Kabut pagi perlahan terangkat dari perbukitan Desa Pattimpa, Kecamatan Ponre, Kabupaten Bone. Dari kejauhan, hamparan hijau membentang seperti permadani alam yang belum tersentuh. Di titik tertingginya, sebuah bukit yang dahulu sunyi kini menjadi ruang perjumpaan manusia dan lanskap, dikenal dengan nama Puncak Lima Jari. Tempat ini bukan sekadar destinasi wisata, melainkan cerita tentang inisiatif lokal, kerja kolektif, dan perubahan wajah desa melalui pariwisata berbasis kreativitas.
Puncak Lima Jari berada sekitar 26 kilometer dari pusat Kota Watampone. Akses menuju lokasi relatif mudah, meski pengunjung harus melewati jalur menanjak yang berkelok dan diapit pepohonan. Perjalanan menuju puncak justru menjadi bagian dari pengalaman: udara semakin sejuk, suara kendaraan perlahan tergantikan oleh desir angin dan kicau burung. Bagi banyak wisatawan, momen ini menjadi transisi dari hiruk-pikuk kota menuju ketenangan alam.
Nama “Lima Jari” diambil dari ikon utama yang berdiri di puncak bukit, berupa struktur menyerupai telapak tangan dengan lima jari yang menjulang ke langit. Ikon ini dibuat dari bahan-bahan alami seperti ranting dan akar pohon, dirangkai dengan sentuhan artistik oleh pemuda desa. Di sinilah pengunjung kerap berhenti, mengambil gambar, dan mengabadikan momen dengan latar panorama perbukitan Bone yang berlapis-lapis hingga ke cakrawala.
Namun, sebelum menjadi destinasi yang ramai dikunjungi, Puncak Lima Jari hanyalah bukit biasa. Kawasan ini mulai dirintis sebagai objek wisata sekitar tahun 2017. Inisiatifnya datang dari pemuda setempat yang melihat potensi alam di wilayah mereka belum tergarap. Berawal dari cerita seorang pemburu yang menemukan titik pandang indah di puncak bukit, gagasan pengembangan wisata pun tumbuh dari diskusi sederhana di tingkat desa.
Dengan peralatan seadanya, para pemuda mulai membuka jalur, membersihkan area, dan menata titik-titik pandang. Tidak ada investasi besar atau campur tangan investor eksternal pada tahap awal. Semua dilakukan secara gotong royong, mengandalkan tenaga, waktu, dan semangat kolektif. Dalam prosesnya, Puncak Lima Jari perlahan berubah menjadi ruang publik baru yang menghadirkan kebanggaan bagi warga desa.
Daya tarik Puncak Lima Jari tidak hanya terletak pada ikon lima jari. Sejumlah spot wisata lain dikembangkan untuk memberi pengalaman beragam bagi pengunjung. Terdapat pondok-pondok kecil di atas pohon, ayunan yang menghadap jurang dengan latar alam terbuka, serta gazebo sederhana untuk beristirahat. Pada sore hari, kawasan ini menjadi titik favorit untuk menikmati matahari terbenam, ketika langit berubah jingga dan siluet perbukitan semakin dramatis.
Bagi wisatawan muda, Puncak Lima Jari menawarkan ruang ekspresi visual. Lanskap alam yang luas, dikombinasikan dengan instalasi kreatif, menjadikannya latar yang ideal untuk fotografi dan konten media sosial. Tidak sedikit pengunjung yang datang dari luar Kabupaten Bone hanya untuk merasakan sensasi berdiri di atas “telapak tangan” Puncak Lima Jari dan melihat dunia dari ketinggian.
Meski identik dengan wisata swafoto, suasana di Puncak Lima Jari tetap terasa alami. Tidak ada bangunan permanen berskala besar yang mendominasi lanskap. Pengelola setempat berupaya menjaga keseimbangan antara kebutuhan wisata dan kelestarian lingkungan. Jalur pejalan kaki dibuat mengikuti kontur alam, sementara fasilitas dasar seperti toilet dan tempat duduk terus ditingkatkan secara bertahap.
Dari sisi ekonomi, kehadiran Puncak Lima Jari membawa dampak nyata bagi masyarakat sekitar. Warga desa mulai membuka usaha kecil, seperti warung kopi, penjualan makanan ringan, jasa parkir, hingga penyewaan properti foto. Aktivitas wisata ini menciptakan perputaran ekonomi baru, sekaligus membuka peluang kerja bagi generasi muda yang sebelumnya terbatas pada sektor pertanian.
Lebih dari itu, Puncak Lima Jari menjadi contoh bagaimana pariwisata desa dapat tumbuh dari bawah, berbasis inisiatif komunitas. Pengelolaan dilakukan secara sederhana, namun mengedepankan rasa memiliki. Setiap pengunjung yang datang tidak hanya menikmati pemandangan, tetapi juga menjadi saksi dari kerja kolektif masyarakat desa dalam mengelola potensi alamnya sendiri.
Pada malam hari tertentu, kawasan ini kerap digunakan untuk berkemah. Di bawah langit Bone yang bertabur bintang, pengunjung duduk melingkar, berbagi cerita, dan menikmati suasana sunyi yang jarang ditemukan di perkotaan. Dalam keheningan itu, Puncak Lima Jari menghadirkan pengalaman yang lebih dari sekadar wisata visual: ia menawarkan ruang refleksi dan kedekatan dengan alam.
Kini, Puncak Lima Jari terus berkembang seiring meningkatnya minat wisatawan. Tantangan ke depan adalah menjaga agar pertumbuhan tersebut tetap sejalan dengan prinsip keberlanjutan. Bagi warga Desa Pattimpa, bukit ini bukan hanya aset ekonomi, tetapi juga simbol kreativitas, kemandirian, dan harapan akan masa depan desa yang lebih baik.
Di puncak bukit itu, lima jari seolah terulur ke langit, bukan hanya sebagai ikon wisata, tetapi sebagai penanda bahwa dari desa kecil di Bone, sebuah gagasan sederhana mampu menjangkau perhatian banyak orang. Sebuah pesan bahwa pariwisata, ketika dikelola dengan hati dan kebersamaan, dapat menjadi jalan perubahan yang bermakna.


