Keraton Ismahayana, Rumah Panggung Kayu Belian yang Menyimpan Sejarah Kerajaan Landak

Keraton Ismahayana bukan hanya peninggalan arsitektur. Ia adalah ruang tempat sejarah, identitas Melayu dan Dayak, tradisi Islam, serta kebudayaan masyarakat Landak bertemu. Melalui bangunan, pusaka, dan tradisi yang terus berlangsung, jejak kerajaan itu tetap dapat dibaca oleh generasi yang datang setelahnya.

Nagekeo yang Tak Banyak Orang Tahu, Temukan di Edisi Spesial Ini!

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia! Selengkapnya
X

Di Desa Raja, Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, sebuah bangunan kayu berdiri di tengah lanskap yang menyimpan perjalanan panjang sejarah sebuah kerajaan. Bangunan itu adalah Keraton Ismahayana, salah satu peninggalan Kerajaan Landak yang hingga kini masih digunakan sebagai ruang penyimpanan pusaka dan tempat berlangsungnya berbagai kegiatan budaya.

Dari luar, keraton Ismahayana memperlihatkan karakter rumah panggung khas Melayu Kalimantan Barat. Namun, di balik dinding dan lantainya yang terbuat dari kayu belian, tersimpan benda-benda yang menjadi saksi perjalanan Kerajaan Landak, mulai dari mahkota, keris, pedang, hingga Al-Qur’an kuno.

Dari Pulang Pali hingga Ismahayana

Jejak awal Kerajaan Landak tidak sepenuhnya mudah ditelusuri. Salah satu sumber publikasi mengenai upacara adat pengangkatan Raja Keraton Ismahayana menyebut kisah Raden Kesuma Sumantri Indra Ningrat yang bergelar Ratu Sang Nata Pulang Pali.

- Advertisement -

Tokoh tersebut dipercaya datang dari Jawa ke Kalimantan lalu  mendirikan kerajaan di kawasan yang dikenal sebagai Ningrat Batur atau Angrat Batur, di sekitar aliran Sungai Landak.

Dari garis keturunannya kemudian muncul Raden Ismahayana. Tokoh ini kelak menjadi salah satu penguasa awal Kerajaan Landak dan menjadi asal-usul nama Ismahayana.

Raden Ismahayana bergelar Raja Dipati Karang Tanjung Tua dan disebut memerintah sekitar 1472–1542. Ia merupakan putra Raden Kesuma Sumantri Indra Ningrat dari perkawinannya dengan perempuan Dayak bernama Dara Itam.

- Advertisement -

Perjalanan politik dan keagamaannya kemudian membawa perubahan penting. Setelah memeluk Islam, Raden Ismahayana berganti nama menjadi Abdulkahar. Pada masa pemerintahannya, pusat kerajaan dipindahkan ke kawasan Munggu, tepatnya di pertemuan Sungai Landak dan Sungai Menyuke.

Perpindahan tersebut jadi penanda bagaimana sungai memiliki posisi penting dalam perkembangan pusat kekuasaan di Kalimantan. Sungai bukan hanya jalur pergerakan manusia dan barang, tetapi juga menjadi bagian dari ruang tempat komunitas dan pusat pemerintahan berkembang.

Baca Juga :  18 Bangunan Tua di Makassar, Sejarah & Lokasi

Keraton yang Berdiri Lebih dari Seabad

Bangunan Keraton Ismahayana yang dapat dilihat sekarang bukanlah bangunan pertama yang menjadi pusat Kerajaan Landak. Berdasarkan kajian pemugaran yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bangunan yang sekarang didirikan pada 1912 oleh Gusti Abdul Hamid.

- Advertisement -

Keraton tersebut kemudian menjalani renovasi pada 1977 hingga 1982.

Bangunan utamanya memiliki luas sekitar 590 meter persegi, sedangkan keseluruhan kompleks mencapai sekitar 9.817 meter persegi. Bentuk rumah panggung dengan kolong sekitar setengah meter menjadi salah satu ciri arsitekturnya.

Ruang depan, tengah, dan belakang dihubungkan oleh teras. Bagian depan memiliki teras terbuka yang dahulu dapat digunakan untuk menerima tamu maupun melangsungkan berbagai kegiatan kerajaan.

Hampir seluruh unsur utama bangunan menggunakan kayu belian, mulai dari lantai, dinding, hingga bagian atap. Kayu belian merupakan kayu besi khas Kalimantan yang dikenal kuat dan tahan lama.

Penggunaan material tersebut tidak hanya menghasilkan bangunan yang kokoh, tetapi juga memperlihatkan hubungan erat antara arsitektur tradisional dengan sumber daya alam setempat. Bentuk bangunannya yang memanjang ke belakang semakin memperkuat karakter rumah Melayu Kalimantan Barat.

Pusaka yang Menyimpan Ingatan Kerajaan

Memasuki kompleks keraton, nuansa kuning menjadi salah satu warna yang menonjol. Di dalam bangunan tersimpan berbagai benda yang berkaitan dengan kehidupan Kerajaan Landak.

Di antara koleksinya terdapat mahkota Sultan Landak, keris Si Kanyut, sepasang pedang, tempat tidur Panembahan dan istrinya, duplikat payung kebesaran Sultan, dua kipas raja, seperangkat gamelan, serta Al-Qur’an kuno.

Koleksi lainnya mencakup meriam Si Penyuk dan empat meriam lain, lontar yang memuat silsilah raja serta sejarah singkat Kesultanan Landak, foto keluarga kerajaan, bendera Kesultanan, dan perlengkapan upacara perkawinan adat berupa timbangan kayu.

Baca Juga :  Sejarah Kerajaan Majapahit, Awal Berdiri, Masa Kejayaan dan Keruntuhan

Benda-benda tersebut memberikan gambaran mengenai kehidupan kerajaan dari berbagai sisi. Sebagian berkaitan dengan kekuasaan dan simbol kebesaran, sementara lainnya memperlihatkan kehidupan sehari-hari, keagamaan, seni, dan tradisi adat.

Karena itu, keraton tidak hanya dapat dipandang sebagai bangunan bersejarah. Ia juga berfungsi sebagai ruang penyimpanan memori kolektif yang membantu masyarakat mengenali perjalanan Kerajaan Landak.

Sejarah yang Tetap Bergerak

Kehidupan budaya di Keraton Ismahayana tidak berhenti ketika pemerintahan kerajaan berakhir. Kompleks keraton masih digunakan untuk menyimpan koleksi sejarah sekaligus menjadi tempat berlangsungnya berbagai kegiatan budaya.

Salah satunya adalah Festival Budaya Tumpang Negeri Keraton Ismahayana. Pada 2025, festival tersebut memasuki penyelenggaraan yang ke-25, menunjukkan bahwa keraton masih memiliki peran dalam kehidupan budaya masyarakat hingga masa kini.

Namun, perjalanan Kerajaan Landak juga memiliki bagian sejarah yang kelam. Masa pemerintahan Pangeran Ratu Gusti Abdul Hamid, raja ke-27, berakhir ketika ia menjadi korban pembantaian tentara Jepang dalam Peristiwa Mandor pada 1943.

Lokasi pembantaian tersebut kini dikenal sebagai Makam Juang Mandor, salah satu situs bersejarah yang mengingatkan masyarakat pada kekejaman masa pendudukan Jepang di Kalimantan Barat.

Peristiwa itu menjadi bagian dari lapisan sejarah yang lebih luas di balik Keraton Ismahayana. Bangunan ini tidak hanya merekam masa kerajaan, tetapi juga menjadi saksi perubahan politik dan tragedi yang terjadi jauh setelah masa kejayaan kerajaan.

Kini, lebih dari satu abad setelah bangunan keraton didirikan, rumah panggung kayu belian tersebut masih berdiri di Ngabang. Usianya memang jauh lebih muda dibandingkan sejarah Kerajaan Landak yang ditelusuri hingga berabad-abad sebelumnya, tetapi dinding dan koleksi di dalamnya menjadi penghubung antara masa lalu dan kehidupan masyarakat sekarang.

Baca Juga :  Sejarah Masjid Kuno Gunung Pujut, Peninggalan Abad ke-17
- Advertisement -

Majalah Dimensi Indonesia:
Edisi Nagekeo

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.

Unduh majalah