Gereja Fanorotodo, Saksi Bisu Jejak Kristen Protestan di Nias

Jejak masuknya Kristen Protestan di Nias salah satunya bisa ditemukan di Gunungsitoli. Peninggalan itu berupa Gereja bernama Fonorotodo yang berarti mengenang kembali atau peringatan.

| www.dimensiindonesia.com | cerita Indonesia tentang keindahan alamnya, keunikan dan keberagaman budayanya |

Mau nulis? Lihat caranya yuk!
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia!

Gereja Fanorotodo. Puluhan bahkan ratusan tahun berlalu setelah sejarah agama yang panjang, agama Kristen Protestan dan Katolik Roma tetap menjadi agama mayoritas di Nias walaupun agama Islam masuk setelahnya.

Jejak sejarah Kristen Protestan itu masih bisa kita temui di pusat Kota Gunungsitoli. Peninggalan itu berupa gereja yang bernama Fanörötödö yang dalam bahasa Indonesia memiliki arti mengenang kembali atau peringatan.

Bentuk gereja Fanorotodo cukup unik. Dari luar terlihat atap yang berbentuk prisma dengan ujungnya diberi mahkota raja. Pintu-pintu besi terukir gambar Yesus dan para murid sedang melakukan perjamuan di atas meja.

Memasuki gereja suasana klasik dengan jajaran kursi kayu yang terbelah oleh jalan pendeta menuju altar. Menengok ke atas, di langit-langitnya yang cukup tinggi bergantung lampu neon menjulur ke bawah sebagai penerangan gereja.

Altar kayu dengan salib putih sedikit lebih tinggi dibanding kursi jemaah. Di dalam juga terdapat dua lantai dengan tangga spiral di kiri dan kanannya. Katanya, Gereja ini sama sekali tidak pernah dipugar. Gempa yang pernah menggoncang Nias pun ternyata tak mempengaruhi gereja Fanörötödö.

Sementara itu, terdapat ukiran gambar Yesus dan para murid yang sedang melakukan perjamuan di atas meja makan pada pintu besi gereja. Begitu masuk ke dalam, nuansa klasik akan langsung terasa dengan jajaran kursi kayu yang terbagi menjadi dua bagian. Di tengahnya, terdapat jalan pendeta menuju altar.

Langit-langit gereja tampak tinggi dengan dihiasi lampu neon yang menjulur ke bawah sebagai penerangan. Di bagian depan, altar kayu dengan salib putih sedikit lebih tinggi dari kursi jemaat. Gereja ini memiliki dua lantai dengan tangga spiral di kanan-kiri ruangan.

Kristen Protestan dan Katolik Roma saat ini menjadi agama mayoritas di Kepulauan Nias. Hal itu ternyata berhubungan dengan sejarah masuknya agama pertama di sana.

Baca Juga :  Pemandian Air Panas Mengeruda, Kolam "Bidadari" di Desa Mengeruda

Masyarakat Nias dulunya menyembah roh leluhur. Adalah misionaris sekaligus penginjil asal Jerman, E Ludwig Danninger yang mengenalkan agama pada mayarakat Nias. Ia datang ke Kepulauan Nias pada 27 September 1865.

- Advertisement -

Masyarakat Nias saat ini menetapkan tanggal 27 September sebagai Hari Yubelium Banua Niha Keriso Protestan (BNKP) yang melahirkan pertumbuhan gereja-gereja di Nias.

Pembabtisan di Nias sendiri sempat terhambat sampai kedatangan Belanda pada 1900 silam. Pembabtisan baru dimulai kembali 15 tahun setelahnya.

Mau lihat keindahan Indonesia lainnya?
Yuk tekan tombolnya!

Bagikan

[gs-fb-comments]

BACA JUGA

- Advertisement -