Di balik semarak pesta adat Bugis-Makassar, selalu tersaji aneka hidangan yang menggugah selera. Selain makanan utama, ada satu kudapan yang hampir tak pernah absen dari meja jamuan, yaitu doko’-doko’ cangkuning. Kue tradisional ini bukan sekadar makanan penutup, melainkan simbol keramahan, gotong royong, dan penghormatan kepada para tamu.
Di masyarakat Bugis, kue ini dikenal sebagai doko’-doko’ cangkoneng atau cangkuning, sedangkan masyarakat Makassar menyebutnya roko’-roko cangkuning. Kata doko’ maupun roko’ berarti “bungkus”, merujuk pada cara penyajiannya yang menggunakan daun pisang. Sementara kata cangkuning berasal dari warna kuning keemasan yang menjadi ciri khas kue ini, hasil perpaduan bahan alami seperti kunyit atau pewarna makanan tradisional yang kini digunakan sebagian pembuat.
Sajian Istimewa dalam Tradisi Bugis-Makassar
Doko’-doko’ cangkuning selalu hadir dalam berbagai hajatan, seperti pesta pernikahan, khitanan, akikah, syukuran rumah baru, hingga perayaan adat. Kue ini biasanya disusun bersama jajanan tradisional lain di dalam bosara, wadah berkaki khas Bugis-Makassar yang menjadi lambang penghormatan kepada tamu.
Dalam budaya Bugis-Makassar, menyajikan bosara yang penuh berisi aneka kue melambangkan doa agar tuan rumah diberi rezeki yang berlimpah dan kehidupan yang manis. Tak heran jika doko’-doko’ cangkuning menjadi salah satu kue yang selalu diprioritaskan.
Di luar acara adat, kue ini juga menjadi primadona saat bulan Ramadan. Menjelang waktu berbuka puasa, banyak pedagang menjual doko’-doko’ cangkuning di pasar tradisional maupun sentra kuliner. Rasanya yang manis dan mengenyangkan membuatnya cocok sebagai menu pembuka puasa.
Bahan Sederhana, Rasa Istimewa
Lihat postingan ini di Instagram
Keistimewaan doko’-doko’ cangkuning justru terletak pada bahan-bahannya yang sederhana. Adonan utamanya dibuat dari tepung ketan, tepung beras, gula, santan, garam, serta air daun suji atau pandan untuk memberikan aroma alami. Sebagian pembuat juga menambahkan sedikit tepung tapioka agar teksturnya semakin kenyal.
Bagian tengah kue diisi unti kelapa, yaitu campuran kelapa parut muda dan gula aren yang dimasak hingga mengental. Aroma pandan sering ditambahkan agar isiannya semakin harum.
Perpaduan kulit yang lembut dengan isian kelapa yang legit menghasilkan rasa manis yang pas, tanpa berlebihan.
Dibungkus dengan Teknik Tradisional
Hal yang membuat doko’-doko’ cangkuning berbeda dari kue tradisional lainnya adalah teknik membungkusnya. Daun pisang dipotong membentuk segitiga, lalu dilipat hingga menyerupai kerucut kecil. Setelah diisi adonan dan unti kelapa, bungkus ditutup rapat hingga membentuk piramida mungil.
Proses membungkus ini membutuhkan keterampilan dan ketelatenan. Dahulu, menjelang pesta adat, para perempuan di kampung akan berkumpul sejak pagi untuk membuat ratusan bungkus doko’-doko’ cangkuning secara bersama-sama. Suasana dapur dipenuhi canda, tawa, dan semangat gotong royong yang menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi Bugis-Makassar.
Harum Daun Pisang yang Menggoda
Salah satu ciri khas doko’-doko’ cangkuning adalah aroma daun pisangnya yang kuat setelah dikukus. Saat bungkus dibuka, uap hangat bercampur wangi daun pisang dan pandan langsung menguar, membuat siapa pun sulit menolak untuk segera mencicipinya.
Tekstur kulitnya lembut dan sedikit kenyal, sementara isi unti kelapanya terasa legit dengan sentuhan karamel dari gula aren. Kue ini paling nikmat disantap selagi hangat bersama secangkir kopi hitam, teh hangat, atau kopi susu khas Sulawesi Selatan.
Warisan Kuliner yang Terus Bertahan
Meski kini semakin banyak kue modern hadir di berbagai pesta, doko’-doko’ cangkuning tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Bugis-Makassar. Banyak pelaku UMKM dan pembuat kue tradisional yang terus mempertahankan resep turun-temurun agar cita rasa aslinya tidak hilang ditelan zaman.
Beberapa daerah di Sulawesi Selatan, seperti Makassar, Gowa, Maros, Pangkep, Bone, Wajo, Soppeng, dan Sidrap, masih menjadikan doko’-doko’ cangkuning sebagai salah satu sajian khas dalam berbagai acara adat maupun pasar tradisional.
Bahkan, kue ini mulai diperkenalkan dalam festival kuliner daerah sebagai bagian dari upaya melestarikan kekayaan gastronomi Sulawesi Selatan sekaligus mengenalkan cita rasa Bugis-Makassar kepada wisatawan.


