Ritual Mi Mina Wolotopo, Upacara Perdamaian Kampung Adat di Ende

Di Ende, beberapa kampung adat dikenal dengan istilah cerminan peradaban.

Mau nulis? Lihat caranya yuk!
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia!

Ritual Mi Mina Wolotopo. Adat istiadat  di Kabupaten Ende, Flores, NTT masih tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan individu masyarakat disana. Adat istiadat bagi mereka telah menjadi petua dalam masyarakat yang mengamalkannya.

Salah satu keunikan yang hingga kini masih dapat ditemui adalah cara mereka menyelesaikanperselisihan antar kampung. Adat yang bernama Tura Jaji ini telah menjadi bagian dari hukum adat yang wajib dipatuhi.

Tura Jaji merupakan kesepakatan adat yang berisi tentang hubungan kekeluargaan yang telah disepakati sejak zaman leluhur mereka. Di Ende, beberapa kampung menggunakan tura aji sebagai cerminan peradaban dan cara menjaga perdamaian.

- Advertisement -

Misalnya hubungan antara kampung adat Onekore dan kampung adat Wolotopo yang dihubungkan oleh kesepakatan adat yang telah mengikat mereka sejak zaman dahulu. Setiap generasi dari kedua kampung  diwajibkan untuk mentaati aturan ini, sehingga konflik atau perselisihan dapat dihindari dengan baik.

Kedua suku yang bertikai percaya bahwa pelanggaran terhadap aturan adat, khususnya Tura Jaji, akan berbuah bencana dan malapetaka yang serius, sebuah keyakinan yang didasarkan pada pengalaman masa lalu.

Apabila terjadi perselisihan antara kedua kampung yang menyebabkan ketidaksetiaan terhadap perjanjian adat yang telah dipegang teguh oleh leluhur mereka, tetua adat dari kedua kampung akan bertemu dan melaksanakan Tura Jaji.

- Advertisement -

Kedua suku  akan mengembalikan ketertiban melalui ritual adat yang dikenal dengan Mi Mina. Upacara unik ini diadakan di pelataran rumah adat Onekore. Para pemuda dari kedua kampung yang berkompik akan berpartisipasi dalam acara “Mi Mina,” di mana mereka bersatu dan berbagi moke (tuak) dalam satu gelas secara bergantian sebagai simbol perdamaian.

Ritual Mi Mina Wolotopo
Ritual Mi Mina Wolotopo

Ritual adat diwakili dengan pengorbanan darah babi. Dalam konteks tradisional dan keyakinan, babi melambangkan pemulihan hati dan pikiran manusia dalam berbagai aspek kehidupan.

Baca Juga :  Kampung Adat Wajomara, Keindahan Masa Lalu di Nagekeo

“Onekore dan Wolotopo telah membuat perjanjian adat yang disebut ‘Tana Tura, Watu Jaji.’ Jadi, mereka yang berselisih harus berdamai. Ini bukan hanya tentang tata cara atau ritus, tetapi kita juga seharusnya mengubah sikap kita. Karena hukum adat adalah hukum alam,” ungkap Yakobus Ari, perwakilan Mosalaki Wolotopo.

- Advertisement -

Ancaman bencana, menurut Yakobus, dianggap sebagai sanksi terhadap kedua persekutuan adat yang melanggar perjanjian. Oleh karena itu, sebagai korban pelanggaran tersebut, penting untuk melakukan ritus “Mi Mina” secara simbolik dengan membasahi batu dan tanah menggunakan darah babi.

Hewan kurban ini dianggap sebagai penebus atas tingkah laku manusia, dan darah babi dianggap sebagai bentuk syukur kepada alam semesta karena perdamaian telah tercapai. Seluruh upacara berlangsung akan ditutup dengan penandatanganan surat perjanjian damai dan makan bersama.

- Advertisement -