Pagi berselimut udara lembap ketika kabut tipis masih menggantung di lereng-lereng Malang. Dari sebuah sudut kota yang perlahan terbangun, aroma santan yang menyatu dengan bara arang menyelinap keluar dari pintu kayu sebuah warung kecil. Di dalamnya, seorang ibu tengah meracik sesuatu yang oleh warga setempat dianggap sebagai salah satu jejak kuliner paling tua dan paling rendah hati di Malang: orem-orem.
Sekali melihatnya, hidangan ini memang tampak sederhana—potongan ketupat, tempe Malang, ayam suwir, tauge segar, lalu disiram kuah santan kuning yang pekat dan harum. Namun, seperti banyak kuliner Nusantara lain, kesederhanaan itu hanyalah permukaan.
Di balik semangkuk orem-orem, tersimpan kisah ketahanan, kreativitas, dan filosofi hidup masyarakat Malang yang terbangun dari masa-masa paling sulit dalam sejarah mereka.
Aroma dari Masa Krisis
Jejak orem-orem dimulai pada era pendudukan Jepang, antara tahun 1942 hingga 1945, ketika bahan pangan menjadi langka dan kehidupan masyarakat bergerak dalam kesabaran dan improvisasi. Di tengah krisis, tempe menjadi penyelamat. Ia mudah diproduksi, terjangkau, dan kaya protein—sebuah anugerah di masa kelaparan.
Tauge juga hadir sebagai solusi alami; sayuran lain sulit diakses karena isolasi geografis Malang yang dikelilingi pegunungan, tetapi tauge bisa tumbuh dalam waktu singkat bahkan di pekarangan rumah.
Santan kemudian mengambil perannya sebagai pengikat rasa. Bersama kunyit, cabe, dan kencur, ia mengubah apa yang seadanya menjadi sesuatu yang bernilai rasa dan martabat. Dari keterbatasan itu, lahirlah orem-orem—hidangan yang selembut harapan, sekaligus sekuat masyarakat yang menciptakannya.
Pada awalnya, hidangan ini hanya muncul dalam momen syukuran dan pernikahan, sebagai simbol rasa terima kasih atas berkah yang masih tersisa. Orem-orem menjadi makanan yang menghangatkan, bukan hanya tubuh, tetapi juga semangat komunal yang tak pernah padam.
Dari Dapur Rumah ke Warung Tradisional
Lihat postingan ini di Instagram
Memasuki 1980-an, orem-orem mulai menapaki perjalanan baru. Para pedagang mulai membawanya ke jalan-jalan Kota Malang, menjadikannya salah satu menu sarapan favorit. Di antara ruko-ruko tua dan gerobak sederhana, ketupat raksasa yang tergantung menjadi pertanda: di warung itulah orem-orem masih hidup.


