Bagian kaki balai dihiasi daun kelapa. Sementara di setiap sudutnya ditempatkan berbagai perlengkapan ritual. Sultan kemudian diiringi empat orang kerabat kesultanan yang membawa Kirab Tuhing.
Setiap unsur seolah menyatukan alam, legenda, dan kehidupan kesultanan dalam satu ruang sakral.
Air Bunga dan Doa di Atas Balai
Prosesi Beluluh dimulai ketika Sultan atau Putra Mahkota didudukkan di atas tilam kasturi. Setelah itu, Sultan berdiri dan menaiki balai bambu dengan menginjak batu pijakan.
Di bagian tertinggi Balai 41, Sultan mengambil tempat tepat di bawah ikatan daun beringin atau rendu. Di atas kepalanya dibentangkan kain kuning Kirab Tuhing yang dipegang oleh empat orang kerabat kesultanan.
Prosesi kemudian dipimpin oleh Belian yang membaca mantra. Biasanya, Belian didampingi oleh Dewa Bini, seorang Belian perempuan.
Salah satu tahapan penting dalam Beluluh adalah tepong tawar.
Dalam prosesi ini, Dewa memercikkan air bunga ke sekeliling Sultan sebagai simbol penyucian diri. Sultan kemudian mengambil air tersebut dan mengusapkannya ke kepala atau wajah.
Setelah itu, beras kuning ditaburkan ke arah Sultan sambil disertai doa dan restu.
Rangkaian Beluluh kemudian ditutup dengan ritual ketikai lepas. Ketikai merupakan anyaman yang terbuat dari daun kelapa atau janur. Sultan memegang salah satu ujung anyaman, sementara ujung lainnya ditarik oleh seorang tamu kehormatan, biasanya pejabat daerah atau orang yang ditunjuk khusus oleh pihak Kesultanan.
Prosesi ini menjadi penanda berakhirnya tahap penyucian.
Ketika Beras Keberkahan Dilemparkan kepada Masyarakat
Setelah seluruh ritual selesai, Tambak Karang tidak dibiarkan begitu saja.
Beras warna-warni yang menjadi bagian dari ritual dibawa keluar menuju jalan di depan tangga masuk keraton. Abdi keraton membawa gulungan tikar berisi beras, kemudian membukanya di tengah kerumunan masyarakat.
Saat beras mulai berjatuhan, warga yang telah menunggu akan berebut menangkapnya.
Beras Tambak Karang dipercaya membawa keberkahan atau kebaikan bagi siapa pun yang mendapatkannya. Ritual yang semula berpusat pada penyucian Sultan pun pada akhirnya terhubung dengan masyarakat.
Dari balai bambu hingga beras yang jatuh ke tangan warga, Beluluh memperlihatkan bahwa seorang pemimpin dalam tradisi Kutai tidak berdiri sendiri. Keselamatan, kesejahteraan, dan keberkahan pemimpin selalu dikaitkan dengan kehidupan masyarakat yang dipimpinnya.
Setelah Beluluh selesai, Sultan telah menjalani tahap penyucian sebelum memasuki rangkaian adat berikutnya. Barulah Upacara Erau dimulai dengan mendirikan Tiang Ayu.
Di Keraton Kutai, Beluluh menjadi pengingat bahwa sebelum memimpin sebuah perjalanan besar, seseorang terlebih dahulu perlu membersihkan dirinya. Sebab, dalam tradisi yang diwariskan lintas generasi, kepemimpinan bukan hanya tentang kekuasaan, tetapi juga tentang kesiapan jiwa.


