Ayunan Jodoh, Tradisi Kabuenga Wakatobi untuk Para ‘Jomblo’

Indonesia merupakan Negara kepulauan yang terdiri dari banyak pulau, suku bangsa, bahasa, agama, ras, dan adat istiadat yang memiliki ciri khas yang dapat dibedakan dari pakaianya, tutur bahasanya, pekerjaanya, serta norma kehidupanya. 

Mau nulis? Lihat caranya yuk!
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia!

Sebelum menjadi daerah Otonom Wilayah Kabupaten Wakatobi lebih di kenal sebagai kepulauan Tukang Besi. Pada masa sebelum kemerdekaan Wakatobi berada di bawah kekuasaan kesultanan Buton. Setelah Indonesia merdeka dan Sulawesi Tenggara berdiri sendiri sebagai satu Provinsi, Wilayah Wakatobi hanya berstatus beberapa Kecamatan dalam Wilayah pemerintahan Kabupaten Buton. 

Selanjutnya sejak 18 Desember 2003 Wakatobi resmi ditetapkan sebagai salah satu Kabupaten pemekaran di Sulawesi Tenggara. Kabupaten Wakatobi merupakan akronim dari empat pulau yaitu pulau Wanci, Kaledupa, Tomia, dan Binongko.

Tujuan Tradisi Kabuenga

Dalam kehidupan masyarakat Buton di daerah Wakatobi khusunya di Kecamatan Wangi-Wangi terdapat satu tradisi yang disebut Kabuenga. Tradisi Ini bukan hanya sebagai warisan budaya akan tetapi didalamnya memiliki kaitan erat dengan aspek ilmu-ilmu sosial, yang dalam keberlangsunganya terdapat interaksi sosial masyarakat dan sebagai suatu warisan leluhur yang masih dilestarikan hingga sekarang.

- Advertisement -
Tradisi Kabuenga
Tradisi Kabuenga

Tradisi Kabuenga sendiri merupakan salah satu upacara adat yang mempertemukan muda mudi setempat untuk mendapatkan pasangan sekaligus mempererat tali silaturahmi antara masyarakat setempat. Dalam tahap ini perkenalan lebih jauh antara keluarga laki-laki dan perempuan yang sudah bertunangan, dimana perempuan duduk dalam lapangan sebagai peserta Kabuenga dan keluarga laki-laki akan melakukan sombui kepada keluarga perempuan.

Sombui adalah proses pemberian seserahan kepada tunangan perempuan berupa barang, makanan, pakaian, uang dan kebutuhan lainnya sesuai dengan kesanggupan keluarga laki-laki.

Proses Pelaksanaan Tradisi Kabuenga

Ketika Gong Gendang berbunyi menandakan bahwa acara segerah dimulai. Seluruh peserta wajib mengenakan pakaian adat Wolio Wakatobi lengkap dengan sarung leja dan aksesorisnya. Pohon bambu sebaagi tiang ayunan,  tikar digunakan sebagai tempat duduk para peserta. 

- Advertisement -

Seluruh peserta Laki-laki, perempuan didampingi orang tua dan pemangku adat melakukan persembahan doa memohon keselamatan, keberkahan kepada Tuhan. Setelah doa usai, tamu-tamu penting dipersilahkan duduk di ayunan bersama pasangannya, diayun sembari melantunkan lagu Kadhandhio oleh para pemangku adat. Para peserta lainnya mengelilingi ayunan sebanyak 7 kali.

Baca Juga :  Tari Gandrang Bulo, Tarian Jenaka yang Penuh Makna

Setelah berkeliling, para perempuan muda menjual minuman kepada peserta laki-laki, tamu undangan ataupun penonton, pada tahap inilah laki-laki akan melihat perempuan yang ia sukai atau merupakan tahap perkenalan. Jika sang pemuda merasa tertarik pada salah satu peserta, maka akan memberitahu orang tuanya. 

Kemudian orang tua pemuda tersebut segera mendatangi perempuan yang disukai anaknya dengan memberikan bingkisan. Apabila si perempuan dan keluarganya menerima bingkisan tersebut, maka kedua pasangan ini akan diayun diiringi dengan bunyian gong gendang.

- Advertisement -

Proses terakhir yaitu Posombui, tahap inilah yang paling dinanti-nanti oleh masyarakat dan peserta kabuenga, ini merupakan tahap dimana peserta perempuan yang ikut terlibat dalam proses pelaksanaan kabuenga akan diberikan seserahan oleh keluarga laki-laki beserta kerabat-kerabat dekat dari laki-laki, seserahan itu berupa pakaian, makanan, perlengkapan mandi, uang dan sebagainya. Setelah rangakian acara selesai selanjutnya para tamu undangan dipersilahkan untuk mencicipi makanan yang telah disiapkan.

Nilai Sosial Budaya

Salah satu nilai sosial yang ditunjukan yaitu dengan solidaritas masyarakat dalam melaksanakan tradisi Kabuenga secara bersma. Perwujudan solidaritas sosial dalam rangka pelaksanaan kabuenga antara lain tercermin pada pola kerjasama dalam mepersiapkan ayunan sampai terlaksananya tradisi tersebut. Selain itu, proses penetapan waktu pelaksanaan sebelum melakukan tradisi Kabuenga yang dilakukan melalui forum pertemuan pendapat untuk mengambil kata sepakat atau biasa disebut Poromuromua

Nilai Agama

Adapun hubungan tradisi kabuenga dan agama, tentunya sebagai masyarakat di Kecamatan Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi yang mayoritas beragama muslim menyadari bahwa dalam ajaran agama dianjurkan bagi setiap individu memiliki pasangan untuk menikah, dan tradisi ini merupakan tahap untuk mewujudkan hal tersebut. 

Nilai Ekonomi 

Gambaran nilai ekonomi yang terlihat dalam tradisi kabuenga adalah adanya budaya bisnis atau usaha yang dimiliki oleh masyarakat setempat. Dimana dalam pelaksanaan tradisi ini masyarakat memanfaatkan kesempatan dengan membuka usaha untuk berjualan atau berdagang di sekitaran tempat acara berlangsung. Disamping itu nilai ekonomi tentu didapatkan oleh peserta yang melakukan posumbui, dengan mendapatkan barang-barang, pakaian, uang, makanan dan kebutuhan lainnya. 

Baca Juga :  Filosofi Rumah Adat Tongkonan
- Advertisement -