Pagi itu, kabut tipis masih menggantung di atas perbukitan Mandailing Natal. Udara lembap membawa aroma tanah basah dan wangi kelapa parut yang sedang disangrai di dapur-dapur kayu. Dari balik jendela bambu, terdengar suara pelan lesung ditumbuk — ritme yang menandai awal hari di kampung.
Di tengah ruangan berlantai tanah, seorang perempuan tua menggenggam adonan tepung beras dan kelapa dengan kedua tangannya. Perlahan, ia mengepalkannya hingga padat. “Inilah itak pohul-pohul,” ujarnya sambil tersenyum. “Kue ini, seperti hidup kami — harus dipegang erat agar tidak tercerai.”
Jejak dari Masa Kerajaan
Jauh sebelum modernitas menjangkau lembah dan hutan Mandailing, itak pohul-pohul sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakatnya. Namun, dulunya kue ini bukan sekadar kudapan rumahan. Ia hadir di ruang-ruang kerajaan dan upacara adat, disajikan sebagai simbol kehormatan bagi para raja dan tamu penting.
Nama itak pohul-pohul berasal dari bahasa Mandailing: itak berarti kue, sedangkan pohul berarti kepalan. Filosofinya sederhana, tapi dalam — menggenggam kehidupan dengan erat, tanpa kehilangan kelembutan. Proses pembuatannya dilakukan sepenuhnya dengan tangan, tanpa alat bantu apa pun. Setiap kepalan mewakili doa dan niat yang dikukuhkan oleh jemari pembuatnya.
Kepalan yang Mengikat Kekerabatan
Dalam tradisi Marhusip — pertemuan keluarga antara calon mempelai laki-laki dan perempuan — itak pohul-pohul menjadi suguhan sakral. Bukan hanya sebagai hidangan, tapi sebagai lambang penyatuan dua keluarga. Teksturnya yang padat menggambarkan kekuatan ikatan kekerabatan, sebagaimana keluarga yang diharapkan kokoh menghadapi ujian kehidupan.
Peneliti Abdul Amin Siregar mencatat dalam Jurnal Tuturan bahwa kue ini dahulu disajikan untuk para raja Batak Angkola di Padang Lawas Utara. Dengan demikian, itak pohul-pohul bukan hanya hasil olahan tepung dan kelapa, tapi juga manifestasi nilai sosial dan spiritual yang hidup dalam masyarakat Sumatera Utara.
Lebih dari Sekadar Kue
Dalam upacara mangharoan jabu — tradisi menempati rumah baru — itak pohul-pohul memiliki peran simbolik. Kue ini tidak hanya dimakan, melainkan juga dioleskan ke dinding rumah. Bagi masyarakat Mandailing, tindakan itu berarti permohonan agar rumah selalu hangat, terlindung dari mara bahaya, dan diberkahi rezeki.
Seperti ditulis oleh Maya Sari Harahap dkk. dalam Jurnal Kajian Linguistik dan Sastra, praktik ini memperlihatkan bagaimana makanan dapat berfungsi sebagai bahasa spiritual, penghubung antara manusia, leluhur, dan alam semesta.
Rasa yang Mengandung Kenangan
Rasa itak pohul-pohul tak mudah dilupakan. Manisnya gula berpadu dengan aroma khas kelapa parut yang disangrai di atas bara api. Ketika digigit, bagian luar terasa padat namun bagian dalam lembut dan bertekstur halus — seolah menggambarkan perpaduan antara keteguhan dan kelembutan hati orang Mandailing.
Kini, itak pohul-pohul mulai jarang terlihat di pasar-pasar tradisional. Namun di setiap rumah yang masih memegang adat, kue ini tetap dibuat, terutama saat upacara adat atau hari besar keluarga. Bagi masyarakat Mandailing, setiap kepalan kecil itu bukan sekadar camilan, melainkan pesan dari masa lalu — tentang keteguhan, kebersamaan, dan cinta yang diwariskan turun-temurun.
Ketika aroma kelapa dan tepung beras itu memenuhi udara pagi, kita tahu: itak pohul-pohul bukan hanya kue. Ia adalah doa yang bisa dimakan.


