Asal Mula Kain Adat Sawu, Muji Babr dan Lou Babo

Muji Babr (kakak) dan Lou Babo (adik). Waktunya tak pasti. Sekira 40 generasi lampau. Yang jelas, lomba itu berujung pertengkaran.

| www.dimensiindonesia.com | cerita Indonesia tentang keindahan alamnya, keunikan dan keberagaman budayanya |

Mau nulis? Lihat caranya yuk!
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia!

Bagi orang Sawu, pakaian bukan hanya penutup tubuh, melainkan juga identitas dan cara mereka merekam sejarah. “Di sawu tekstil adalah sejarah, Genevieve mengunjungi Sawu kali pertama pada 1990, Bekal pengetahuannya sedikit. “Tak banyak literatur membahas Sawu,” kata Genevieve. Kain Adat Sawu.

Saat berkeliling Sawu, Genevieve menemukan banyak hal istimewa. Jauh dari apa yang dia ketahui tentang orang Sawu. Hasil budaya orang Sawu sangat unik dan bermakna: sistem sosial, pakaian, dan ritus hidup. Semua saling berkait.

Genevieve begitu terpikat pada pakaian mereka. Orang Sawu berpakaian tenun ikat dengan beragam ornamen. Dan tiap kelompok penduduk memiliki motif masing-masing.

Terdorong minat dan rasa ingin tahu, Genevieve mengumpulkan informasi tentang tenun ikat orang Sawu. Dia tinggal bersama orang Sawu: mempelajari sejarah, budaya, dan bahasa mereka. “Tantangan paling besar adalah orang Sawu lebih lekat dengan tradisi lisan ketimbang tulisan. Dan lagi-lagi catatan tentang mereka masih sedikit,” kata Genevieve. Tapi dia tak mau menyerah.

Ketekunan Genevieve selama delapan tahun berbuah tesis antropologi berjudul “Ikat Weavings and The Social Organisation on the Island of Savu, Eastern Indonesia”, di Universitas Heidelberg, jerman, pada 1998.

Melalui tesisnya, Genevieve berkesimpulan, “Kain tenun ikat dan motifnya mengungkapkan pesan yang bisa dibaca sebagai sebuah teks.” Sebab orang Sawu tak memukimkan ingatannya di lembaran kertas, melainkan di dalam kain.

Keahlian Menenun

Sawu termasuk wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Terbagi atas tiga pulau kecil, luas totalnya hanya 749,5 km2. Kalah jauh dari dua pulau tetangganya, Timor dan Sumba. Lantaran itu, Sawu cukup terkucil sejak masa kurun niaga (1450-1680). Padahal lautnya ramai dengan kapal-kapal Eropa. Mereka berlayar membawa cendana dan rempah-rempah dari  ke kepulauan di Nusa Tenggara Timur.

Baca Juga :  Sejarah Kerajaan Adonara, Penguasa Pulau Adonara

Orang Portugis menguasai jalur perdagangan di laut Sawu. Mereka juga pernah menduduki Sawu. Kemudian orang Belanda (VOC) merebutnya. “Keterpencilan Sawu antara lain telah menyebabkan orang Portugis tidak dapat menahan VOC dari menguasai Sawu,” tulis Nico L. Kana dalam Dunia Orang Sawu.

VOC memiliki catatan tentang kehidupan orang Sawu. Pegawai VOC, pada 1648, melaporkan laki-laki setempat mengenakan kain persegi panjang dari pinggul sampai bawah lutut (hig’i) bermotif belah ketupat (wohepi). Saat itu hig’i hanya punya dua warna: biru indigo dan putih.
“Orang Sawu percaya motif itu yang paling tua dan bertahan hingga sekarang,” tulis Wanda Warming dan Michael Gaworski dalam The World of Indonesian Textiles.

- Advertisement -

Penduduk lokal punya cara untuk mencipta motif pada kain jauh sebelum orang Eropa mengenal teknik ini. Mereka mengikat benang (tali wangngu) pada alat tenun (anga tali). Orang Eropa menyebutnya teknik ikat. diperkenalkan di Eropa oleh Prof. A.R. Hein pada 1880,” tulis Suwati Kartiwa dalam Tenun Ikat. Sedangkan warna diperoleh dengan mencelup benang (pallo wangngu) pada periuk tanah liat (arru pallo).

Mau lihat keindahan Indonesia lainnya?
Yuk tekan tombolnya!

Bagikan

[gs-fb-comments]

BACA JUGA

- Advertisement -