Di sebuah sore yang lengang di pesisir Bengkulu, aroma gurih dari dapur tradisional masih sesekali menyeruak di antara deru angin laut. Dari tungku-tungku tanah liat dan wajan hitam yang berjelaga, muncul bunyi minyak mendesis—pertanda sebuah camilan klasik sedang digoreng dengan penuh kesabaran. Di situlah biji khatib lahir: makanan tradisional yang dulu akrab di setiap rumah, kini perlahan menjadi kenangan yang tersisa di ujung lidah para penutur tua.
Nama “biji khatib” mungkin terdengar asing, bahkan membingungkan. Tak ada rupa biji di dalamnya, tak ada pula kaitan langsung dengan seorang khatib. Namun di Bengkulu, nama ini sudah hidup dan melekat begitu lama hingga tak seorang pun dapat memastikan asal-usulnya. Bagi masyarakat setempat, ia bukan sekadar makanan ringan—melainkan bagian dari memori masa lalu yang sarat keakraban dan rasa syukur.
Jejak dari Dapur Melayu di Tepi Samudra
Dari catatan kuliner yang termuat dalam Ensiklopedi Makanan Tradisional Indonesia (Sumatera), biji khatib disebut sebagai salah satu warisan dapur masyarakat pesisir Bengkulu. Tradisi kuliner ini muncul dari perpaduan pengaruh Melayu, pesisir Nusantara, dan jalur perdagangan lama di pesisir barat Sumatra—tempat rempah, ikan kering, dan kelapa bersatu dalam berbagai olahan.
Bahan utamanya sederhana: tepung beras. Namun di Bengkulu, beras tak sekadar beras. Ia hadir dalam tiga rupa yang dikenal dengan sebutan lokal beghas: beghas tutuak mesin (tepung beras giling), beghas basau (tepung beras merah tumbuk), dan beghas pecah kulit (tepung beras setengah jadi).
Dari ketiganya, masyarakat biasanya memilih dua yang paling harum—tepung beras giling dan tepung beras merah—untuk menciptakan tekstur dan rasa khas pada biji khatib.
Dari Adonan ke Wajan: Ritual Kecil di Dapur
Membuat biji khatib adalah pekerjaan yang tenang, nyaris meditatif. Prosesnya dimulai dengan menyangrai tepung beras hingga beraroma hangat dan sedikit kering. Lalu tepung itu dicampur dengan santan kelapa, udang kering, garam, dan rempah pilihan. Sentuhan kapur sirih ditambahkan untuk memberi kerenyahan pada hasil akhirnya.
Adonan yang sudah kalis kemudian dibentuk bulat pipih—sering kali menggunakan tutup botol sebagai cetakan sederhana. Di banyak rumah, kegiatan ini menjadi ajang kebersamaan: para ibu mencetak, anak-anak menata di nampan, sementara aroma tepung dan santan memenuhi udara.
Ketika adonan masuk ke minyak panas, wajan mendesis pelan. Warna keemasan mulai muncul, lalu berubah menjadi cokelat muda yang menggoda. Saat diangkat, biji khatib mengering di atas tampah bambu, menunggu dingin sebelum dimasukkan ke toples kaca—simbol kecil ketertiban dapur Nusantara tempo dulu.
Gurih yang Mengikat Keluarga
Biji khatib bukan hanya makanan selingan. Di Bengkulu, ia sering hadir di tengah meja makan, menemani sepiring nasi hangat atau lauk ikan asin. Teksturnya yang renyah berpadu dengan rasa gurih udang kering menciptakan harmoni sederhana yang sulit ditiru oleh camilan modern.
Dulu, makanan ini juga kerap disajikan di acara keluarga atau hajatan, bahkan menjadi oleh-oleh khas antarkampung. Tak jarang, biji khatib dibuat dalam jumlah besar lalu disimpan rapi dalam toples tinggi di sudut dapur. Setiap kali tamu datang, toples itu akan dibuka, dan suara garing dari camilan ini mengiringi obrolan hangat di beranda rumah kayu.
Dari Pinggir Laut ke Pinggir Ingatan
Namun kini, biji khatib mulai jarang ditemui. Generasi muda Bengkulu lebih akrab dengan kudapan instan atau jajanan modern. Di pasar tradisional pun, hanya beberapa pedagang tua yang masih setia menjualnya—sering kali tanpa tahu sejak kapan mereka memulai.
Bagi sebagian warga tua, setiap gigitan biji khatib adalah perjalanan waktu: kembali ke masa di mana dapur masih beraroma kayu bakar, dan makanan dibuat dengan kesabaran, bukan mesin. Di sanalah keindahan sejati kuliner tradisional bertahan—bukan pada kemewahan bahan, melainkan pada makna yang ditinggalkannya.
Menjaga Warisan dari Lenyap
Biji khatib mungkin terlihat sederhana, namun ia menyimpan narasi panjang tentang ketekunan, identitas, dan rasa syukur masyarakat Bengkulu. Dari butiran beras yang digiling, udang yang dijemur di tepi pantai, hingga tangan-tangan yang mencetak adonan di sore hari—semuanya adalah fragmen kecil dari kisah kuliner yang membentuk jati diri sebuah daerah.
Di tengah arus modernitas, menjaga resep seperti biji khatib berarti menjaga kenangan akan aroma dapur masa lalu, akan waktu yang berjalan lebih pelan, dan akan kearifan yang mengajarkan bahwa makanan bukan sekadar untuk mengenyangkan, melainkan untuk mengikat manusia dengan tanah tempat ia berasal.


