Lekun, Kue Adat Khas Sikka yang Kini Menjadi Oleh-Oleh

Di wilayah Tana Ai, pembuatan Lekun juga berkaitan dengan sejumlah ketentuan adat. Masyarakat setempat meyakini bahwa orang yang membuat kue ini harus menjaga kebersihan hati dan perkataan.

Nagekeo yang Tak Banyak Orang Tahu, Temukan di Edisi Spesial Ini!

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia! Selengkapnya
X

Lekun merupakan salah satu makanan tradisional khas Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kue berbahan dasar beras dan kelapa ini dikenal memiliki cita rasa manis serta tekstur kenyal. Selain sebagai makanan khas, Lekun juga memiliki kedudukan penting dalam kehidupan adat masyarakat Sikka.

Kue tradisional ini berasal dari sejumlah wilayah di Kabupaten Sikka, terutama kawasan timur seperti Tana Ai, Kewapante, Bola, Hewokloang, dan Kangae. Pada masa lalu, Lekun tidak dibuat setiap hari, melainkan disiapkan untuk keperluan tertentu, terutama dalam rangkaian upacara adat.

Lekun biasanya disajikan saat penyerahan belis atau mahar, pertunangan, pernikahan, syukuran hasil panen, hingga upacara kedukaan yang dikenal dengan sebutan lodo huer. Kehadirannya menjadi bagian dari sajian yang menyertai berbagai tahapan kehidupan masyarakat setempat.

- Advertisement -

Di wilayah Tana Ai, pembuatan Lekun juga berkaitan dengan sejumlah ketentuan adat. Masyarakat setempat meyakini bahwa orang yang membuat kue ini harus menjaga kebersihan hati dan perkataan. Mereka tidak diperbolehkan berbicara kasar, membentak, atau memaki selama proses pembuatan. Menurut kepercayaan setempat, pelanggaran terhadap ketentuan tersebut dapat menyebabkan Lekun lebih cepat basi.

Gambar kue Lekun ( sumber gambar : Facebook – MaUmErE Of FlOrEs)

Bahan dan Proses Pembuatan

Bahan utama pembuatan Lekun cukup sederhana. Bahan-bahan yang digunakan antara lain beras putih, beras ketan hitam, kelapa parut, gula merah, gula pasir, dan sedikit air. Dalam perkembangannya, beberapa pembuat juga menggunakan tepung beras atau menambahkan susu sesuai selera.

- Advertisement -

Secara tradisional, beras putih dan ketan hitam terlebih dahulu direndam dengan sedikit air panas agar lebih mudah ditumbuk hingga menjadi tepung. Perbandingan kedua jenis beras tersebut dapat disesuaikan. Ada pula pembuat yang menggunakan ketan hitam sebagai satu-satunya bahan beras.

Tepung beras kemudian dicampur dengan kelapa parut, gula merah, dan gula pasir. Seluruh bahan diaduk hingga merata dengan tambahan sedikit air untuk menghasilkan adonan yang lembap.

Baca Juga :  Jagung Titi, Makanan Pokok Flores Timur yang Jadi Simbol Pangan Lokal

Setelah adonan siap, proses berikutnya adalah menyiapkan bambu hijau yang telah dipotong sesuai ukuran. Bagian dalam bambu dibersihkan, kemudian adonan dimasukkan ke dalamnya. Salah satu ujung bambu tetap tertutup oleh buku bambu agar adonan tidak keluar, sedangkan bagian atasnya ditutup menggunakan daun pisang.

- Advertisement -

Bambu berisi adonan kemudian dipanggang di dekat bara api. Selama proses pemanggangan, bambu perlu dibolak-balik agar panas merata dan adonan matang dengan baik.

Setelah matang, bambu diangkat dan didiamkan hingga dingin. Bagian luar bambu yang terbakar dibersihkan sebelum Lekun dipotong berbentuk lingkaran sesuai ukuran yang diinginkan. Kue ini selanjutnya siap disajikan.

Gambar proses pembuatan kue Lekun ( sumber gambar : KOMPAS.com)

Dari Sajian Adat Menjadi Oleh-Oleh

Seiring perkembangan waktu, Lekun mulai mengalami perubahan dalam cara penyajian dan pemanfaatannya. Jika dahulu pembuatannya lebih banyak ditujukan untuk kebutuhan upacara adat dan acara keluarga, kini kue tersebut mulai diproduksi untuk konsumsi masyarakat umum.

Lekun juga mulai dipasarkan sebagai salah satu pilihan oleh-oleh khas Kabupaten Sikka. Perubahan ini membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal dan menikmati makanan tradisional tersebut tanpa harus menunggu pelaksanaan upacara adat.

Perkembangan Lekun sebagai produk kuliner sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan pangan tradisional Sikka kepada masyarakat yang lebih luas. Di tengah perubahan pola konsumsi, keberadaan kue ini tetap mengingatkan masyarakat pada tradisi dan nilai adat yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

- Advertisement -

Majalah Dimensi Indonesia:
Edisi Nagekeo

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.

Unduh majalah