Dimensi Indonesia memperkuat komitmennya dalam upaya pelestarian bahasa dan pengetahuan lokal melalui kerja sama penerbitan Kamus Ilmiah Bahasa Mbay bersama De-Publisher. Penerbitan ini menjadi tonggak penting dari rangkaian riset dan dokumentasi bahasa Mbay yang telah dilakukan Dimensi Indonesia dalam kemitraan dengan Bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Nagekeo.
Upaya dokumentasi bahasa Mbay berawal dari inisiatif pendirinya, Muhamad Amin Daeng Matiro, yang sejak masa sekolah telah mengumpulkan kosakata sebagai respons atas penurunan penggunaan bahasa Mbay di generasi muda. Inisiatif personal itu kemudian berkembang menjadi program riset kelembagaan ketika Amin mendirikan Dimensi Indonesia, yang tidak hanya melakukan pendataan kosakata tetapi juga merancang metode verifikasi, klasifikasi linguistik, dan penyusunan materi edukasi berbasis budaya lokal.
Muhamad Amin, menegaskan bahwa pelindungan bahasa daerah harus bergerak dari dokumentasi menuju pemanfaatan. “Bahasa tidak akan bertahan jika hanya disimpan dalam catatan. Ia harus digunakan, diajarkan, dan dihadirkan dalam literasi modern. Penerbitan adalah bagian dari strategi itu,” jelasnya.
Melalui kerja sama dengan De-Publisher, naskah kamus kini memasuki tahap penerbitan resmi. De-Publisher menangani aspek penerbitan, legalitas, dan distribusi sehingga kamus dapat beredar sebagai rujukan akademik maupun sumber pembelajaran formal dan nonformal. Penerbit melihat kolaborasi ini sebagai contoh sinergi antara riset komunitas dan industri penerbitan dalam pelestarian warisan budaya.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Nagekeo menyambut baik inisiatif tersebut sebagai langkah konkret dalam pelindungan bahasa dan kebudayaan daerah. Kamus Ilmiah Bahasa Mbay diharapkan dapat digunakan sebagai bahan ajar pendukung, sumber penelitian linguistik, serta referensi bagi masyarakat yang ingin mempelajari kembali bahasa Mbay.
Dengan penandatanganan kontrak penerbitan, kolaborasi Dimensi Indonesia dengan De-Publisher menjadi model bagaimana pelestarian bahasa dapat dikelola melalui riset komunitas, kemitraan profesional, dan dukungan pemerintah daerah. Penerbitan kamus ini menegaskan komitmen Dimensi Indonesia sebagai lembaga yang berorientasi pada pelestarian pengetahuan lokal melalui dokumentasi, edukasi, dan publikasi.
Perluasan Program Budaya Dimensi Indonesia di Flores pada 2026
Memasuki tahun 2026, Dimensi Indonesia menyiapkan langkah perluasan program pelestarian budaya ke sejumlah wilayah lain di Flores. Rencana tersebut mencakup kerja sama dengan kabupaten Labuan Bajo, Ngada, Ende, Maumere, hingga Flores Timur.
Fokus program tidak terbatas pada bahasa daerah. Dimensi Indonesia menargetkan pendokumentasian pengetahuan tradisional, kisah rakyat, arsip budaya, serta kegiatan penguatan literasi budaya yang menyasar sekolah dan komunitas.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang lembaga untuk menghadirkan pelindungan budaya yang berbasis riset lapangan dan melibatkan pemerintah daerah. Melalui penerbitan dan diseminasi pengetahuan budaya ke ruang publik, Dimensi Indonesia berharap ekosistem literasi budaya di NTT tumbuh lebih kuat dan memberi ruang bagi generasi muda untuk tetap terhubung dengan identitas lokalnya.


