Jepa Mandar, Roti Pipih yang Menjadi Penyelamat Kala Paceklik

Terlahir dari keterbatasan, jepa kini menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya suku Mandar.

Nagekeo yang Tak Banyak Orang Tahu, Temukan di Edisi Spesial Ini!

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia! Selengkapnya
X

Di tanah Mandar, Sulawesi Barat, ada satu makanan tradisional yang aromanya mampu membangkitkan kenangan – dan tentu saja selera makan. Namanya jepa. Sebagian orang menyebutnya piza khas suku Mandar, sementara yang lain menamainya roti pipih. Namun, bagi masyarakat Mandar sendiri, jepa adalah bagian tak terpisahkan dari hidup mereka sejak ratusan tahun lalu.

Jepa, yang dieja juga sebagai yepa, memang terbuat dari bahan sederhana: singkong dan kelapa. Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan cerita tentang daya tahan, kreativitas, dan kearifan lokal suku Mandar dalam menghadapi masa-masa sulit.

Lahir dari Kekeringan dan Kelaparan

Tak ada satu catatan pasti tentang kapan tepatnya jepa mulai dibuat. Namun, cerita turun-temurun menyebut bahwa makanan ini tercipta di masa kekeringan panjang melanda tanah Mandar. Saat itu, beras menjadi barang mewah yang hanya bisa dinikmati keluarga kerajaan. Rakyat jelata pun harus mencari sumber karbohidrat lain demi bertahan hidup.

- Advertisement -

Di tanah pesisir Mandar yang kering, singkong tumbuh subur tanpa banyak air. Warga kemudian memadukan parutan singkong dengan kelapa – pohon yang juga tumbuh melimpah di wilayah mereka.

Campuran dua bahan itu kemudian dipanggang menjadi roti pipih. Jadilah jepa, makanan pokok alternatif yang bukan sekadar mengganjal perut, tetapi juga menguatkan mereka melewati masa-masa genting.

Bekal Andalan Para Pelaut Mandar

Bukan hanya petani dan rakyat biasa, para pelaut Mandar pun menjadikan jepa sebagai bekal utama saat melaut berhari-hari. Sebelum dibawa, jepa dijemur hingga kering agar tahan lama. Dalam pelayaran, jepa kering dihancurkan lalu dicampur dengan lauk apa pun yang mereka bawa, menjadi santapan sederhana yang mengenyangkan di tengah lautan lepas.

- Advertisement -

Bagi para nelayan, jepa adalah siasat cerdas melawan kelaparan. Sementara bagi sejarawan kuliner, jepa adalah bukti bagaimana kreativitas tradisional mampu mengubah situasi krisis menjadi inovasi pangan yang bertahan lintas generasi.

Baca Juga :  Belacan Depik, Kuliner Warisan dari Lautan Purba

Rahasia Dapur Tradisional

Jepa sekilas mirip piza: bulat, pipih, dan hangat saat baru diangkat dari wajan tanah liat. Namun bahan bakunya berbeda jauh. Singkong yang akan diolah terlebih dahulu diparut menggunakan parutan kasar manual. Air hasil parutan singkong kemudian diperas menggunakan pangepeq, alat peras tradisional dari kayu, untuk menghilangkan racun berbahaya.

- Advertisement -

Muhammad Ridwan Alimuddin, jurnalis sekaligus penulis budaya Mandar, menekankan pentingnya proses pemerasan ini dalam bukunya Polewali Mandar: Alam, Budaya, Manusia. Setelah airnya dibuang, ampas singkong diaduk bersama kelapa parut, lalu dipanggang di atas panjepangang, piring tanah liat bulat. Takaran satu jepa biasanya sebatok kelapa penuh.

Teman Bau Peapi dan Secangkir Kopi

Rasanya yang gurih membuat jepa cocok dinikmati dengan berbagai hidangan. Paling sering, jepa disantap bersama bau peapi, makanan laut khas Mandar berbahan dasar ikan segar yang dibumbui rempah.

Perpaduan gurih jepa dan kuah bau peapi yang hangat menghadirkan sensasi makan tradisional Mandar yang autentik. Namun, tak sedikit pula yang menyantap jepa bersama gula merah sebagai sarapan manis, atau menjadikannya teman setia saat meneguk kopi pagi.

Lebih dari Sekadar Makanan

Di pasar-pasar tradisional Polewali Mandar dan Majene, jepa dijajakan oleh para perempuan yang melestarikan resep turun-temurun ini. Jepa bukan hanya makanan sehari-hari, tetapi juga hadir dalam upacara adat dan ritual tradisional suku Mandar.

Bahkan, pemerintah Sulawesi Barat menjadikan jepa salah satu ikon kuliner dalam berbagai festival untuk mempromosikan warisan budaya mereka.

Bagi sebagian warga, jepa bukan hanya sumber energi, tetapi juga sumber rezeki. Ridwan Alimuddin dalam bukunya Mandar Nol Kilometer: Membaca Mandar Lampau dan Hari Ini menuliskan kisah seorang penjual jepa yang berhasil menunaikan ibadah haji dari hasil berjualan jepa.

Baca Juga :  17 Kuliner Khas Sulawesi Utara, Dari Kawok hingga Paniki

Sebuah bukti nyata bahwa makanan tradisional ini bukan sekadar roti pipih, melainkan juga pembawa berkah bagi masyarakat Mandar.