Ma’doda, Aroma Ketan dan Bambu yang Menyatukan Warga Mandar

Mengenal Ma'doda, tradisi memasak doda' dari beras ketan dan santan dalam bambu yang menjadi simbol syukur, kebersamaan, dan toleransi warga Desa Riso, Polewali Mandar.

Nagekeo yang Tak Banyak Orang Tahu, Temukan di Edisi Spesial Ini!

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia! Selengkapnya
X

Tradisi bertukar makanan itu menjadi bagian dari perayaan.

Kini, jumlah tamu yang datang setiap Maulid semakin banyak. Tradisi ma’doda bahkan telah menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat dari luar desa. Setiap rumah dapat menyiapkan sedikitnya 25 kilogram beras ketan, bahkan sebagian warga mengolah hingga satu kuintal beras untuk memenuhi kebutuhan tamu dan keluarga.

Dalam satu kilogram beras ketan, masyarakat dapat menghasilkan sekitar tiga hingga empat batang doda’, tergantung ukuran bambu yang digunakan.

- Advertisement -

Namun, semakin banyaknya doda’ yang dibuat tidak hanya menunjukkan besarnya perayaan. Ada nilai lain yang tetap dijaga masyarakat: semakin banyak makanan yang disiapkan, semakin banyak pula yang dapat dibagikan.

Di sinilah ma’doda menemukan makna yang melampaui cita rasa.

Tradisi tersebut menjadi wujud rasa syukur masyarakat atas kehidupan dan rezeki yang mereka terima. Sekaligus menjadi doa agar kehidupan pada masa mendatang dipenuhi keberkahan.

- Advertisement -

Menariknya, kebersamaan dalam ma’doda juga melampaui batas agama.

Warga Desa Riso yang berbeda keyakinan turut membantu dalam berbagai tahapan pelaksanaan tradisi. Mereka ikut mencari bambu, mengumpulkan kayu bakar, hingga membantu memanggang doda’. Dalam perayaan yang berakar pada peringatan Maulid Nabi, keterlibatan seluruh warga justru menjadi salah satu kekuatan tradisi ini.

Ma’doda memperlihatkan bagaimana sebuah kebudayaan dapat menjadi ruang pertemuan.

- Advertisement -

Orang-orang yang tinggal jauh akan berusaha pulang ketika perayaan Maulid tiba. Keluarga berkumpul, tetangga saling mengunjungi, dan tamu datang untuk menikmati suasana kampung yang dipenuhi aktivitas memasak.

Di antara bara api dan bambu yang tersusun berjajar, tradisi lama itu terus menemukan kehidupannya.

Doda’ mungkin hanya terdiri dari ketan, santan, garam, daun pisang, dan bambu. Tetapi bagi masyarakat Desa Riso, setiap batang doda’ membawa cerita yang lebih besar.

Baca Juga :  Buroncong, Kue Pesisir Makassar yang Menyimpan Rasa dari Masa Lalu

Tentang leluhur yang pertama kali mengajarkan cara memasaknya. Tentang tangan-tangan yang bekerja bersama. Tentang keluarga yang pulang kampung. Tentang tetangga yang saling berbagi makanan. Dan tentang masyarakat yang memilih menjaga kebersamaan di tengah perubahan zaman.

Ketika bambu akhirnya dibuka dan aroma ketan matang menguar ke udara, yang tersaji bukan hanya sebuah makanan tradisional.

Di dalamnya, ada rasa dari tanah Mandar.

Ada api, bambu, kelapa, dan ketan.

Namun yang paling lama tinggal dalam ingatan, mungkin adalah rasa kebersamaan yang membuat tradisi ma’doda terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.

- Advertisement -

Majalah Dimensi Indonesia:
Edisi Nagekeo

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.

Unduh majalah