Pagi di Enrekang selalu datang dengan embun yang lembut menyelimuti lereng pegunungan. Di sela kabut tipis, asap dapur perlahan menanjak dari rumah-rumah kayu. Dari balik jendela bambu, terdengar suara ulekan bertalu pelan—pertanda bumbu rempah sedang ditumbuk dengan sabar.
Ketumbar, kunyit, serai, kemiri, jahe, dan lengkuas berpadu menjadi harmoni wangi yang khas. Inilah awal mula lahirnya Ayam Bundu-bundu, hidangan yang tak hanya menggoda lidah, tapi juga menuturkan kisah tentang waktu, tradisi, dan rasa.
Masyarakat Enrekang percaya, memasak Ayam Bundu-bundu bukan sekadar soal resep. Ini adalah ritual kecil yang menghubungkan mereka dengan leluhur. Daging ayam kampung dipotong kecil-kecil, dimasak perlahan di atas tungku kayu, sementara bumbu kuningnya menyelimuti setiap serat daging hingga meresap sempurna. Tidak ada alat ukur di dapur tradisional ini—semuanya dilakukan dengan “rasa”, seperti yang diajarkan nenek moyang.
Ketika ayam mulai menguning keemasan, rempah yang telah digoreng garing berubah menjadi serabut halus. Serabut itu—yang oleh masyarakat disebut “bundu-bundu”—menjadi ciri khas hidangan ini.
Teksturnya renyah, aromanya menggoda, dan rasa gurihnya sulit dilupakan. Disajikan bersama nasi hangat, sambal tomat segar, serta lalapan dari kebun belakang rumah, sepiring Ayam Bundu-bundu mampu menghadirkan kehangatan yang melampaui rasa lapar.
Menikmati Ayam Bundu-bundu di Enrekang berarti ikut merasakan denyut kehidupan pegunungan: sederhana, hangat, dan penuh rasa syukur. Di setiap gigitan, tersimpan jejak masa lalu—kisah tentang tangan-tangan perempuan yang menjaga tradisi, tentang dapur yang menjadi ruang kebersamaan, dan tentang aroma rempah yang terus hidup bersama angin yang berembus dari kaki Gunung Latimojong.


