Di bawah terik matahari Palembang, semangkuk es kacang merah tampak menggoda di meja kayu sebuah warung tua di tepian Sungai Musi. Es serutnya perlahan mencair, membentuk arus kecil di antara butiran kacang merah yang lembut dan kuah santan yang kental.
Sirup merah muda mengalir pelan di atasnya, menghadirkan perpaduan warna yang kontras namun harmonis—seperti sejarah panjang kota ini yang tumbuh dari pertemuan dua peradaban: Melayu dan Tionghoa.
Es kacang merah bukan sekadar minuman pelepas dahaga di hari yang panas. Ia adalah penanda pertemuan budaya, saksi bisu dari perjalanan panjang masyarakat Palembang yang hidup di simpang jalur perdagangan dunia. Di setiap sendokannya, tersimpan kisah tentang migrasi, adaptasi, dan rasa yang menyeberangi waktu.
Jejak Sejarah dari Negeri Seberang
Dalam catatan sejarah, Palembang telah lama menjadi pelabuhan penting di Sumatra bagian selatan. Dari abad ke-7, ketika Sriwijaya berdiri megah di tepi Musi, kapal-kapal dari Tiongkok, India, dan Arab silih berganti berlabuh membawa sutra, keramik, dan rempah-rempah.
Di antara para pedagang itu, orang-orang Tionghoa datang tidak hanya untuk berdagang—mereka menetap, berbaur, dan menanamkan jejak budaya yang kini menjadi bagian dari Palembang modern.
Salah satu warisan itu adalah es kacang merah—minuman yang di Tiongkok dikenal sebagai hong dou bing (红豆冰). Di negeri asalnya, minuman ini kerap disajikan saat musim panas, terutama di Hong Kong dan Taiwan. Dingin, manis, dan lembut, minuman berbahan dasar kacang merah rebus ini menjadi pelepas dahaga yang menyegarkan di tengah suhu tropis yang lembab.
Ketika para perantau Tionghoa membawa resep ini ke Palembang berabad-abad lalu, mereka menemui bahan-bahan baru: santan dari kelapa yang tumbuh subur di tepi sungai, dan gula merah hasil panen lokal. Dari sinilah perpaduan unik itu lahir—menghadirkan cita rasa baru yang khas Palembang: es kacang merah dengan kuah santan dan sirup merah muda yang manis lembut.
Akulturasi di Dalam Mangkuk
Penelitian Fatma Dwi Oktaria dan timnya dalam Jurnal Kalpataru menyebutkan bahwa es kacang merah adalah contoh nyata akulturasi budaya kuliner Palembang. Dari Tiongkok, ia mewarisi bahan utama: kacang merah yang direbus hingga empuk. Dari Palembang, ia mendapatkan sentuhan tropis: sirup gula dan santan kental.
Dalam versi klasiknya, kacang merah direbus perlahan selama berjam-jam hingga kulitnya merekah, lalu disiram kuah santan dan disajikan bersama es serut. Warung-warung tua di kawasan 26 Ilir atau Plaju masih mempertahankan cara ini.
Di sana, ibu-ibu tua menyajikannya di mangkuk enamel bergaris biru, persis seperti dekade 1950-an. Ketika sendok menyentuh bibir mangkuk, aroma santan dan gula merah yang berpadu dengan dinginnya es serut menghadirkan sensasi nostalgia—rasa masa lalu yang bertahan di lidah masa kini.
Rasa yang Menyatukan
Es kacang merah Palembang berbeda dari saudaranya di Manado. Jika di Manado minuman ini lebih creamy karena menggunakan susu kental manis, maka di Palembang rasa santanlah yang mendominasi—memberi kesan gurih dan lembut di lidah. Sirupnya pun khas: berwarna merah cerah, manisnya tidak berlebihan, dan memberi aroma harum yang berpadu sempurna dengan kacang merah rebus.
Bagi masyarakat Palembang, es kacang merah bukan hanya penutup makan siang setelah sepiring pempek, tapi juga bagian dari keseharian yang menenangkan. Di siang yang panas, suara sendok beradu dengan mangkuk enamel menjadi irama kecil yang menemani perbincangan di tepi jalan. Minuman ini seperti jembatan antara masa lalu dan kini—menghubungkan generasi yang berbeda melalui rasa yang sama.
Lebih dari Sekadar Minuman
Dalam setiap sendoknya, tersimpan nilai sejarah yang panjang. Ia adalah saksi dari pertemuan dua budaya yang kini menyatu dalam identitas kuliner Palembang. Dari Sungai Musi yang menjadi jalur niaga kuno, hingga warung-warung sederhana di sudut kota, minuman ini terus hidup, diwariskan, dan dirayakan.
Es kacang merah bukan hanya minuman. Ia adalah cerita cair tentang perjalanan manusia, tentang rasa yang menyeberangi lautan, dan tentang bagaimana Palembang menjadikan warisan asing sebagai bagian dari dirinya sendiri.


