Di antara hamparan hijau perbukitan Mamasa, di suatu lembah yang tampak seperti serpihan surga yang tersembunyi, Air Terjun Liawan berdiri sebagai saksi bisu dari perjalanan waktu.
Terletak sekitar 38 kilometer di selatan Mamasa Kota, destinasi ini seakan menjadi gerbang menuju dunia yang lebih sejuk, lebih damai, dan lebih asri dari yang pernah dibayangkan manusia modern.
Bagi para penjelajah yang ingin mencapai lokasi ini, perjalanan dimulai dengan melintasi Sumarorong, lalu berbelok ke kiri sejauh dua kilometer melewati bentangan sawah yang seolah menjadi kanvas alami.

Perjalanan ini dapat ditempuh dengan sepeda motor atau bahkan dengan berjalan kaki bagi mereka yang ingin merasakan setiap embusan angin yang membawa aroma khas tanah basah dan dedaunan segar. Kendaraan roda empat pun dapat mencapai titik terdekat sebelum air terjun, hanya berjarak 100 meter dari keindahan yang tersembunyi.
Keajaiban di Lembah Liawan
Air Terjun Liawan bukan sekadar aliran air yang jatuh dari ketinggian. Ia adalah entitas yang hidup, membentuk keseimbangan ekosistem yang telah ada selama berabad-abad. Dikelilingi oleh pepohonan tinggi yang rindang, lembah ini menawarkan udara yang sejuk dan menyegarkan, seolah-olah waktu berjalan lebih lambat di sini.
Sungai kecil mengalir lembut dari air terjun, melintasi jembatan kecil yang menjadi jalur bagi para pelancong untuk menyebrangi keindahan alam ini. Di dasar air terjun, sebuah kolam alami terbentuk, mengundang siapapun yang berani untuk menyatu dengan kesejukan airnya. Namun, di balik pesonanya yang menawan, kolam ini menyimpan misterinya sendiri.

Arus yang berputar di bagian selatan kolam telah menelan beberapa nyawa, menjadikannya tempat yang harus dihormati dengan kehati-hatian. Keindahan memang sering kali menyembunyikan bahaya di baliknya.
Fasilitas dan Kegiatan di Lembah Liawan
Tak seperti air terjun lainnya yang masih liar dan sulit dijangkau, Air Terjun Liawan telah dilengkapi berbagai fasilitas yang memanjakan para pengunjung. Gazebo-gazebo berdiri di beberapa titik strategis, menyediakan tempat beristirahat bagi mereka yang ingin menikmati keindahan alam tanpa terburu-buru.
Sebuah aula pertemuan dan beberapa vila tersedia bagi mereka yang ingin bermalam, membiarkan alam menyanyikan lagu pengantar tidur dengan harmoni angin dan gemericik air.
Bagi yang haus akan petualangan, jalur-jalur setapak telah terbentuk secara alami di sekitar lembah, menawarkan kesempatan untuk menjelajahi keindahan hutan yang masih perawan. Udara dingin yang menyelimuti setiap langkah menjadikan perjalanan ini bukan sekadar eksplorasi, tetapi juga perjalanan menuju kedamaian batin.

Waktu terbaik untuk mengunjungi Air Terjun Liawan adalah mulai pukul 11.00 hingga sore hari, saat matahari mulai condong ke barat dan cahaya keemasan membelai permukaan air terjun.
Pada pagi hari, tempat ini cocok untuk sekadar menikmati air yang menyegarkan, namun bagi para pencinta fotografi, siang hingga sore adalah saat terbaik untuk mengabadikan keajaiban alam ini.
Jaringan Keajaiban Air Terjun di Mamasa
Air Terjun Liawan hanyalah salah satu dari banyak keajaiban alam di Kabupaten Mamasa. Di desa Ulumambi Barat, Air Terjun Sambabo berdiri sebagai salah satu yang paling menakjubkan di seluruh Pulau Sulawesi, meski aksesnya masih terbatas.

Di sebelah timur Kampung Lambanan, sekitar 13 kilometer dari Mamasa Kota, Air Terjun Malute menawarkan keindahan yang lebih mudah dijangkau, hanya 1,5 kilometer dari jalan utama.
Sementara itu, Air Terjun Bunu’, tersembunyi sekitar 3 kilometer di sebelah barat kampung unik Ballapeu’, telah menjadi daya tarik bagi para mahasiswa Akademi Pariwisata yang datang untuk meneliti keindahannya.
Di antara semua air terjun ini, terdapat satu sumber air yang tak pernah kering, yakni Air Terjun Loko, yang menjadi penyuplai utama PDAM Mamasa. Airnya berasal dari Gunung Mambulilling, yang masih diselimuti hutan asli, memastikan bahwa Mamasa akan selalu memiliki sumber kehidupan yang tak ternilai harganya.
Air Terjun Liawan dan keajaiban alam lainnya di Mamasa bukan hanya sekadar destinasi wisata. Mereka adalah pengingat akan hubungan manusia dengan alam, akan keseimbangan yang harus dijaga.