Aroma bambu yang dipanaskan perlahan di atas bara api mulai memenuhi udara Desa Riso. Di dalam ruas-ruas bambu sepanjang sekitar 60 sentimeter, beras ketan, santan kelapa, dan sedikit garam sedang mengalami perubahan. Panas api perlahan mematangkan bahan-bahan sederhana itu, sementara daun pisang yang melapisi bagian dalam bambu memberikan aroma khas yang kelak menjadi bagian dari cita rasa doda’.
Di Desa Riso, Kecamatan Tapango, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, memasak doda’ bukan sekadar urusan dapur. Ketika peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tiba, kegiatan memasak nasi ketan dalam bambu itu berubah menjadi sebuah peristiwa sosial yang melibatkan hampir seluruh kampung.
Tradisi tersebut dikenal sebagai ma’doda.
Warisan yang diyakini telah dilakukan sejak masa nenek moyang itu menjadi salah satu cara masyarakat Desa Riso merayakan Maulid. Namun, di balik kepulan asap dari bara api dan deretan bambu yang dipanggang, terdapat cerita tentang rasa syukur, gotong royong, silaturahmi, hingga toleransi yang terus dipelihara masyarakat.
Bahan utama doda’ sebenarnya sederhana. Beras ketan yang telah dibersihkan dimasukkan ke dalam bambu, kemudian dicampur santan kelapa yang telah diberi sedikit garam. Sebelum bahan tersebut dimasukkan, bagian dalam bambu terlebih dahulu dilapisi daun pisang.
Lapisan daun itu memiliki fungsi penting. Selain mencegah ketan bersentuhan langsung dengan dinding bambu, daun pisang juga memberikan aroma alami selama proses pemanggangan.
Setelah bambu terisi, bagian atasnya ditutup menggunakan sabut kelapa agar santan dan ketan tidak tumpah. Ruas-ruas bambu kemudian disusun di atas bara api dan dipanggang selama kurang lebih 30 menit.
Namun, memasak doda’ membutuhkan lebih dari sekadar menunggu api bekerja.
Bambu harus diputar secara berkala agar panas tersebar merata. Api juga tidak boleh terlalu besar karena dapat membuat bambu cepat hangus sebelum ketan di dalamnya matang sempurna. Pemilihan bambu menjadi bagian penting dalam proses ini.
Masyarakat Desa Riso menggunakan jenis bambu lokal yang dikenal sebagai tallang. Karakternya yang tipis dan sesuai untuk proses pemanggangan membuat bambu ini dipilih secara khusus sebagai wadah memasak doda’.
Persiapan tradisi ma’doda bahkan bisa dimulai sekitar sepuluh hari sebelum perayaan Maulid. Warga menyiapkan beras ketan, kelapa, kayu bakar, hingga mencari bambu tallang yang akan digunakan.
Di tengah proses tersebut, pembagian peran berlangsung secara alami.
Kaum perempuan umumnya bertugas menyiapkan bahan dan memasukkannya ke dalam bambu. Sementara para lelaki mencari kayu dan bambu, lalu menangani proses pemanggangan. Dari halaman rumah hingga dapur dan tempat pembakaran, setiap orang memiliki peran.
Tradisi kuliner kemudian berubah menjadi ruang kerja bersama.
Bagi masyarakat Mandar, makanan sering kali tidak berdiri sendiri. Di balik sebuah hidangan, terdapat hubungan antara manusia dengan alam dan sesamanya. Kelapa berasal dari kebun, bambu dari lingkungan sekitar, kayu menjadi sumber api, sementara ketan menjadi bahan yang menyatukan seluruh proses.
Semua unsur itu kemudian bertemu di dalam satu ruas bambu.
Ketika matang, doda’ biasanya disajikan kepada keluarga, tetangga, kerabat, dan para tamu yang datang ke Desa Riso. Dahulu, setiap rumah membuat doda’ untuk kemudian saling bertukar dengan tetangga.


