian dari penyambutan tamu kehormatan, kegiatan pemerintahan, acara kebudayaan, hingga pengalaman wisata.
Bentuknya mungkin berubah, tetapi pesan dasarnya tetap bertahan.
Mandau yang membelah pantan bukan sekadar memotong sebatang kayu. Ia adalah simbol membuka jalan, menyingkirkan rintangan, dan menyatakan bahwa seorang tamu telah diterima dengan doa, penghormatan, serta harapan agar perjalanannya di tanah Dayak berlangsung dalam keselamatan.


