Sebelum tiang-tiang adat didirikan dan rangkaian sakral Erau dimulai, ada satu ritual yang terlebih dahulu harus dijalani oleh Sultan Kutai. Di tengah suasana keraton, di atas balai bambu bertingkat, seorang pemimpin menjalani prosesi penyucian diri yang telah menjadi bagian penting dari tradisi Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
Ritual itu bernama Beluluh.
Bagi masyarakat Kutai, Erau bukan sekadar perayaan adat. Di dalamnya terdapat serangkaian ritual dengan tujuan, aturan, dan makna sakral yang saling berkaitan. Karena Sultan menjadi tokoh utama yang akan memulai berbagai tahapan adat, penyucian diri melalui Beluluh menjadi gerbang spiritual sebelum seluruh rangkaian Erau dilaksanakan.
Beluluh merupakan upacara penyucian diri Sultan Kutai atau Putra Mahkota. Ritual ini tidak hanya dimaknai sebagai proses membersihkan diri, tetapi juga menjadi sarana untuk memohon keselamatan, kesehatan, kesejahteraan, serta perlindungan bagi Sultan, keluarga kesultanan, dan masyarakat.
Dalam kajian berjudul Fungsi Simbolik Perayaan Erau di Tenggarong, Beluluh dijelaskan sebagai proses membersihkan jiwa dan hati. Seorang pemimpin diharapkan memasuki tanggung jawabnya dalam keadaan bersih, bebas dari unsur-unsur buruk yang dapat mengiringi perjalanan hidupnya.
Ketika Buluh dan Luluh Bertemu dalam Sebuah Ritual
Nama Beluluh sendiri menyimpan makna yang erat dengan tempat pelaksanaannya.
Kata tersebut berasal dari gabungan buluh, yang berarti batang bambu, dan luluh, yang bermakna musnah atau hancur. Kedua kata itu merujuk pada balai bambu yang digunakan dalam prosesi ritual.
Melalui Beluluh, berbagai unsur buruk yang dipercaya mengitari Sultan diharapkan dapat luluh atau musnah. Ritual ini menjadi simbol pelepasan sebelum seorang pemimpin memasuki tahapan adat yang lebih besar.
Beluluh tidak hanya hadir dalam Upacara Erau. Dalam berbagai kesempatan penting, seperti perkawinan adat, penyambutan tamu, dan kegiatan kesultanan lainnya, prosesi serupa juga dapat dilakukan.
Namun, dalam Erau, Beluluh memiliki kedudukan khusus. Ritual inilah yang menandai kesiapan spiritual Sultan sebelum memulai rangkaian upacara adat.
Balai 41 dan Jejak Putri Karang Melenu
Pusat dari ritual Beluluh adalah sebuah balai bambu bertingkat tiga yang menjadi tempat Sultan menjalani prosesi. Balai itu dibuat dari bambu kuning dan memiliki 41 kaki atau tiang, sehingga dikenal dengan nama Balai 41.
Di atas balai inilah Sultan akan mengambil tempat selama ritual berlangsung.
Berbagai unsur adat melengkapi bangunan tersebut. Ada daun beringin atau rendu, kain kuning yang disebut Kirab Tuhing, serta batu pijakan yang akan diinjak Sultan ketika menaiki balai.
Balai 41 juga ditempatkan di atas Tambak Karang, yaitu susunan beras berwarna-warni yang telah dihias. Tambak Karang menjadi representasi dari legenda Putri Karang Melenu, tokoh penting dalam sejarah dan mitologi Kesultanan Kutai yang dipercaya muncul di tengah Sungai Mahakam.


