Lipa Saqbe, Tenun Sutra Warisan Mandar dengan 11 Motif

Indonesia memiliki beraneka ragam kain tradisional yang menjadi simbol dari budaya bangsa. Beberapa jenis kain Nusantara antara lain batik, songket, ulos, sasirangan, lurik, tapis, jumputan, dan tenun.

| www.dimensiindonesia.com | cerita Indonesia tentang keindahan alamnya, keunikan dan keberagaman budayanya |

Beberapa jenis kain Nusantara antara lain batik, songket, ulos, sasirangan, lurik, tapis, jumputan, dan tenun. Dari jenis kain tersebut juga masih terbagi dari berbagai varian, mengingat setiap daerah di Indonesia memiliki perbedaan kebudayaan dan keyakinan yang memengaruhi banyak hal dalam pembuatan kain, termasuk motif, warna, dan ragam hiasannya.

Keberagaman suku dan kebudayaan di Indonesia telah memunculkan beraneka produk kebudayaan, salah satunya adalah wastra. Diambil dari bahasa Sansekerta, wastra secara etimologis dimaknai sebagai sehelai kain dengan corak khusus yang dibubuhkan di atasnya dan memiliki makna tertentu.

Kita biasa menyebut wastra sebagai kain tradisional yang tidak hanya mencakup pada falsafah, tapi juga simbol sejarah kebudayaan dan tradisi dari suatu etnis.

Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat terdapat lebih dari 1.000 etnis yang berdiam di nusantara dan menciptakan wastranya sendiri. Ini menjadikan negara kita sebagai rumah wastra terbesar di dunia.

Di masa lalu, wastra tak hanya dimaknai sebagai pakaian yang dikenakan. Tetapi dalam sehelai wastra terdapat simbol-simbol sebagai bentuk berkomunikasi yang diekspresikan lewat cara berpakaian. Batik, songket, sulam, dan ikat adalah produk-produk dari apa yang disebut sebagai wastra nusantara.

Ada beragam teknik dalam menciptakan wastra, salah satunya tenun. Teknik tenun merupakan cara masyarakat dalam membuat kain dengan menggabungkan benang secara memanjang dan melintang. Bagian benang vertikal pada tenun disebut benang lungsin.

Sedangkan tenun yang bagian benang horizontalnya diikat disebut benang pakan. Kain tenun biasanya terbuat dari serat kayu, kapas, sutra, dan lainnya.

Menurut perancang Indonesia yang bergelut di wastra, Samuel Wattimena, tidak semua motif tenun dibuat dengan teknik ikat tersebut. Seperti songket yang ditenun dengan tangan menggunakan benang emas dan perak.

Baca Juga :  Angklung Buhun Baduy dan Nilai Sakralnya

Punya Sebelas Motif

Salah satu produk tenun berbenang sutra adalah sarung sutra asal Suku Mandar yang mendiami wilayah Kabupaten Polewali Mandar (Polman) di Provinsi Sulawesi Barat. Tenun sarung sutra Mandar telah diproduksi sejak abad ke-16 serta dikenal memiliki kualitas halus dan tidak mudah luntur. Sarung sutra Mandar dikenal juga dengan sebutan lipa saqbe Mandar.

Kain tenun ini pertama kali dibawa masuk ke Indonesia oleh para saudagar Arab dan Gujarat di India pada abad ke-14. Kain sarung sutra merupakan selongsong kain lebar yang dijahit pada kedua ujungnya sehingga dapat membentuk seperti tabung.

Pada dasarnya, lipa saqbe Mandar memiliki dua ciri khas dalam corak atau motifnya yakni sure’ dan bunga. Sure’ berbentuk garis geometris sederhana yang merupakan motif klasik lipa saqbe Mandar. Sedangkan motif bunga merupakan perpanjangan dari motif sure’ dengan penambahan berbagai dekorasi, baik itu unsur flora maupun fauna.

Bagikan

Bantu kami menyabarkan kaindahan Indonesia.

BACA JUGA

- Advertisement -