Sakai, Suku Nomaden yang Selalu Bermukim di Tepi Aliran Sungai

Suku Sakai selalu menempati lokasi yang dekat dengan aliran sungai, karena air memang menjadi sumber kehidupan utama bagi manusia.

| www.dimensiindonesia.com | cerita Indonesia tentang keindahan alamnya, keunikan dan keberagaman budayanya |

Mau nulis? Lihat caranya yuk!
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia!

Menurut cerita lama, diketahui bahwa kata “Sakai” adalah kepanjangan dari Sungai, Kampung, Anak, dan Ikan. Nama Sakai sebenarnya memiliki arti “anak-anak yang hidup di sekitar sungai”. Arti nama Sakai cenderung mengacu pada pola kehidupan suku Sakai yang sering suka berpindah-pindah atau nomaden walaupun masih tetap di lingkup Kepulauan Riau.

Suku Sakai selalu menempati lokasi yang dekat dengan aliran sungai, karena air memang menjadi sumber kehidupan utama bagi manusia.

Mengenai asal usul dari Orang Sakai, beberapa ahli menyebutkan bahwa orang-orang Sakai berasal dari Pagaruyung. Pagaruyung adalah sebuah kerajaan Melayu yang pernah ada di daerah Sumatera Barat dan didirikan oleh Adityawarman.

Selain itu, beberapa ahli juga menyebutkan jika Suku Sakai merupakan percampuran antara orang Weddoid dan orang Minangkabau. Diketahui kedua suku tersebut yang telah bermigrasi sejak abad ke-14.

Ras Weddoid diketahui berasal dari Hindia bagian selatan dengan ciri fisik berkulit hitam dan berambut keriting. Tubuhnya juga cenderung berukuran sedang. Lain halnya dengan suku Minangkabau yang merupakan suku asli dari Sumatera Barat. Suku ini dikenal dengan adat matrilineal dan menonjol dalam bidang pendidikan dan perdagangan.

Oleh karena percampuran tersebut, orang-orang dari suku Sakai memiliki ciri-ciri fisik yang lebih didominasi dengan warna kulit cokelat dan cenderung agak gelap serta bentuk rambut yang berombak.

Kehidupan suku Sakai yang suka berpindah-pindah tempat ini tentu akan meninggalkan suatu kebudayaan yang cukup menarik di tempat-tempat yang pernah ditinggalinya. Hal ini bisa dilihat dari adanya benda peninggalan kebudayaan Sakai yang biasa digunakan untuk membantu mereka dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka di daerah pedalaman.

Hukum Adat Sakai

Rumah adat menjadi bagian penting bagi sebuah suku, karena rumah adat menjadi simbol pelestarian kebudayaan, termasuk pada Suku Sakai. Rumah adat dari suku ini berjenis rumah panggung yang awalnya terbuat dari kayu dari pohon ulin.

Baca Juga :  Mata Air Cipantan, Wisata Menyeramkan Majalengka

Namun seiring perkembangan zaman, saat ini rumah adat Suku ini telah terbuat dari bahan besi sebab kayu ulin saat ini sudah mulai langka.

Mau lihat keindahan Indonesia lainnya?
Yuk tekan tombolnya!

Bagikan

Yuk, sama-sama mengenalkan potensi keindahan Indonesia

BACA JUGA

- Advertisement -