Di sebuah siang musim kemarau di pesisir utara Jawa Timur, tanah sawah yang mengering retak seperti peta tak berujung. Aroma debu yang terangkat angin bercampur bau garam dari laut yang tak jauh, sementara warga desa mulai berdatangan, membentuk lingkaran rapat di sekitar tanah lapang.
Di tengah mereka, dua lelaki bertelanjang dada berdiri saling berhadapan. Otot punggungnya menegang, pandangannya tajam, dan di udara menguar energi yang telah diwariskan ratusan tahun.
Saat itulah gulat okol dimulai—sebuah tradisi yang bagi sebagian orang hanyalah olahraga, tetapi bagi masyarakat Madura, Gresik, dan desa-desa sekitarnya, ia adalah bahasa doa, identitas, dan rekaman panjang hubungan manusia dengan alam.
Asal Usul Gulat Okol
Di antara banyak olahraga tradisional Nusantara, gulat okol merupakan salah satu yang paling tua, paling lokal, namun jejaknya justru paling terasa hidup. Tidak ada catatan tunggal yang benar-benar memastikan dari mana asalnya.
Beberapa sesepuh Madura menyebut bahwa tradisi ini lahir dari kebiasaan para petani dan nelayan untuk melatih ketangkasan tubuh. Sementara itu, sebagian warga di Gresik percaya bahwa gulat okol telah dimainkan sejak para leluhur mereka membuka lahan-lahan sawah di pesisir, sebagai bentuk latihan, hiburan, sekaligus perekat sosial.
Meskipun versi-versi asal-usul itu berbeda, pola permainannya—dan nilai yang dikandungnya—nyaris sama di semua tempat. Di Madura, anak-anak tumbuh dengan menonton ayah atau paman mereka turun ke arena tanah liat. Di Gresik, para pemuda desa mengenal okol bukan hanya sebagai ajang adu kuat, tetapi juga sebagai kanal untuk membuktikan kedewasaan di hadapan masyarakat.
Nilai-nilai itulah yang membuat tradisi ini bertahan. Tidak ada ruang berteriak lebih lantang daripada tanah lapang, tidak ada tempat belajar lebih baik selain hadapan langsung dengan lawan yang berdiri hanya beberapa jengkal dari diri kita.
Ketika Tanah Mengering dan Doa Naik ke Langit
Gulat okol tidak selalu dimainkan. Ia hadir di momen-momen yang hanya dianggap penting oleh masyarakat, terutama ketika musim kemarau panjang tiba—saat sumur-sumur menipis, sawah berubah keras, dan angin membawa kecemasan lebih tajam dari biasanya.
Sebuah penelitian oleh Abd Rahman Wahid dan tim menggambarkan bagaimana tradisi ini menjadi upacara memohon hujan. Ketika kemarau mencapai puncaknya, warga akan memilih sebuah sawah, membersihkan sedikit ruang, dan menjadikannya arena. Lelaki-lelaki dari berbagai penjuru desa datang.
Mereka tidak sekadar bertanding; mereka membawa harapan, ketahanan, dan semacam ritual keselarasan dengan alam. Okol, dalam makna kulturalnya, bukan hanya adu fisik, tetapi sebuah representasi ikhtiar: bahwa manusia telah berusaha—dengan tubuh, dengan nyali, dengan kebersamaan.
Di sekeliling arena, perempuan tua membawa kendi kecil berisi air yang semakin langka, sementara anak-anak menyaksikan dengan mata berbinar. Bagi mereka, hari itu bukan hanya pertandingan, tetapi peristiwa sosial yang mempertemukan keluarga, tetangga, dan warga dari desa-desa lain.
Di sanalah, dalam lingkaran tanah dan debu, persaudaraan terjalin, solidaritas dibangun, dan doa diam-diam naik ke langit melalui keringat dan teriakan para petarung.


