Di ujung timur Pulau Solor, Kabupaten Flores Timur, hidup sebuah komunitas maritim yang menyimpan sejarah panjang, nilai adat yang kuat, serta identitas budaya yang khas. Mereka adalah Suku Lamakera salah satu masyarakat pemburu paus tradisional paling terkenal di Kepulauan Sunda Kecil, berdampingan dengan Lamalera di Pulau Lembata.
Secara historis, masyarakat Lamakera mendiami wilayah bekas perkampungan sekaligus kerajaan Islam Lamakera. Seiring pertumbuhan penduduk dan kebijakan pemerintah pada masa pembentukan “Desa Gaya Baru”, wilayah hunian masyarakat ini kemudian dimekarkan menjadi dua desa administratif, yakni Watobuku dan Motonwutun, yang kini berada dalam wilayah Kecamatan Solor Timur.
Masyarakat Laut dan Tradisi Perburuan Paus
Letak geografis Lamakera yang berada di pesisir menjadikan laut sebagai pusat kehidupan masyarakatnya. Mayoritas warga menggantungkan hidup sebagai nelayan, sekaligus mewarisi tradisi perburuan paus yang telah dikenal luas hingga ke tingkat nasional dan internasional. Tradisi ini bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan praktik budaya yang sarat aturan adat, ritual, serta nilai spiritual.
Hampir seluruh masyarakat Lamakera memeluk agama Islam. Identitas keislaman ini telah mengakar sejak masa kerajaan dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial, adat, dan kepemimpinan masyarakat.
Dari Tanahwerang ke Lamakera
Menurut tutur lisan yang diwariskan secara turun-temurun, wilayah yang kini dikenal sebagai Lamakera dahulu bernama Tanahwerang. Nama Lamakera sendiri baru digunakan setelah terjadi naju baja perjanjian adat antara pendatang dari Sika Songge dan tuan tanah Tanahwerang. Saat itu, kawasan Lamakera masih berupa hutan belukar dan belum berpenghuni, sementara para sesepuh tuan tanah bermukim di wilayah Tanahwerang.
Kelompok pertama yang datang dan membuka perkampungan Lamakera adalah rombongan dari Sika Songge, yang kemudian dikenal sebagai sub-suku atau marga Lewokololodo (Lewoklodo). Kedatangan mereka menjadi penanda awal terbentuknya komunitas Lamakera.
Pembentuk Lamakera
Seiring waktu, Lamakera berkembang menjadi komunitas yang dihuni oleh tujuh sub-suku utama, masing-masing dengan latar belakang migrasi dan kisah sejarah yang beragam. Setelah Lewoklodo, kelompok yang datang berturut-turut adalah Ema Onang, Kiko Onang, Kampong Lamakera, Hari Onang, Lawerang, dan Kukun Onang.
Beberapa kedatangan dipicu oleh konflik dan kondisi politik. Klen Napo dari Ema Onang, misalnya, berasal dari Ile Napo di bagian barat Solor Timur dan menetap di Lamakera karena konflik internal keluarga. Klen Lawung dari Kiko Onang hijrah akibat situasi politik di Ternate. Sementara klen Maloko dari Hari Onang menetap setelah perahunya terhempas arus laut saat menangkap ikan nama Maloko kemudian digunakan sebagai penanda ingatan akan kampung halaman mereka.
Ada pula sub-suku Kampong Lamakera yang berasal dari Lonek Burak di Pulau Adonara (kini Desa Waiwerang II). Mereka dijemput oleh Patih Balauring dari sub-suku Kiko Onang dan kemudian diberi mandat untuk memerintah Kerajaan Lamakera. Peristiwa penting ini diabadikan dalam syair lilin tarian adat yang berbunyi:
“Komodike Pati Balauring Kiko toda raja, Kiko toda raja monggo beto limang sodi pangka,”
yang bermakna hubungan kekeluargaan Patih Balauring telah mengantar datangnya pemimpin, dengan suku Kiko sebagai pemandu raja.
Struktur Sosial dan Klen-Klen Adat
Sejak masa Raja Sangaji Dasi hingga kini, ketujuh sub-suku tersebut berkembang menjadi sejumlah klen kecil yang diakui secara adat dan memainkan peran penting dalam kehidupan sosial dan budaya Lamakera. Klen-klen ini antara lain Lewoklodo, Ema Onang, Kiko Onang, Kampong Lamakera, Hari Onang, Lawerang, dan Kukun Onang, dengan berbagai turunan seperti Maloko, Lawung, Beliko, Lolong, dan lainnya.
Keberadaan klen-klen ini menjadi fondasi struktur sosial masyarakat Lamakera, mengatur relasi kekerabatan, kepemimpinan adat, hingga pelaksanaan ritual budaya.
Kerajaan Islam Lamakera
Pada masa lampau, Lamakera merupakan sebuah kerajaan kecil di Pulau Solor. Kerajaan ini dipimpin oleh raja-raja beragama Islam. Raja pertama adalah H. Ibrahim Dasy yang memerintah pada 1932–1941 M, disusul oleh Raja H. Shaleh Ibrahim Dasy (1941–1946 M) yang lebih dikenal dengan gelar Raja Sangaji Dasy. Keduanya tercatat telah menunaikan ibadah haji, memperkuat identitas Islam dalam kepemimpinan kerajaan.
Kini, meski sistem kerajaan telah menjadi bagian dari sejarah, nilai-nilai adat, tradisi maritim, dan identitas Islam tetap hidup dalam keseharian masyarakat Lamakera menjadikannya salah satu komunitas adat yang unik dan berharga di kawasan timur Indonesia.


