Sebuah batang kayu atau bambu terbentang melintang di jalan masuk kampung. Di hadapannya berdiri seorang tamu bersama rombongan. Di tangan, sebuah mandau telah disiapkan.
Ketika bilah senjata tradisional itu diayunkan dan batang kayu terbelah, sebuah jalan terbuka.
Bagi masyarakat Dayak, momen tersebut bukan sekadar seremoni penyambutan. Ia merupakan bagian dari Tetek Pantan, tradisi yang menggabungkan penghormatan kepada tamu, doa keselamatan, dan simbol pembebasan dari berbagai rintangan.
Tradisi ini masih dapat ditemukan di sejumlah wilayah Kalimantan, terutama Kalimantan Tengah. Pejabat negara, tokoh masyarakat, tamu pemerintahan, hingga wisatawan dapat menerima penyambutan dengan ritual tersebut ketika memasuki wilayah masyarakat Dayak.
Namun, di balik suasana meriah yang kini sering menjadi bagian dari acara kebudayaan, Tetek Pantan menyimpan sejarah yang jauh lebih tua.
Pada masa ketika kelompok-kelompok masyarakat Dayak masih hidup dalam komunitas yang terpisah dan konflik antarsuku masih terjadi, upacara ini berkaitan dengan kepulangan para pejuang dari medan perang.
Batang kayu yang dipasang sebagai penghalang menjadi perlambang rintangan yang telah mereka lewati. Ketika pantan dipotong, jalan menuju kampung kembali terbuka—sebuah simbol bahwa para pejuang telah berhasil melewati bahaya dan kembali membawa kemenangan.
Seiring perubahan zaman dan berkurangnya peperangan antarkelompok, makna tersebut mengalami transformasi. Tetek Pantan kemudian berkembang menjadi ritual penyambutan tamu kehormatan.
Namun, gagasan tentang membuka jalan dan menyingkirkan rintangan tetap bertahan.
Memotong Penghalang, Menyingkirkan Bahaya
Dalam bahasa Dayak Ngaju, tetek berarti memotong, sedangkan pantan merujuk pada batang kayu atau bambu yang dipasang melintang sebagai penghalang. Secara sederhana, Tetek Pantan berarti memotong penghalang.
Tetapi pantan bukan sekadar kayu. Dalam pemaknaan adat, benda tersebut merepresentasikan berbagai hambatan, kesialan, mara bahaya, maupun pengaruh negatif yang mungkin menyertai seseorang ketika memasuki wilayah adat.
Karena itu, pemotongan pantan menjadi simbol bahwa segala rintangan tersebut telah disingkirkan.
Sebelum mandau digunakan, prosesi biasanya diawali dengan perlengkapan adat dan doa yang dipimpin Demang atau Kepala Adat. Salah satu tahapnya adalah meminta pimpinan rombongan menginjak telur ayam kampung yang diletakkan di atas batu asah menggunakan kaki kanan.
Telur dapat dimaknai sebagai simbol awal kehidupan, sedangkan batu asah merepresentasikan keteguhan. Dari sana, prosesi bergerak menuju dialog adat.
Tamu tidak langsung dipersilakan masuk. Pemimpin adat terlebih dahulu menanyakan identitas, asal, jumlah rombongan, tujuan kedatangan, serta kegiatan yang akan dilakukan.
Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa menerima seseorang ke dalam wilayah adat bukan tindakan yang dilakukan tanpa konteks. Kedatangan tamu perlu diketahui dan dipahami.


