Di tengah kepadatan Kota Mataram, Taman Air Mayura berdiri sebagai ruang jeda tempat di mana waktu seolah melambat. Pepohonan tua menaungi kolam luas yang tenang, memantulkan langit Lombok yang cerah. Tak banyak suara selain langkah pengunjung dan desir angin.
Namun di balik ketenangannya, taman ini menyimpan kisah panjang tentang kekuasaan, spiritualitas, dan perjumpaan budaya di Pulau Lombok. Taman Air Mayura bukan sekadar lanskap hijau peninggalan masa lalu. Ia adalah artefak hidup, jejak peradaban yang masih bernapas di tengah kota modern.
Ketika Air Menjadi Pusat Kekuasaan
Sejarah Mayura berakar pada abad ke-18, ketika Lombok berada di bawah pengaruh Kerajaan Karangasem dari Bali. Pada masa itu, taman ini dikenal sebagai Taman Kelepug, dinamai dari bunyi gemericik mata air alami yang mengisi kolam utama. Air, dalam kosmologi Hindu dan tradisi Nusantara, bukan hanya sumber kehidupan, melainkan simbol keseimbangan dan legitimasi kekuasaan.
Kolam besar di Taman Mayura dirancang sebagai pusat tata ruang. Dari sinilah kekuasaan dibayangkan bekerja: mengalir, menyejukkan, dan memberi kehidupan. Taman ini menjadi bagian dari kompleks istana sekaligus ruang representasi tempat raja menampilkan harmoni antara manusia, alam, dan semesta.
Balai Kambang dan Tradisi Musyawarah
Di tengah kolam berdiri Balai Kambang, bangunan terapung yang hingga kini menjadi ikon Mayura. Pada masanya, balai ini berfungsi sebagai ruang musyawarah dan peradilan kerajaan. Keputusan-keputusan penting diambil di atas air, seolah mengingatkan bahwa kebijakan harus lahir dari pikiran yang jernih dan tidak keruh oleh kepentingan sesaat.
Arsitektur Balai Kambang memperlihatkan percampuran estetika Bali dan lokal Lombok: atap bertingkat, ornamen Hindu, dan ruang terbuka tanpa dinding. Tidak ada sekat yang memisahkan penguasa dari alam. Kekuasaan ditampilkan bukan sebagai dominasi, melainkan sebagai bagian dari tatanan kosmis.
Simbol Keindahan
Nama Mayura mulai digunakan setelah renovasi besar pada abad ke-19. Dalam bahasa Sanskerta, kata ini berarti burung merak lambang keindahan, kewibawaan, dan perlindungan. Dalam cerita tutur setempat, merak-merak pernah dilepas di taman ini untuk menjaga kawasan istana dari gangguan ular.
Kisah ini menempatkan keindahan bukan sekadar hiasan, melainkan sebagai kekuatan penjaga. Mayura menjadi metafora tentang kekuasaan ideal: indah, berwibawa, dan selaras dengan alam.
Ruang Spiritual dan Jejak Toleransi
Di berbagai sudut taman, berdiri pura dan arca dewa-dewi Hindu. Unsur religius ini menegaskan fungsi Mayura sebagai ruang spiritual, tempat berlangsungnya upacara keagamaan dan ritual kerajaan. Namun seiring perubahan zaman, taman ini juga menjadi saksi perjumpaan budaya: Hindu Bali, tradisi lokal Sasak, dan kehidupan kota modern Mataram.
Kini, Mayura berada di lingkungan yang multikultural. Ia tidak lagi menjadi simbol dominasi satu kekuasaan, melainkan ruang bersama tempat sejarah dan keberagaman hidup berdampingan.
Dari Istana ke Ruang Publik
Runtuhnya sistem kerajaan tidak mengakhiri peran Taman Air Mayura. Ia bertransformasi menjadi ruang publik dan situs cagar budaya. Warga datang untuk beristirahat, pelajar mempelajari sejarah di luar kelas, wisatawan mencari ketenangan di tengah kota.
Mayura tidak menawarkan sensasi wisata yang hiruk-pikuk. Daya tariknya justru terletak pada kesederhanaan dan keheningan. Ia mengajak pengunjung untuk memperlambat langkah dan membaca sejarah melalui ruang, air, dan cahaya.
Ingatan yang Terus Mengalir
Taman Air Mayura menunjukkan bahwa sejarah tidak selalu disimpan dalam museum tertutup. Ia bisa hadir sebagai ruang hidup tempat masa lalu dan masa kini saling menyapa tanpa harus saling mengalahkan.
Air di kolam Mayura terus mengalir, seperti ingatan kolektif Lombok yang tak pernah benar-benar surut. Dalam ketenangannya, taman ini mengingatkan kita bahwa peradaban besar sering lahir dari kemampuan manusia menjaga keseimbangan: antara kuasa dan kebijaksanaan, antara keindahan dan tanggung jawab.


