Dari kejauhan, perbukitan itu membentang seperti lipatan-lipatan permadani raksasa, menggelombang dengan lembut di bawah sinar mentari. Pulau Sumba, satu dari sedikit tempat di dunia yang memadukan kesederhanaan lanskap dan keagungan alam dalam satu bingkai pemandangan.
Tak seperti pulau-pulau tetangganya di Nusa Tenggara yang lahir dari magma vulkanik, Sumba berasal dari fragmen kerak benua dan batu kapur yang terangkat dari dasar laut jutaan tahun lalu. Proses geologis ini, ditambah dengan erosi dan sedimentasi yang terus berlanjut, menciptakan topografi khas berupa perbukitan kapur dan sabana luas—sebuah lanskap yang tampak tak berubah selama berabad-abad.
Namun, keindahan sabana Sumba tidak statis. Ia berubah seiring waktu. Pada musim penghujan (Desember–April), perbukitan berubah menjadi lautan hijau, rerumputannya segar dan padat, menyerupai hamparan karpet alami yang terbentang tak berujung. Sementara itu, di musim kemarau (Juni–Oktober), warna hijau itu memudar menjadi emas kecokelatan, menghadirkan nuansa eksotis yang mengingatkan pada savana di Afrika atau padang rumput Patagonia.
Di antara keajaiban lanskap ini, ada tiga perbukitan yang telah menjadi ikon wisata dan studi geologi: Bukit Wairinding, Bukit Tenau, dan Bukit Tanarara.
1. Bukit Wairinding: Permadani Bergelombang dari Sumba Timur
Вижте тази публикация в Instagram.
📍 Lokasi: Desa Pambota Jara, Kecamatan Pandawai, Sumba Timur
🚗 Jarak: ±30 km dari Waingapu (30–45 menit perjalanan darat)
🛤 Aksesibilitas: Jalan beraspal, sedikit berkelok-kelok
Sejak pertama kali diperkenalkan melalui media sosial dan film nasional, Bukit Wairinding telah menjadi ikon wisata Pulau Sumba. Lanskapnya berupa sabana luas yang bergelombang, menyerupai ombak yang membeku dalam waktu.
Perjalanan menuju Wairinding relatif nyaman, dengan jalan aspal yang mulus. Setibanya di lokasi, pengunjung akan menemukan sebuah rumah kecil dan warung sederhana, yang menjadi penanda utama bukit ini. Tidak ada tiket masuk resmi, tetapi wisatawan dianjurkan mengisi buku tamu dan memberikan donasi sukarela yang digunakan untuk kesejahteraan masyarakat sekitar.
Dari titik parkir, perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki menaiki bukit kecil dengan kemiringan sekitar 20–30 derajat. Dari puncaknya, pemandangan terbuka luas: sabana membentang hingga ke cakrawala, berpadu dengan langit biru yang seakan tak berujung.
Waktu terbaik untuk berkunjung adalah saat matahari terbit atau terbenam, ketika sinar keemasan matahari melukis gradasi warna di atas punggung bukit. Jika beruntung, Anda juga bisa melihat kuda sandel merumput, memberikan kesan seperti berada di dalam lukisan hidup.
2. Bukit Tenau: Negeri di Atas Awan
Lihat postingan ini di Instagram
📍 Lokasi: Dekat Kota Waingapu, Sumba Timur
🚗 Jarak: ±15 km dari Waingapu (20–30 menit perjalanan darat)
🛤 Aksesibilitas: Jalan desa dengan beberapa area yang belum diaspal
Jika Bukit Wairinding dikenal dengan sabananya yang luas, maka Bukit Tenau menawarkan sesuatu yang lebih dramatis: lapisan-lapisan bukit yang menjulang tinggi, menciptakan pemandangan berundak seperti pegunungan di negeri dongeng.
Dari puncaknya, cakrawala terasa lebih dekat. Saat pagi hari, kabut tipis sering menyelimuti lereng-lereng bukit, menciptakan ilusi negeri di atas awan. Inilah yang membuat Tenau menjadi salah satu lokasi terbaik di Sumba untuk menyaksikan matahari terbit.