Asal Usul Jorong-jorong, Kue Kukus Harum dari Pontianak yang Menyimpan Jejak Tradisi Melayu

Jorong-jorong, kue tradisional khas Pontianak dan Ketapang, menghadirkan rasa gurih santan, tekstur lembut, serta aroma daun pisang yang khas. Wadai Melayu ini menjadi simbol warisan kuliner Kalimantan Barat yang tetap bertahan di tengah modernisasi.

Nagekeo yang Tak Banyak Orang Tahu, Temukan di Edisi Spesial Ini!

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia! Selengkapnya
X

Di tepian Sungai Kapuas, ketika matahari mulai turun perlahan dan langit Pontianak berubah keemasan, aroma santan hangat bercampur wangi daun pisang menguar dari dapur-dapur rumah kayu masyarakat Melayu. Dari ruang-ruang sederhana itulah lahir jorong-jorong, wadai tradisional khas Kalimantan Barat yang lembut, harum, dan sarat cerita budaya.

Sekilas tampilannya tampak sederhana. Gulungan kecil berwarna putih pucat itu dibungkus daun pisang menyerupai tabung mungil. Namun di balik bentuknya yang bersahaja, jorong-jorong menyimpan jejak panjang tradisi kuliner masyarakat pesisir Pontianak dan Ketapang—tradisi yang tumbuh bersama sungai, pasar rakyat, dan budaya berbagi hidangan di meja keluarga.

Di Kalimantan Barat, kue ini bukan sekadar camilan sore. Jorong-jorong adalah bagian dari ingatan kolektif masyarakat Melayu, terutama saat Ramadan tiba. Menjelang berbuka, pasar juadah dipenuhi deretan wadai tradisional yang tersusun di atas tampah bambu. Di antara warna-warni kue khas Pontianak, jorong-jorong selalu mudah dikenali lewat aroma pandan dan daun pisangnya yang khas.

- Advertisement -

Nama jorong-jorong dipercaya berasal dari bentuknya yang menyerupai “jorong” atau gulungan memanjang. Adonannya dibuat dari campuran tepung beras, tepung sagu, santan, dan gula pasir. Bahan-bahan sederhana itu kemudian diolah menjadi kue bertekstur lembut dengan rasa gurih santan yang lebih dominan dibanding manisnya gula.

Proses pembuatannya masih mempertahankan teknik tradisional yang diwariskan turun-temurun. Adonan dibungkus menggunakan daun pisang muda, lalu dikukus perlahan hingga matang. Beberapa pembuat wadai bahkan menggunakan daun pandan sebagai alas atau pembungkus tambahan untuk memperkuat aroma harumnya.

Ketika bungkus daun dibuka, uap hangat perlahan keluar membawa aroma tropis yang lembut dan menenangkan. Wangi daun pisang yang meresap ke dalam adonan menjadi bagian penting dari pengalaman menyantap jorong-jorong. Sensasi itu menghadirkan sesuatu yang lebih dari sekadar rasa—ia menghadirkan suasana rumah.

- Advertisement -
Baca Juga :  Pendap Bengkulu, Pepes Ikan yang Dikukus Berjam-Jam

Dalam budaya Melayu Kalimantan, makanan kukus seperti jorong-jorong lahir dari kedekatan masyarakat dengan alam sekitar. Tepung beras berasal dari hasil ladang, santan diperas dari kelapa pesisir, sementara daun pisang dan pandan menjadi pembungkus alami yang tersedia di halaman rumah. Setiap bahan merekam lanskap tropis Kalimantan dalam bentuk paling sederhana.

Jorong-jorong juga mencerminkan filosofi masyarakat Melayu yang menjunjung kebersamaan. Kue ini kerap hadir dalam acara adat, kenduri keluarga, hingga jamuan tamu. Menyuguhkan wadai hangat kepada tamu bukan sekadar tradisi makan, melainkan bentuk penghormatan dan cara menjaga hubungan sosial.

Di tengah derasnya arus makanan modern dan dessert kekinian, jorong-jorong tetap bertahan sebagai simbol warisan rasa dari tanah Pontianak. Ia menjadi penghubung antara generasi lama yang tumbuh bersama dapur kayu dan generasi muda yang mulai kembali mencari cita rasa masa kecilnya.

- Advertisement -

Di balik tampilannya yang sederhana, jorong-jorong sesungguhnya adalah potongan kecil dari sejarah panjang budaya Melayu Kalimantan Barat—tentang sungai, rumah-rumah kayu, dan dapur tradisional yang terus menjaga aroma warisan leluhur agar tetap hidup hingga hari ini.

- Advertisement -