Ambir Kiri atau Alad Kait digunakan untuk membicarakan persoalan adat. Ruangan ini menjadi tempat awal bagi pembahasan masalah yang memerlukan perhatian masyarakat atau pemangku adat.
Berikutnya, Ambir Tengah atau Lamin Bantong menjadi tempat musyawarah dan persidangan pemuka adat. Di sinilah persoalan yang diajukan dibahas sebelum keputusan diambil. Proses tersebut menempatkan pembicaraan bersama sebagai bagian penting dalam penyelesaian perkara adat.
Setelah pembahasan menemukan penyelesaian, Ambir Kanan atau Ulad Kemagot digunakan sebagai tempat tetua adat dan masyarakat beristirahat atau bersantai. Ruang ini melengkapi rangkaian kegiatan yang sebelumnya berlangsung dalam suasana pembahasan formal.
Adapun Lamin Dalom merupakan ruangan khusus bagi kepala adat Dayak Tidung.
Pembagian tersebut menunjukkan bahwa tata ruang Rumah Baloy tidak semata-mata disusun untuk memenuhi kebutuhan tempat berkumpul. Ruangan-ruangannya memiliki fungsi sosial yang berbeda, mengikuti tahapan kegiatan adat yang berlangsung di dalamnya.
Dalam konteks ini, arsitektur menjadi semacam kerangka bagi kehidupan bersama. Setiap ruang menyediakan tempat untuk menjalankan peran tertentu, sedangkan keseluruhan bangunan memungkinkan proses adat berlangsung dalam lingkungan yang teratur.
Musyawarah sebagai Penjaga Keharmonisan

Rumah Baloy memiliki arti penting karena menjadi tempat masyarakat menyampaikan persoalan dan mencari penyelesaiannya melalui mekanisme adat. Perselisihan tidak dibiarkan menjadi urusan pribadi semata, melainkan dibicarakan bersama dengan pendampingan tetua adat.
Proses tersebut memperlihatkan peran lembaga adat dalam menjaga hubungan sosial. Musyawarah menyediakan kesempatan bagi pihak-pihak yang berkepentingan untuk menyampaikan persoalan sebelum keputusan diambil. Tujuannya adalah menemukan penyelesaian yang dapat diterima bersama sekaligus mencegah perselisihan berkembang menjadi konflik berkepanjangan.
Fungsi Rumah Baloy juga melampaui penyelesaian perkara. Bangunan ini menjadi tempat masyarakat dan pemangku adat bertemu dalam berbagai kegiatan budaya. Pertemuan semacam itu memungkinkan pengetahuan, kebiasaan, dan nilai-nilai yang diwariskan leluhur terus dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat.
Dengan demikian, Rumah Baloy bukan sekadar bangunan yang mempertahankan bentuk arsitektur tradisional. Rumah ini juga menaungi mekanisme sosial yang membantu masyarakat menjaga hubungan antarsesama.
Lubung Kilong dan Lubung Intamu
Kompleks Rumah Baloy dilengkapi bangunan pendukung yang turut menampung kegiatan masyarakat Tidung. Dua di antaranya adalah Lubung Kilong dan Lubung Intamu, yang memiliki fungsi berbeda sesuai dengan skala kegiatan.
Lubung Kilong biasanya digunakan untuk penyelenggaraan acara adat dan kesenian berskala lokal. Bangunan ini menyediakan tempat bagi masyarakat sekitar untuk berkumpul dan melaksanakan kegiatan budaya.
Sementara itu, Lubung Intamu digunakan untuk pertemuan adat yang melibatkan lebih banyak orang. Bangunan tersebut dapat menjadi tempat musyawarah dalam skala besar maupun pelantikan pemangku adat.
Kehadiran kedua bangunan ini memperluas fungsi kompleks Rumah Baloy. Jika ruang-ruang utama di dalam rumah memiliki pembagian peran dalam kegiatan adat, Lubung Kilong dan Lubung Intamu menyediakan tempat tambahan untuk kegiatan budaya dan pertemuan masyarakat dengan kebutuhan yang berbeda.
Bagi pengunjung yang ingin mengenal kebudayaan Tidung, Baloy Mayo Adat Tidung di Jalan Aki Balak, Kota Tarakan, dapat menjadi salah satu tempat untuk melihat warisan tersebut secara langsung.
Melalui susunan ruang, tiang kayu ulin, atap sirap, serta bangunan pendukungnya, Rumah Baloy memperlihatkan hubungan antara lingkungan, arsitektur, dan kehidupan sosial masyarakat. Nilainya tidak hanya terletak pada benda-benda yang dapat dilihat, tetapi juga pada kegiatan yang terus memberi makna bagi bangunan itu.



