Jalan-jalan ke Kota Semarang rasanya belum lengkap tanpa mencicipi lumpia. Kulitnya yang tipis dan renyah membungkus isian rebung, udang, serta telur dengan perpaduan rasa gurih dan manis yang khas. Namun, di balik kenikmatan itu, lumpia Semarang menyimpan cerita yang jauh lebih panjang: tentang kisah pertemuan dua tradisi kuliner yang tumbuh berdampingan di pesisir utara pulau Jawa.
Lumpia bukan sekadar makanan khas kota. Ia merupakan jejak akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa selama beberapa generasi, hingga akhirnya diterima sebagai salah satu identitas kuliner Semarang.
Ketika Dua Tradisi Kuliner Bertemu
Kisah lumpia Semarang kerap dikaitkan dengan pertemuan Tjoa Thay Joe, perantau asal Fujian, Tiongkok, dengan Wasih, perempuan Jawa yang juga menjalankan usaha kuliner di Semarang masa itu.
Keduanya disebut memiliki makanan yang serupa, namun dengan karakter berbeda. Tjoa Thay Joe menjual makanan khas Tionghoa dengan isian rebung dan daging babi, sedangkan Wasih menggunakan kentang dan udang dengan rasa yang lebih manis.
Setelah keduanya menikah, resep dan usaha mereka kemudian berpadu. Dari sinilah lahir bentuk kuliner baru yang menyesuaikan bahan, teknik, dan selera masyarakat kala itu.
Salah satu perubahan penting tentu tidak digunakannya daging babi sehingga makanan tersebut dapat diterima oleh masyarakat Semarang yang lebih luas. Namun, unsur yang menjadi ciri khas kuliner Tionghoa tetap dipertahankan, terutama kulit tipis dan rebung sebagai bahan utama.
Sementara itu, penggunaan udang dan rasa yang lebih manis menunjukkan adanya penyesuaian terhadap selera masyarakat Jawa.
Perpaduan tersebut menggambarkan bahwa akulturasi kuliner tidak selalu berlangsung melalui penggantian satu budaya oleh budaya lain. Dalam kasus lumpia Semarang, unsur-unsur dari dua tradisi justru bertemu, beradaptasi, dan melahirkan identitas baru.
Dari Pecinan hingga Menjadi Kuliner Kota
Lumpia berkembang di lingkungan masyarakat Tionghoa Peranakan Semarang. Pada masa awal, makanan ini banyak dikenal di kawasan Pecinan, salah satunya di sekitar Gang Lombok yang berada tidak jauh dari Kelenteng Tay Kak Sie.
Lingkungan Pecinan menjadi ruang penting bagi perkembangan lumpia. Di kawasan tersebut, tradisi kuliner Tionghoa bertemu dengan kehidupan masyarakat Jawa yang telah lebih dahulu berkembang di Semarang.
Pada tahap awal, lumpia lebih banyak hadir sebagai makanan keluarga dan usaha yang berkembang di lingkungan masyarakat Tionghoa Peranakan. Namun, seiring semakin terbukanya hubungan sosial dan ekonomi antarkelompok masyarakat, lumpia mulai dikenal lebih luas.
Perjalanan tersebut kemudian berlanjut melalui generasi penerus keluarga pembuat lumpia. Memasuki dekade 1970-an dan 1980-an, sejumlah keturunan keluarga perintis mulai membuka usaha di berbagai bagian Kota Semarang.
Perubahan lokasi penjualan membuat lumpia tidak lagi terbatas pada lingkungan Pecinan. Makanan ini perlahan menjangkau masyarakat dari berbagai latar belakang dan mulai melekat dengan kehidupan kota.
Popularitasnya juga didukung oleh perubahan dalam proses produksi dan distribusi. Lumpia semakin mudah ditemukan, sementara cita rasanya telah cukup akrab dengan lidah masyarakat setempat.
Dengan demikian, perjalanan lumpia dari makanan komunitas menjadi kuliner khas kota berlangsung secara bertahap. Ia tumbuh bersama perubahan masyarakat Semarang itu sendiri.
Rebung, Bahan Sederhana dengan Karakter Kuat
Salah satu unsur yang membuat lumpia Semarang memiliki karakter berbeda adalah rebung. Bahan ini merupakan tunas muda bambu yang memiliki tekstur renyah dan aroma khas.
Dalam lumpia, rebung biasanya dipadukan dengan udang dan telur. Ketika dimasak bersama bumbu, bahan-bahan tersebut menghasilkan isian dengan rasa gurih dan sedikit manis yang menjadi ciri khas lumpia Semarang.
Penggunaan rebung juga menarik jika dilihat dari perspektif kuliner. Bahan yang berasal dari tanaman bambu ini tidak hanya memberikan tekstur, tetapi juga menjadi bagian dari identitas rasa yang membedakan lumpia Semarang dari berbagai jenis lumpia lainnya.
Di tangan para pembuatnya, bahan sederhana tersebut kemudian ditempatkan di dalam kulit tipis dan dimasak hingga menghasilkan lapisan luar yang renyah dengan bagian dalam yang lembut dan kaya rasa.
Dari Makanan Peranakan Menjadi Identitas Semarang
Memasuki dekade 1980-an, lumpia semakin dikenal sebagai makanan khas Semarang. Perubahan status ini menandai bagaimana sebuah makanan dapat melampaui batas komunitas yang pertama kali mengembangkannya.
Lumpia yang berakar dari tradisi Tionghoa kemudian tumbuh bersama lingkungan sosial Jawa dan akhirnya diterima sebagai bagian dari identitas kuliner kota.
Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa makanan dapat menjadi ruang pertemuan berbagai kebudayaan. Resep mungkin memiliki asal-usul tertentu, tetapi perjalanan sebuah kuliner sangat ditentukan oleh bagaimana masyarakat mengolah, menerima, dan mewariskannya.
Lumpia Semarang adalah salah satu contohnya. Di dalam sepotong kulit yang digoreng hingga renyah, tersimpan sejarah migrasi, perkawinan, perdagangan, perubahan selera, serta hubungan sosial antara komunitas Tionghoa dan Jawa.
Pengakuan terhadap nilai budayanya kemudian semakin menguat. Pada 2014, Lumpia Semarang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dalam kategori kuliner tradisional dari Jawa Tengah.
Kini, lumpia bukan lagi sekadar makanan yang ditemukan di kawasan Pecinan. Ia telah menjadi oleh-oleh, hidangan keluarga, dan salah satu penanda identitas Kota Semarang.
Mungkin itulah kekuatan sebuah kuliner. Ia tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga mampu menyimpan sejarah dalam bentuk yang paling sederhana: rasa, aroma, dan resep yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.



