Sejarah dan Filosofi Rumah Limas, Rumah Adat Sumatera Selatan

Rumah Limas adalah rumah tradisional Provinsi Sumatera Selatan. Gaya Rumah Limas seperti rumah panggung, memiliki lima tingkat yang berfilosofi dengan menyesuaikan geografi, dan kepercayaan masyarakat setempat.

Mau nulis? Lihat caranya yuk!
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia!

Rumah Limas, sebagai rumah adat khas Sumatera Selatan, mengusung bentuk panggung dengan atap berbentuk limas. Keunikan lainnya terletak pada lantai bengkilas atau lantai bertingkat-tingkat, yang memiliki fungsi dan makna filosofi yang berbeda di setiap tingkatannya.

Rumah adat ini, berasal dari Palembang, Sumatera Selatan, menjadi representasi kaya akan tradisi dan filosofi dalam arsitektur rumah adat di Indonesia. Kata “Limas” dalam nama rumah adat merupakan gabungan dari dua kata, yaitu “lima” dan “emas,” yang membawa makna:

  1. Keagungan dan Kebesaran
  2. Rukun dan Damai
  3. Adab dan Sopan Santun
  4. Aman, Subur, dan Sentosa
  5. Makmur dan Sejahtera

Sejarah Rumah Limas

Sejarah Rumah Limas terkait erat dengan Kerajaan Sriwijaya dan masa kesultanan Palembang. Meskipun usianya ratusan tahun, tanggal pasti pembangunan rumah adat ini tidak dapat dipastikan.

- Advertisement -

Sejumlah sumber menyebut Pangeran Syarif Abdurrahman Al-Habsyi, seorang bangsawan Arab, membangun rumah Limas pada tahun 1830, slesai pada 1835. Meski telah dipindahkan beberapa kali, rumah Limas masih berdiri kokoh dan menjadi ikon Kota Palembang.

Kini, sebagai prototipe rumah adat Sumatera Selatan, rumah Limas dipamerkan di Museum Balaputera Dewa Palembang, menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin menggali warisan budaya tersebut.

Filosofi Adat Limas

Rumah Limas, rumah adat Sumatera Selatan, adalah bangunan berbentuk limas dengan lima tingkatan yang mencerminkan filosofi, geografi, dan kepercayaan lokal. Dibangun dengan gaya panggung, rumah ini memiliki luas 400-1000 meter persegi dan sering dipinjamkan untuk acara adat.

- Advertisement -

Material utama rumah ini adalah kayu, dengan pemilihan kayu berdasarkan karakter dan kepercayaan masyarakat setempat. Jenis kayu termasuk unglen untuk pondasi, Seru untuk kerangka, dan Tembesu untuk dinding, lantai, jendela, dan pintu, dihiasi dengan seni ukiran mencerminkan kebudayaan lokal.

Baca Juga :  Songkok To Bone, Ranah Karya Budaya Masyarakat Bone
Rumah Adat Sumatera Selatan
Rumah Adat Sumatera Selatan

Rumah Limas memiliki lima tingkatan (Kekijing) dengan filosofi unik. Tingkat pertama, Pagar Tenggalung, digunakan untuk menerima tamu pada acara adat. Tingkat kedua, Jogan, adalah tempat berkumpul bagi keluarga laki-laki. Kekijing ketiga hingga kelima digunakan oleh tamu undangan khusus, orang yang dihormati, dan pemilik rumah yang memiliki kedudukan tinggi.

Ornamen pada atap, seperti simbar berbentuk tanduk dan melati, memiliki makna mendalam yang kadang digunakan untuk menangkal petir. Melati tersebut mewakili keagungan dan kerukungan, simboll dua tanduk bermakna sosok Adam dan Hawa, tiga tanduk berarti matahari-bulan-bintang, empat tanduk berarti sahabat nabi, dan simbar dengan lima tanduk melambangkan rukun Islam.

- Advertisement -

Rumah Limas dibangun menghadap timur dan barat, dengan bagian barat (Matoari Edop) melambangkan matahari terbit dan kehidupan baru, sementara bagian timur (Matoari Mati) melambangkan matahari terbenam dan akhir kehidupan.

Meskipun jarang dibangun sebagai tempat tinggal saat ini, Rumah Limas tetap dapat ditemui di Museum Balaputera Dewa, Palembang, menjadi saksi warisan budaya dan arsitektur yang kaya dari Sumatera Selatan.

Fakta Unik Rumah Limas

Provinsi Sumatera Selatan membanggakan kekayaan alamnya yang melimpah, dan salah satu aset utamanya adalah keanekaragaman kayu berkualitas tinggi yang dapat bertahan hingga berabad-abad lamanya.

Keajaiban Kayu Sumatera Selatan

Rumah Limas, sebagai keindahan arsitektur khas Sumatera Selatan, tidak terlepas dari keelokan bahan utamanya, yaitu kayu asli Sumatera Selatan. Pemilihan kayu ini tidak hanya didasarkan pada karakteristiknya, tetapi juga mengacu pada kepercayaan mendalam masyarakat setempat.

Kayu mati, yang dihormati sebagai elemen yang tidak boleh diinjak menurut kepercayaan lokal, ditempatkan dengan bijak dalam pembuatan rangka Rumah Limas. Sifat tahan lama dan keunikan kayu mati memberikan kekuatan struktural yang luar biasa pada rumah tradisional ini.

Baca Juga :  Ini Tongkonan Tertua di Toraja, Beratapkan Batu dan Berusia 700 Tahun

Dalam hal pondasi, kayu unglen atau ulin menjadi pilihan utama karena kekuatannya yang teruji dan ketahanannya terhadap air. Sedangkan untuk lantai, dinding, jendela, dan pintu, kayu tambesu dipilih karena kokohnya dan manfaat ekologis yang dimilikinya.

Sistem Pasak

Rumah Limas mengadopsi sistem konstruksi yang mirip dengan rumah panggung tradisional Indonesia. Di sini, pasak menjadi elemen kunci yang menghubungkan setiap bagian rumah.

Keunggulan pasak terletak pada kekuatannya yang tak tertandingi, memungkinkan rumah ini untuk dibongkar, dipindahkan, dan dirakit kembali tanpa menggunakan paku besi.

Tiang Penyangga Tinggi

Rumah adat Sumatera Selatan ini dibangun dengan tiang penyangga setinggi 1,5 hingga 2 meter di atas permukaan tanah. Pemilihan desain ini tidak dilakukan tanpa alasan, mengingat beberapa daerah di Sumatera Selatan berdekatan dengan rawa.

Tinggi tiang penyangga berfungsi untuk mencegah air masuk ke dalam rumah, menjaga kekeringan dan mempertahankan keaslian struktur rumah.

Ornamen Khas

Rumah Limas tidak hanya memukau dengan kekuatan struktur, tetapi juga dengan ornamen penghiasnya yang sarat makna. Simbar, hiasan pada bagian atap, memiliki simbolisme mendalam.

Bunga melati melambangkan keagungan dan keharmonisan, sedangkan Simbar bertanduk mengandung berbagai makna seperti simbol Adam dan Hawa, matahari, bulan, bintang, empat sahabat nabi, dan lima rukun Islam. Lebih dari sekadar hiasan, Simbar juga berfungsi sebagai penangkal petir, memperkuat aspek keamanan rumah.

Filosofi Sebagai Pondasi

Rumah Limas hanya dibangun menghadap dua arah, timur dan barat. Bagian yang menghadap timur disebut “Matoari Edop,” melambangkan awal kehidupan manusia. Sementara yang menghadap barat disebut “Matoari Mati,” menggambarkan akhir dari perjalanan kehidupan.

Filosofi ini menjadi pondasi kuat bagi pandangan hidup dan kepercayaan masyarakat Sumatera Selatan.

Baca Juga :  Asal Usul Upacara Ngayu Ayu, Bentuk Penghormatan Masyarakat Sembalun
- Advertisement -