Di tengah kemajuan zaman, di mana gedung-gedung menjulang tinggi dan teknologi meresap ke dalam kehidupan sehari-hari, ada tradisi yang tetap bertahan, menjadi penghubung antara masa lalu dan masa kini. Tradisi Pakkio Bunting.
Di sebuah rumah adat Bugis-Makassar, lampu-lampu temaram memancarkan cahaya hangat, menerangi ruangan yang dipenuhi keluarga dan kerabat. Malam itu adalah malam istimewa—malam sebelum akad nikah, di mana tradisi pakkio bunting akan dilaksanakan.
Seorang lelaki tua, yang telah bertahun-tahun menjaga warisan leluhur, berdiri di tengah ruangan. Dengan suara yang bergetar oleh pengalaman, ia mulai melantunkan syair khas pakkio bunting, panggilan kepada mempelai:
“Oh, wahai ananda yang akan menikah,
Datanglah dengan hati yang lapang,
Jangan ragu, jangan bimbang,
Karena bahtera rumah tangga harus berlayar dengan keyakinan.”
Syair itu bukan sekadar untaian kata. Ia adalah doa, harapan, dan nasihat yang diwariskan turun-temurun. Suara lelaki tua itu menggema, diiringi alunan musik dari gandrang dan pui-pui, menghidupkan kembali suasana yang telah menjadi bagian dari budaya Bugis-Makassar sejak zaman dahulu.
Di ruangan sebelah, sang pengantin wanita duduk dengan tenang, mendengarkan lantunan yang menggema di hatinya. Tradisi ini bukan sekadar seremoni, tetapi sebuah penghormatan terhadap nilai-nilai kekerabatan dan kebersamaan yang tetap terjaga, bahkan di era modern.
Nyanyian yang Menghubungkan Generasi
Adat masih menjadi bagian penting dalam identitas manusia. Namun, seperti halnya budaya lain, banyak tradisi yang mulai ditinggalkan. Dengan teknologi netnografi, tim Nosakros mengumpulkan data dari berbagai ruang digital, menyusuri rekaman-rekaman lama yang tersisa dari pernikahan adat Makassar di masa lalu.
Dalam salah satu wawancara yang dilakukan dengan tokoh adat, seorang penerus Kerajaan Barombong bernama Daeng Beta berbicara, “Pakkio’ Bunting bukan sekadar nyanyian. Ia adalah doa, harapan, dan ajaran tentang bagaimana membangun rumah tangga dengan kesetiaan dan tanggung jawab.”
Sebuah rekaman diputar, memperlihatkan seorang lelaki tua melantunkan syair diiringi dentingan gandrang dan alunan pui-pui. Bait-baitnya mengalir, membawa kenangan tentang masa ketika tradisi ini masih menjadi bagian sakral dalam setiap pernikahan.