Baleo, Tradisi Perburuan Paus di Lamalera

Memiliki tradisi perburuan paus atau disebut baleo oleh warga setempat, Wisatawan mancanegara mengenal tradisi ini sebagai "Lamalera Whale Catching Adventure". 

| www.dimensiindonesia.com | cerita Indonesia tentang keindahan alamnya, keunikan dan keberagaman budayanya |

Mau nulis? Lihat caranya yuk!
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia!

Sejak ratusan tahun lalu, warga desa nelayan Lamalera di pulau Lembata, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT)  memiliki tradisi perburuan paus atau disebut baleo oleh warga setempat. Wisatawan mancanegara mengenal tradisi ini sebagai “Lamalera Whale Catching Adventure“.

Tradisi berburu paus ini diduga sudah ada sejak berdirinya kampung nelayan Lamalera di ujung selatan Lembata sekitar tahun 1500-an. Selain itu, menurut catatan dokumen Portugis yang berasal dari tahun 1643 sudah menyebutkan bahwa perburuan paus sudah dilakukan di desa Lamalera.

Maka tak heran bila di bibir pantai terdapat tulang belulang  dan sirip raksasa raksasa.  Bagi warga desa Lamalera, paus bukanlah mamalia sembarangan. Mereka menganggapnya sebagai anugerah dari Tuhan, untuk menjaga kelestarian dan budaya di desa tersebut. Oleh sebab itu, proses penangkapannya pun tidak boleh sembarangan.

Saat perburuan, satu-satunya spesies paus yang tidak bisa diburu adalah paus biru (Balaenoptera musculus). Alasannya, bukan hanya karena jenis paus tersebut dilindungi secara internasioal, tapi menurut cerita rakyat setempat, paus biru pernah menyelamatkan sebuah keluarga di Lamalera.

Desa nelayan Lamalera di pulau Lembata
Desa nelayan Lamalera di pulau Lembata

Perburuan paus umumnya dilakukan selama Mei hingga November, yakni saat paus bermigrasi dari laut di Australia mencari air yang lebih hangat di laut tropis. Kala bermigrasi, paus akan melewati laut Sawu yang ada di Lembata.

Pada 1 Mei, warga akan mengadakan prosesi upacara sebagai tanda dimulainya musim berburu paus. Penduduk setempat yang sebagian besar beragama Katolik juga mengadakan Misa di awal perburuan agar ekspedisi berhasil dan aman.

Saat hari perburuan tiba, tiga sampai empat perahu yang diparkir di pantai dilepaskan ke laut diiringi disorak-sorai oleh seluruh desa. Masyarakat Lamalera berburu paus dengan menggunakan perahu tradisional yang disebut sebagai paledang.

Baca Juga :  Rinjani dan Rindu yang Menjadi-jadi

Perahu ini diawaki oleh antara 7-14 orang, yakni juru mudi, pendayung dan harpooner, di mana masing-masing diberi tugas khusus. Ada pula satu lamafa, yakni juru tombak paus.

Seekor paus yang telah tertangkap
Seekor paus yang telah tertangkap

Itulah sebabnya lamafa tidak boleh lelaki sembarangan. harus dipilih dengan. lamafa haruslah seseorang yang taat beribadah, santun dan pemberani. Oleh sebab itu, proses pemilihannya melalui upacara adat.

Sebelum perburuan, lamafa pemula akan belajar membedakan paus yang boleh diburu dan tidak, serta cara menombaknya. Hal ini sangat penting, sebab ada pantangan bagi Lamalera dalam hal berburu paus.

Misalnya, dilarang berburu paus bunting, paus muda, dan paus kawin. Warga Lamalera percaya jika menombak paus yang hamil atau paus yang masih muda akan membawa musibah bagi desa. Jadi, lamafa harus benar-benar tahu paus mana yang boleh menjadi tergetnya.

Pada saat perburuan, begitu ada paus mendekat, mereka akan menentukan apakah paus tersebut boleh diburu atau tidak. Apabila telah ditetapkan sebagai target, lamafa akan lompak dan menombak paus yang tengah melintas dengan tempuling.

Tempuling adalah tombak kayu sepanjang kurang lebih empat meter dengan mata tombak dari besi sepanjang 30 cm.

Anggota tim lainnya juga akan melemparkan lebih banyak tombak ke mangsanya. Dan ketika akhirnya paus mati, bersama-sama semua anggota tim mengangkat tubuh yang berat ke atas perahu dan membawanya ke desa.

Daging ikan Paus yang dikeringkan
Daging ikan Paus yang dikeringkan

Sesampainya paus di daratan, mereka membagi-bagikan dagingnya kepada seluruh masyarakat kampung. Setiap orang akan mendapat bagian sesuai dengan jasanya pada perburuan tersebut.  Sebagian organnya seperti tulang, sirip, minyak,  dimanfaatkan sebagai kerajinan berupa cincin, bahkan bahan bakar lampu minyak.

Tradisi perburuan paus ini sempat mendapat tentangan dari pemerintah daerah dan beberapa organisasi pelestarian alam, seperti World Wide Fund for Nature (WWF) dan Greenpeace.

Baca Juga :  Goa Rangko, Menawarkan Keheningan Bagi Siapapun

Namun, setelah mengamati dan memahami makna tradisi tersebut, mereka memutuskan bahwa tradisi ini masih diperbolehkan untuk dilakukan. Perburuan paus di Lamalera ini memang bukan untuk kebutuhan komersil, melainkan seperlunya saja. Paus yang ditangkap dalam setahun juga tidak sampai 20 ekor.

Mau lihat keindahan Indonesia lainnya?
Yuk tekan tombolnya!

Bagikan

[gs-fb-comments]

BACA JUGA

- Advertisement -