Makna dan Filosofi Mappacci, Budaya Pengantin Bugis-Makassar

Di kalangan suku Bugis, ada prosesi adat yang dilalui calon pengantin menjelang akad/pemberkatan nikah keesokan harinya; yaitu malam pacar.

| www.dimensiindonesia.com | cerita Indonesia tentang keindahan alamnya, keunikan dan keberagaman budayanya |

Mau nulis? Lihat caranya yuk!
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia!

Makna Simbol yang Terkandung dalam Prosesi Mapacci

Pada prosesi mapacci dalam pernikahan adat Bugis-Makassar, terdapat berbagai simbol dan makna yang terkandung dalam setiap elemen yang digunakan, berikut Filosofi Mappacci.

  1. Bantal (kanggulung): Bantal dalam mapacci adalah tanda kemuliaan, harakat, dan martabat. Kepala dianggap sebagai tanda kemuliaan, dan bantal adalah tempat kepala. Oleh karena itu, bantal digunakan dalam mapacci sebagai tanda bersih atau suci untuk calon pengantin.
  2. Sarung sutra (lipaq sa’be): Sarung yang diikat melambangkan persatuan. Sarung ini terbuat dari benang yang dijadikan satu, mencerminkan harapan agar calon pengantin yang sebelumnya terpisah kini bersatu.
  3. Daun pucuk pisang (colliq daung utti): Daun pucuk pisang melambangkan kehidupan yang saling menyambung dan berkesinambungan. Pisang tidak bisa berkembang tanpa adanya pisang baru, sehingga daun pucuk pisang digunakan dalam mapacci untuk mewakili harapan akan keturunan atau anak dalam pernikahan.
  4. Daun nagka (daung panasa): Daun nagka melambangkan cita-cita leluhur, pengahapan, dan kejujuran. Dalam bahasa Bugis, daun ini disebut “daung panasa,” yang artinya harapan. Penggunaan daun nagka dalam mapacci menggambarkan harapan agar harapan calon pengantin juga terwujud, seperti nama buah nangka yang berarti “panasa” atau harapan.
  5. Daun pacar (daung pacci): Daun pacar, atau “pacci,” melambangkan kesucian dan kejujuran. Ini merujuk pada pantun Bugis yang menyebutkan bahwa hanya dua hal yang menjadi persaikan, yaitu pacci (kesucian) dan lempu (kejujuran).
  6. Beras (berre): Beras yang dibakar menggambarkan pertumbuhan dan perkembangan. Ketika beras dibakar, ia mengembang, yang mencerminkan harapan agar calon pengantin juga dapat berkembang dengan baik, termasuk memiliki keturunan.
  7. Lilin (liling): Lilin digunakan sebagai penerangan dan cahaya. Ini simbolisasi cahaya yang diberikan kepada calon pengantin agar hidup mereka selalu terang. Lilin juga mewakili harapan agar pernikahan mereka berlangsung dengan baik karena mendapatkan penerangan.
  8. Tempat pacci (onrong pacci): Tempat pacci melambangkan harapan bahwa pasangan suami istri akan tetap bersatu, menikmati cinta dan kasih sayang, dan menjalin hubungan keluarga yang harmonis.
  9. Gula merah dan kelapa (golla cella na kaluku): Gula merah dan kelapa digunakan dalam mapacci sebagai simbol saling melengkapi. Seperti gula merah dan kelapa yang bersatu dalam makanan akan memberikan rasa nikmat dan lengkap, demikian pula kedua calon pengantin diharapkan akan saling melengkapi dalam kehidupan pernikahan mereka.
Baca Juga :  Enam Wisata Terbaik Di Kab. Ngada Bajawa

Semua elemen ini mencerminkan harapan, kesucian, persatuan, kehidupan berkesinambungan, dan kebahagiaan dalam pernikahan.

Cara Memberi Pacci Kepada Calon Pengantin

Filosofi Mappacci juga terkandung dalam tiap tahapan mapacci.

- Iklan -
  1. Persiapan Daun Pacci: Ambil sedikit daun pacci yang telah dihaluskan dan dibentuk bulat agar lebih praktis untuk diberikan.
  2. Penyampaian Daun Pacci: Letakkan daun pacci ke tangan calon mempelai. Pertama, letakkan di telapak tangan kanan calon mempelai, lalu di telapak tangan kiri. Sambil meletakkan daun pacci, sertakan doa semoga calon mempelai kelak dapat hidup dengan bahagia. Doa ini merupakan ungkapan harapan dan restu untuk masa depan mereka.
  3. Pemberian Rokok: Setelah memberikan daun pacci, biasanya pemberi pacci memberikan rokok sebagai simbol. Dahulu, sirih yang telah dilipat-lipat dengan segala isinya digunakan, tetapi sekarang, rokok sering digunakan sebagai gantinya.
  4. Penyebutan Butiran Beras (Wenno): Sekali-kali, orang yang memberikan pacci dapat menghamburkan butiran beras (wenno) kepada calon mempelai sebanyak tiga kali. Ini mungkin disertai dengan doa. Tujuannya adalah agar calon mempelai dapat mekar, berkembang, dan mendapatkan berkah rezeki di masa depan.
  5. Penyediaan Lamming (Pelaminan): Calon mempelai yang telah dirias seperti pengantin akan didudukkan di atas lamming atau pelaminan. Mereka akan didampingi oleh seorang indo’ botting, yaitu juru rias pengantin. Calon mempelai akan menghadap bantal dengan kedua tangan mereka diletakkan di atasnya. Hal ini dimaksudkan agar mereka dapat menerima daun pacci yang akan diberikan oleh orang-orang yang akan melakukan mapacci.

Nah, itulah Filosofi Mappacci yang wajib kamu tahu jika ingin nikah dengan orang bugis.

- Iklan -

Mau lihat keindahan Indonesia lainnya?
Yuk tekan tombolnya!

BAGIKAN