Benteng Ferangi, Diam yang Menyimpan Riwayat Panjang Bangsa

Benteng Ferangi bukan sekadar bangunan peninggalan kolonial. Ia adalah simpul waktu, tempat ambisi bangsa asing, perlawanan lokal, dan pembentukan identitas Ambon bertaut menjadi satu.

Nagekeo yang Tak Banyak Orang Tahu, Temukan di Edisi Spesial Ini!

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia! Selengkapnya
X

Sore di pesisir Ambon selalu datang dengan tenang. Angin laut bergerak pelan, membawa aroma asin yang sejak ratusan tahun lalu tak pernah benar-benar berubah. Di salah satu sudut kota, berdiri sebuah bangunan tua yang tak lagi bersuara, tetapi menyimpan gema sejarah yang panjang Benteng Ferangi. Dari luar, ia tampak kokoh dan diam. Namun sesungguhnya, di balik dinding batu tebalnya, sejarah Indonesia pernah berdenyut keras.

Benteng Ferangi bukan sekadar bangunan peninggalan kolonial. Ia adalah simpul waktu, tempat ambisi bangsa asing, perlawanan lokal, dan pembentukan identitas Ambon bertaut menjadi satu. Di sinilah kisah tentang kekuasaan, perdagangan rempah-rempah, dan harga mahal dari sebuah penjajahan bermula.

Nama “Ferangi” sendiri lahir dari lidah masyarakat lokal. Sebutan ini digunakan untuk merujuk kepada orang-orang Eropa Portugis dan Belanda yang datang dari jauh, membawa senjata, agama, dan sistem kekuasaan baru. Bagi orang Ambon pada masa itu, Ferangi bukan sekadar orang asing, tetapi simbol perubahan besar yang mengubah arah hidup mereka. Nama ini kemudian melekat kuat, bahkan ketika catatan resmi menyebut benteng ini sebagai Fort Victoria atau Fort Nieuw Victoria, nama yang diberikan Belanda setelah mengambil alih kekuasaan.

- Advertisement -

Benteng ini pertama kali dibangun oleh bangsa Portugis pada tahun 1575, di pesisir Ambon yang strategis. Pilihan lokasi ini bukan kebetulan. Dari titik ini, Teluk Ambon dapat diawasi dengan mudah. Jalur pelayaran dapat dikendalikan. Dan yang terpenting, perdagangan rempah-rempah emas hijau yang membuat bangsa Eropa berlayar ribuan kilometer dapat dimonopoli.

Pada masa Portugis, Benteng Ferangi berfungsi sebagai pusat pemerintahan, gudang penyimpanan rempah-rempah, sekaligus benteng pertahanan. Dari sinilah kebijakan kolonial dijalankan, pajak dipungut, dan kekuasaan ditegakkan. Namun dominasi Portugis tak berlangsung lama. Tahun 1605, Belanda mengambil alih benteng ini tanpa pertempuran besar. Nama Victoria yang berarti kemenangan menjadi penanda awal kekuasaan baru.

Baca Juga :  Rinjani, Perjalanan Menembus Awan

Di tangan Belanda, benteng ini berubah menjadi pusat pemerintahan dan kekuatan militer VOC di kawasan timur Nusantara. Sebelum Batavia menjadi pusat utama, Ambon melalui Benteng Victoria pernah menjadi jantung kekuasaan kolonial Belanda. Dari ruang-ruang administrasi di balik tembok tebal inilah, kebijakan-kebijakan yang berdampak luas bagi Maluku dan wilayah sekitarnya dirumuskan.

- Advertisement -

Namun Benteng Ferangi tidak hanya menyimpan cerita tentang penguasa. Ia juga menyimpan kisah tentang perlawanan. Tentang rakyat Maluku yang tak pernah sepenuhnya tunduk. Salah satu nama yang tak bisa dilepaskan dari benteng ini adalah Thomas Matulessy Pattimura. Pahlawan nasional dari Maluku itu pernah ditahan di kompleks benteng ini sebelum akhirnya dieksekusi oleh pemerintah kolonial Belanda. Batu-batu tua yang kini sunyi itu, pernah menjadi saksi bisu detik-detik getir perjuangan seorang anak negeri.

Secara arsitektur, Benteng Ferangi menampilkan ciri khas benteng kolonial Eropa: tembok batu yang tebal dan tinggi, sudut-sudut pertahanan yang dirancang untuk meriam, serta ruang-ruang logistik dan administrasi yang tertata kaku. Di beberapa titik luar benteng, meriam-meriam tua masih berdiri, menghadap laut, seolah belum sepenuhnya melepaskan tugasnya menjaga wilayah ini. Meriam itu kini tak lagi mengaum, tetapi kehadirannya cukup untuk mengingatkan bahwa Ambon pernah menjadi arena perebutan kekuasaan global.

Seiring berjalannya waktu dan berakhirnya masa kolonial, kawasan di sekitar benteng berkembang menjadi ruang hidup masyarakat. Komunitas-komunitas lokal menetap, membentuk soa-soa yang kini menjadi bagian dari struktur sosial Ambon. Benteng Ferangi pun perlahan beralih fungsi dari simbol kekuasaan asing menjadi penanda sejarah kolektif.

- Advertisement -

Hari ini, Benteng Ferangi masih berdiri, tetapi dengan wajah yang berbeda. Ia menjadi bagian dari kompleks militer Kodam Pattimura, sehingga akses ke dalam area benteng sangat terbatas. Pengunjung tidak bisa bebas masuk dan menjelajah seluruh bagian bangunan. Namun justru keterbatasan ini membuat pengalaman berada di sekitarnya terasa lebih reflektif. Dari luar gerbang, dari trotoar yang menghadap Teluk Ambon, pengunjung dapat merasakan aura masa lalu yang kuat.

Baca Juga :  Snack Tradisional Sehat dan Simpel Untuk Temani Nonton Bola Malam Hari

Sore hari adalah waktu terbaik untuk berada di sini. Saat matahari perlahan turun, cahaya keemasan menyentuh dinding batu benteng. Laut berkilau pelan. Kota Ambon bergerak dengan ritme modernnya, sementara Benteng Ferangi tetap diam menyimpan cerita yang tak pernah benar-benar usai.

Bagi siapa pun yang datang, Benteng Ferangi bukan hanya objek foto atau catatan sejarah. Ia adalah pengingat bahwa identitas sebuah kota, bahkan sebuah bangsa, dibangun melalui perjalanan panjang yang tak selalu mudah. Bahwa di balik keindahan Ambon hari ini, ada lapisan-lapisan sejarah yang penuh luka, perjuangan, dan ketahanan.

Tips Kunjungan ke Benteng Ferangi

Jika ingin mengunjungi Benteng Ferangi, sebaiknya datang dengan niat untuk memahami, bukan sekadar melihat. Datanglah pada pagi atau sore hari, ketika cuaca lebih bersahabat dan cahaya alami paling indah untuk fotografi. Kenakan pakaian yang nyaman, karena pengalaman terbaik justru didapat dengan berjalan perlahan di sekitar area benteng dan pesisir.

Hormati aturan yang berlaku. Karena berada di kawasan militer, jangan memaksakan diri untuk masuk ke area terlarang. Jika datang bersama rombongan pendidikan atau penelitian, izin resmi harus diajukan terlebih dahulu. Bawalah kamera, tetapi juga sempatkan untuk berhenti sejenak mengamati, membayangkan, dan merasakan.

Berinteraksilah dengan warga sekitar. Cerita tentang Benteng Ferangi tidak hanya tersimpan di arsip, tetapi juga hidup dalam ingatan masyarakat Ambon. Dari merekalah, sejarah sering kali terdengar lebih manusiawi.

Benteng Ferangi mengajarkan satu hal penting: bahwa bangunan tua bukan sekadar masa lalu. Ia adalah cermin tempat kita bercermin untuk memahami siapa kita hari ini, dan ke mana kita akan melangkah sebagai bangsa.