Mengenal Rumah Adat Selayar dan Filosofinya

Suku Selayar, yang sering dianggap sebagai sub-suku Makassar, memiliki budaya dan cara hidup yang mirip dengan suku Makassar. Tradisi pernikahan, seperti erang-erang bosara, dan berbagai adat istiadat lainnya hampir serupa.

Mau nulis? Lihat caranya yuk!
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia!

Rumah adat selayar: Namun, ada dorongan kuat dari masyarakat Selayar untuk diakui sebagai “suku bangsa” yang mandiri dan berbeda dari suku Makassar. Walaupun demikian, sejarah dan asal-usul mereka kemungkinan besar berbagi nenek moyang yang sama.

Bahasa Selayar, yang berbeda dari Bahasa Makassar, memiliki intonasi dan pengucapan yang khas. Meskipun ada beberapa kata yang mirip, bahasa Selayar tidak mengenal kata-kata kasar. Bahasa ini memiliki hubungan erat dengan bahasa Konjo Pesisir yang digunakan di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Mayoritas masyarakat Selayar menganut agama Islam, yang sangat mempengaruhi tradisi dan budaya mereka. Kombinasi antara budaya lokal dan ajaran Islam terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat Selayar dikenal lembut dan sopan, dengan aturan sosial yang diwariskan turun temurun, salah satunya adalah “Kapalli” yang berarti pantangan atau larangan yang harus dihindari untuk menghindari nasib buruk.

- Advertisement -

Rumah Adat Suku Selayar

Masyarakat Kampung Tua Bitombang di Kelurahan Bontobangun, Kecamatan Bontoharu, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, memiliki kebiasaan unik dalam membangun rumah. Mereka memilih mendirikan rumah dengan tiang tinggi di lereng bukit, meskipun tanah datar juga tersedia di daerah tersebut.

Rumah adat selayar
Rumah ini punya tiang yang sangat tinggi.

Ciri khas rumah adat di Bitombang adalah tinggi tiang belakang yang mencapai 10-20 meter, sementara tiang depannya berkisar antara 2-3 meter. Kayu yang digunakan untuk membangun rumah biasanya adalah kayu bitti atau holasa yang dikenal sangat kuat dan tahan hingga ratusan tahun. Hingga kini, tiang penyangga rumah-rumah tersebut belum ada yang roboh, menunjukkan kekuatan dan keawetan bahan bangunannya.

Beberapa rumah di kampung ini bahkan diperkirakan sudah berumur 200 tahun. Bagian atap biasanya terbuat dari bambu, sedangkan dindingnya menggunakan papan kayu biasa. Arsitektur rumah ini tidak pernah berubah, diwariskan secara turun temurun.

- Advertisement -
Baca Juga :  Tari Cerana, Cara Unik Masyarakat Kupang Menyambut Tamu

Tinggi tiang rumah melambangkan panjangnya usia penghuninya. Selain itu, saat awal pembangunan rumah, ditanam jampi di sekitar rumah yang tidak boleh diketahui orang lain. Rumah-rumah ini mencerminkan kekuatan, ketahanan, dan keunikan masyarakat Selayar dan jadi saksi bisu sejarah panjang masyarakatnya, tetapi juga menjadi simbol kebudayaan

Eksotisme dan keunikan rumah-rumah adat ini diperkuat oleh keramahan penduduk setempat. Etika ketimuran yang kental di wilayah ini menciptakan suasana yang hangat dan ramah bagi para pendatang. Selayar, yang terletak di ujung selatan Pulau Sulawesi, menawarkan kekayaan budaya dan alam yang menawan. Kampung Tua Bitombang hanya berjarak sekitar 7 kilometer dari Kota Benteng, ibu kota Kabupaten Kepulauan Selayar.

- Advertisement -