Mengenal I Manyambungi, Raja Mandar Pertama Kerajaan Balanipa

Menurut beberapa penutur sejarah, ada catatan menarik bahwa I Manyambungi diperkirakan lahir bersamaan dengan kehadiran sebuah keris. Oleh karena itu, sebelum I Manyambungi dikenal dengan nama tersebut, dia sering diidentifikasi dengan nama To Rindu Gayang atau kembar keris.

Mau nulis? Lihat caranya yuk!
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia!

Selain itu, sebelum dikenal sebagai I Manyambungi, ia dikenal dengan sebutan To Patula-tula, yang dianggap membawa aura keramat karena teman bermainnya diyakini tak akan selamat jika bermain bersamanya, terutama ketika dia marah atau marah kepada mereka.

Sebagai akibatnya, I Manyambungi sering dijuluki sebagai To Mapai’ Lila, yang berarti orang yang pahit lidahnya. Sebelum menjabat sebagai Mara’dia pertama di Balanipa, I Manyambungi bahkan sempat menjadi panglima perang di Kerajaan Gowa pada masa pemerintahan Raja Gowa IX Daeng Matenre (Tomapa’risi’ Kallona). Kedatangan I Manyambungi ke Gowa terjadi selama masa pemerintahan Karaeng Batara Gowa sebagai raja ketujuh.

Kehadiran I Manyambungi di Gowa terkait dengan hubungan perdagangan antara Kerajaan Gowa dan komunitas Tomakaka di Mandar, termasuk dengan To Makaka Napo, yang berjalan dengan baik.

- Advertisement -

Dalam catatan sejarahnya, I Manyambungi pertama kali tiba di Gowa ketika masih berusia sangat muda. Kedatangannya ke Butta (tanah) Gowa tampaknya merupakan bentuk pengasingan diri sebagai hukuman atas perbuatannya, yang merupakan hasil dari tindakannya membunuh saudara sepupunya sendiri.

Di Gowa, I Manyambungi lebih dikenal dengan sebutan I Billa Billami. Ia kemudian menikahi Karaeng Surya Putri dari Karaeng Sandrabone, yang juga merupakan putri mandar dan istri dari Raja Gowa VII, Karaeng Batara Gowa. Dari perkawinan tersebut, mereka memiliki seorang putra sulung yang diberi nama To Mepayung, diikuti oleh kelahiran tiga orang putri lainnya.

Prestasi I Manyambungi sebagai seorang panglima perang di Kerajaan Gowa terkenal hingga ke Lita’ (tanah) Mandar. Ia berhasil memimpin pasukan Kerajaan Gowa untuk menaklukkan Kerajaan Lohe dan bahkan Pariaman di Sumatra Barat, yang pada masa itu dianggap sebagai salah satu kerajaan terkuat.

- Advertisement -

Dalam perjuangannya, I Manyambungi memperoleh sebuah Gong dari Lohe, yang juga dikenal sebagai Ta’bilohe, dan sebuah keris Pattarapang milik raja Pariaman. Keberhasilan ini kemudian menyebabkan penggunaan sarung sutra Mandar sering kali digunakan dalam berbagai ritual dan upacara adat di Sumatera. Hal ini dianggap sebagai salah satu bukti keberhasilan I Manyambungi dalam penaklukan Kerajaan Gowa.

Baca Juga :  FOTO: Toraja Tahun 1977

Pada saat yang bersamaan di Mandar, terjadi konflik antara Appe’ Banua Kaiyyang dan Passokkorang (biring lembang, renggeang, manu-manukang salarri). Para To Makaka dari Appe Banua Kaiyyang sepakat untuk mengirim Pappuangan Mosso menjemput I Manyambungi di Gowa.

Harapannya adalah bahwa kehadiran I Manyambungi, yang memiliki nama besar, akan membantu Appe Banua Kaiyyang untuk meninggalkan Gowa dan menuju Napo. Ketika rombongan I Manyambungi tiba kembali di Napo setelah hampir sebulan perjalanan melalui laut menggunakan lopi (perahu), masyarakat Napo, termasuk Puang Digandrang, menyambut mereka di Labuang Palippis.

- Advertisement -

Inilah awal dari pemberian gelar Todilaling (orang yang digotong) kepada I Manyambungi. Dengan kembalinya I Manyambungi, Appe Banua Kaiyyang bergabung untuk membentuk kerajaan yang lebih besar, yang kemudian diberi nama Kerajaan Balanipa (arajang Balanipa).

Para To Makaka dari Appe Banua Kaiyyang setuju untuk mengangkat I Manyambungi sebagai Mara’dia. Sebagai Mara’dia, I Manyambungi dibantu oleh Puang Dipoyosan, Puang Soro Pa’bicara Kaiyyang yang pertama, serta Puang Puatta Isaragiang, keturunan dari To Kanacca’ Raja Alu, untuk merancang strategi menaklukkan Passokkorang di bawah kepemimpinan Takkai’ Bassi, dengan dukungan dari Puatta Dibulo, keturunan Toajoan.

Siasat yang digunakan oleh I Manyambungi, termasuk mengirim Puatta Saragiang bersama Puatta Dibulo, berhasil menyusup ke Passokkorang dan membantu pasukan Balanipa untuk memukul mundur pasukan Passokkorang. Passokkorang akhirnya mengakui kekuasaan Balanipa melalui perjanjian damai setelah perang dan pembumi hangusan Passokkorang.

Kerajaan Balanipa mulai mengalami perbaikan dalam sistem birokrasi setelah I Manyambungi mengirimkan keponakannya, Puang Dipoyosan, untuk meminta adat konstitusi dari Kerajaan Gowa. Ini mencakup adat Gowa yang ditulis dalam bentuk lontar dan menghapus beberapa adat lama di Balanipa, salah satunya adalah adat bala batu (pagar batu) atau bala tau, yang terletak di desa tammejara, yang saat ini berada di kecamatan Balanipa.

Baca Juga :  Asal Mula Kain Adat Sawu, Muji Babr dan Lou Babo

Salah satu aspek yang diperkenalkan adalah sistem peradilan yang mengandalkan hukum rimba yang kuat menang, di mana pemenang dianggap benar dan hidup, sementara yang kalah dianggap bersalah dan akan mati jika terlibat dalam perselisihan. Sistem ini melibatkan sigayang (baku tikam) yang dilakukan dalam satu sarung, mirip dengan praktik di Kerajaan Romawi Kuno.

Perlu dicatat bahwa meskipun ada persamaan dengan Romawi Kuno, di Mandar, praktik sigayang masih lebih menakutkan karena melibatkan penggunaan keris dalam satu sarung. Dalam perbedaan lain dengan Romawi Kuno, di Romawi, pertarungan biasanya melibatkan berkendara di atas kuda, sehingga masih ada peluang untuk menghindar dan melarikan diri. Sebagai hasilnya, Mandar memiliki tradisi yang unik dan berbeda dalam sistem peradilan dan peraturan kerajaan mereka.

Penghapusan aturan lama di Mandar menandai diberlakukannya konstitusi baru yang menjadi panduan dan sumber inspirasi dalam penyelenggaraan pemerintahan Balanipa.

I Manyambungi meninggal setelah istri keduanya melahirkan enam anak, semuanya laki-laki. Upacara pemakaman yang diadakan oleh keluarga besar dan rakyat Balanipa saat kematiannya sangat sakral. Semua dayang-dayang atau pelayan dan pengawal setianya ikut serta dalam upacara tersebut, yang disertai oleh alunan musik gandrang dan Gong Bilohe.

Setelah dikebumikan bersama-sama, menurut penutur sejarah, warga di sekitar lokasi pemakaman I Manyambungi masih dapat mendengar suara musik dan melihat gerakan tarian dari dalam liang lahat hingga hari keempat puluh. Sampai saat ini, di atas tempat pemakaman I Manyambungi, tumbuh sebuah pohon besar yang dikenal sebagai ponna lambe.

Akibatnya, kisah dan sejarah Todilaling bukan hanya sebatas sejarah lokal yang terbatas pada wilayah Balanipa Mandar. Peran I Manyambungi Todilaling tidak hanya terbatas pada Balanipa, tetapi juga mencakup Gowa dan bahkan mencapai wilayah lain, seperti Jawa dan Sumatera.

Baca Juga :  Sejarah Gedung Kesenian Makassar, Simbol Kebudayaan di Makassar
- Advertisement -