Upaya pelestarian bahasa daerah terus menjadi fokus penting Pemerintah Kabupaten Nagekeo. Bahasa Mbay, sebagai salah satu warisan budaya yang mengandung identitas, nilai, dan cara pandang masyarakat, membutuhkan kerja kolektif lintas lembaga agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikut. Dalam semangat inilah diselenggarakan Seminar Buku Kamus Bahasa Mbay di Hotel Sasandi, sebagai forum yang mempertemukan pemerintah, pegiat budaya, pendidik, tokoh adat, dan masyarakat untuk memperkuat kolaborasi bersama.
Sinergi antara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan Dimensi Indonesia
Program penyusunan dan penguatan literasi Bahasa Mbay ini merupakan bagian dari kerja sama strategis antara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Nagekeo dan Dimensi Indonesia. Kolaborasi ini meliputi fasilitasi penelitian kebahasaan, pengumpulan data, pendampingan teknis, penyusunan dokumen kebudayaan, hingga pelaksanaan seminar. Kerja sama tersebut menjadi landasan penting dalam memastikan bahwa upaya pelestarian Bahasa Mbay berjalan terarah, profesional, dan memiliki keberlanjutan jangka panjang.
Dukungan Pemerintah dalam Penguatan Kebudayaan Daerah
Seminar dibuka secara resmi oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Nagekeo, Drs. Imanuel Ndun, M.Si., yang hadir mewakili Bupati. Dalam sambutan tertulis yang dibacakan, Bupati menegaskan komitmen pemerintah terhadap pelestarian bahasa daerah:
“Bahasa Mbay adalah rumah bagi kebudayaan. Ia menyimpan cara berpikir, perasaan, dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat kita.”
Pemerintah Kabupaten Nagekeo menilai bahwa penyusunan kamus merupakan langkah strategis dalam mendokumentasikan kosakata, memperkuat identitas lokal, serta mendukung amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
Kolaborasi Masyarakat dan Pelaku Budaya
Kegiatan seminar turut dihadiri oleh guru, tokoh adat, budayawan, peneliti, generasi muda, serta komunitas masyarakat. Kehadiran lintas kelompok ini mencerminkan bahwa pelestarian bahasa bukan hanya tugas pemerintah atau penulis kamus, tetapi merupakan tanggung jawab bersama.
Para peserta menyampaikan pandangan, pengalaman, dan harapan mengenai perkembangan bahasa daerah, terutama pergeseran penggunaan Bahasa Mbay di lingkungan keluarga dan pendidikan. Diskusi yang terjadi memperlihatkan antusiasme dan kepedulian tinggi masyarakat terhadap penguatan literasi budaya.
Presentasi Penyusunan Kamus: Dokumentasi 60.000 Kosakata
Dalam sesi utama seminar, penulis Kamus Ilmiah Bahasa Mbay, Muhamad Amin Daeng Matiro, memaparkan proses panjang penyusunan kamus yang telah dilakukan sejak tahun 2008. Melalui pendokumentasian lapangan, pencatatan tuturan lisan, dan kajian linguistik, ia berhasil menginventarisasi hampir mencapai 60.000 kosakata.
Pemaparan ini menunjukkan betapa kayanya struktur Bahasa Mbay, termasuk keberadaan variasi kata dan anagram seperti roka, kora, raok, dan arok, yang memiliki perbedaan makna meski berasal dari akar bunyi yang serupa. Kekayaan linguistik ini menjadi bukti bahwa bahasa daerah menyimpan nilai intelektual dan budaya yang tinggi.
Tema Kegiatan: “Papa Pusu Sari Ati”
Seminar ini mengusung tema “Papa Pusu Sari Ati”, sebuah filosofi yang mencerminkan ketulusan, kesungguhan, dan kesadaran kolektif masyarakat Mbay dalam menjaga warisan budaya. Tema ini dipilih untuk menegaskan bahwa pelestarian bahasa tidak sekadar kegiatan akademik, melainkan tindakan mencintai identitas dan jati diri.
Dimensi Indonesia, sebagai lembaga yang bergerak di bidang riset budaya, literasi, dan inovasi digital. Lembaga ini menjadi mitra strategis yang relevan dalam pendampingan program dokumentasi dan pengembangan budaya.
Kolaborasi antara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Nagekeo dan Dimensi Indonesia menunjukkan bahwa sinergi pemerintah dan lembaga profesional mampu menghasilkan karya budaya yang berkualitas, kredibel, dan berkelanjutan. Kehadiran Dimensi Indonesia tidak hanya memperlancar proses pelaksanaan, tetapi juga meningkatkan mutu dan dampak jangka panjang dari setiap program kebudayaan.
Dengan reputasi yang terus berkembang serta konsistensi kerja yang dapat dipertanggungjawabkan, Dimensi Indonesia layak menjadi mitra bagi pemerintah daerah dan berbagai institusi yang membutuhkan pendampingan riset budaya, penguatan literasi, serta pengembangan inovasi digital berbasis kearifan lokal.Kolaborasi ini membuktikan bahwa sinergi antara institusi pemerintah dan lembaga profesional mampu menghasilkan karya budaya yang bukan saja berkualitas tinggi, tetapi juga relevan, berkelanjutan, dan memiliki nilai manfaat bagi generasi mendatang.










