Pada suatu malam yang pelan di Demak, Jawa Tengah, ketika angin pesisir mulai turun membawa dingin dari perairan utara, aroma rempah menguar dari warung-warung kecil di tepi jalan.
Bau jahe bakar, gula jawa yang mulai mencair, dan wangi bunga lawang yang manis-pedas berkelindan di udara. Di tengah suasana itu, segelas wedang pekak perlahan disuguhkan—hangat, bening kecokelatan, dengan bintang kecil dari rempah yang mengapung tenang di permukaannya.
Di banyak desa di Demak, minuman ini bukan hanya pelepas dahaga. Ia adalah penanda waktu: penawar dingin setelah seharian bekerja di sawah, teman berbincang di bawah lampu-lampu temaram, atau obat rumahan yang diwariskan turun-temurun.
Rempah Kecil yang Menjadi Ikon
Nama wedang pekak merujuk pada bahan utama yang membentuk identitasnya: pekak, atau bunga lawang, rempah berbentuk bintang yang aromanya kuat dan khas. Sebelum dikenal dalam minuman, pekak terlebih dahulu menjadi bagian dari dapur Demak—rempah yang memperkaya kaldu, gulai, dan semur yang kesehariannya melekat pada rumah-rumah Jawa pesisir.
Masyarakat Demak biasa menikmati wedang pekak pada malam hari atau saat cuaca sedang turun drastis. Keberadaannya memberi sensasi hangat yang merembes perlahan dari tenggorokan hingga ke perut. Namun minuman ini juga sering disajikan dingin, tanpa kehilangan sedikit pun dari manfaat atau aromanya.
Sejak dulu, wedang pekak dianggap sebagai obat alternatif: penenang perut kembung, peringan sembelit, dan dipercaya sebagian ibu-ibu sebagai minuman yang membantu melancarkan ASI. Rempah adalah bahasa penyembuhan masyarakat Jawa—dan wedang pekak adalah salah satu kalimat yang paling lama bertahan.
Khasiat Bunga Lawang
Lihat postingan ini di Instagram
Bunga lawang, rempah berbentuk bintang yang lahir dari pohon Illicium verum, menyimpan banyak makna dalam dunia kuliner Nusantara. Dalam berbagai riset dan catatan kesehatan yang dipublikasikan, termasuk yang dihimpun oleh Halodoc, pekak mengandung linalool, vitamin C, serta senyawa aromatik yang berfungsi sebagai antioksidan alami.
Rempah kecil ini membantu tubuh melindungi sel-sel dari paparan radikal bebas—udara berpolusi, asap kendaraan, atau efek buruk rokok yang sering menghantui aktivitas kota-kota besar.
Selain itu, pekak kaya akan serat, menjadikannya rempah yang mendukung pencernaan. Dimasak perlahan dalam air, ia mengeluarkan aroma manis-pedas yang khas dan rasa hangat yang menjalar, mengingatkan pada cara kerja jamu tradisional desa-desa Jawa.
Tak hanya dalam minuman, bunga lawang juga hadir di dapur: menyedapkan makanan, memperkaya kuah, dan menjadi kawan akrab bumbu-bumbu Nusantara seperti kayu manis dan cengkih.


