Pakaian Adat Nagekeo, Makna dan Nilai Filosofinya

Pulau ini adalah ketenangan abadi. Tak hanya keramahan senyum mereka, masih ada cerita yang lebih dari itu. Kearifan lokal dan kekayaan tradisi yang diwariskan nenek moyang dituntut untuk terus dijaga, dilestarikan hingga jauh di masa depan.

Nagekeo yang Tak Banyak Orang Tahu, Temukan di Edisi Spesial Ini!

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia! Selengkapnya
X

Lipa Dhowik Mbay yang Jarang Dijumpai

Bahwa sesuatu yang sakral menjadi harta karun yang sangat bernilai tinggi. Orang Mbay pada khususnya tidak akan mengenakan lipa dhowik pada hari-hari biasa. Terkecuali pada hari yang  diwajibkan seperti kematian, acara adat, pesta pernikahan atapun hari penting lainnya dan kebiasaan ini telah terjaga. 

Bersamaan dengan itu filosofi tentang mengapa lipa dhowik dikenakan pada waktu tertentu? Tanah Mbay merupakan tanah yang subur dan berkelimpahan. Hampir setiap orang memiliki ternak, harta yang disembunyikan untuk menopang kekurangan bhone jonok dalam rumah. Biasanya mereka akan mengunakan saat-saat yang sangat mendesak. Tidak memamerkan jenis harta apa saja yang mereka miliki.  

Sumber Daya Alam dan Warisan

Dalam proses yang diajarkan turun temurun oleh para petua mereka bahwa alam dan manusia adalah kekuatan. Kala alam sehat maka manusia akan hidup lebih lama,  alam akan memenuhi semua kebutuhan tanpa menolak sedikitpun.

- Advertisement -

Manusia terus datang dan pergi bergantian dari dunia. Anak cucu tumbuh dewasa. Menentukan arah hidup untuk masa depan mereka. Namun, di balik kemegahan, tersisi nilai-nilai yang mengajarkan tentang gotong-royong, solidaritas, dan persatuan dalam masyarakat Nagekeo.

Mengajarkan tentang pentingnya menjaga dan melestarikan tradisi serta nilai-nilai luhur yang telah diterima dari generasi sebelumnya. Dalam baju adat ini terkandung semangat untuk terus maju tanpa melupakan akar dan jati diri.

FOTO: Kerajaan Nagekeo Tahun 1919

Baca Juga :  Kotajogo, Tebing Batu Pantai yang Eksotis