Sejarah Vihara Ibu Agung Bahari, Saksi Bisu Kedatangan Etnis Tionghoa di Makassar

Vihara Ibu Agung Bahari, yang sebelumnya dikenal sebagai Klenteng Thian Ho Kong atau Ma Tjo Poh, adalah salah satu tempat bersejarah di kawasan Pecinan, Jalan Sulawesi, Kelurahan Pattunuang, Kecamatan Wajo, Makassar.

| www.dimensiindonesia.com | cerita Indonesia tentang keindahan alamnya, keunikan dan keberagaman budayanya |

Mau nulis? Lihat caranya yuk!
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia!

Rumah megah ini (Vihara Ibu Agung Bahari), yang terletak di kawasan Pecinan atau Jalan Sulawesi No.41, bukan hanya menjadi tanda sejarah kedatangan etnis Tionghoa di wilayah ini, tetapi juga menjadi saksi perkembangan kota Makassar.

Sejarahnya dimulai pada abad ke-14 dan 15, di masa Dinasti Tang dan Dinasti Ming, ketika orang-orang Tionghoa memasuki pesisir selatan Makassar. Mereka membawa kapal-kapal besar berisi senjata, kain, dan pernak-pernik untuk berdagang.

Pedagang Tionghoa ini kemudian membentuk komunitas di pesisir pantai, memberikan awal bagi perkampungan Cina di Makassar yang sekarang dikenal sebagai kawasan Pecinan. Kawasan ini kemudian menyatu dengan penduduk setempat.

- Iklan -

Klenteng Thian Hou Kiong (Istana Ratu Laut) atau Ma Tjo Poh dibangun oleh Kapitan Lie Lu Chang pada tahun 1738. Namun, prasasti di lokasi mengungkapkan bahwa klenteng ini sebenarnya sudah berdiri sekitar 100 tahun sebelumnya di Hoogepad (sekarang Jalan Achmad Yani).

Ketika VOC berkuasa di Makassar, klenteng dipindahkan ke Jalan Sulawesi, persimpangan Jalan Serui. Klenteng ini didirikan untuk memuja Dewi Ma Tjo Poh, yang diyakini oleh masyarakat Tionghoa sebagai dewi pembawa berkah dan keselamatan di laut.

Vihara Ibu Agung Bahari
Vihara Ibu Agung Bahari

Namun, pada tahun 1997, tragedi pemberangusan etnis Tionghoa di Makassar mengakibatkan sebagian besar bangunan klenteng terbakar, meninggalkan hanya bagian gerbang dan sayap kiri yang utuh.

- Iklan -

Etnis Tionghoa merasa takut beribadah, dan beberapa dari mereka beralih ke agama Buddha. Klenteng ini kemudian bertransformasi menjadi Vihara Ibu Agung Bahari.

Setelah kerusuhan, pada tahun 2003, umat Buddha di Makassar menyumbangkan dana untuk memugar tempat peribadahan ini. Meskipun bagian pintu masuk dan sayap kiri mengalami perubahan, pemugaran dilakukan dengan tetap memperhatikan aspek sejarah. Kini, Vihara Ibu Agung Bahari berdiri megah dengan bangunan berlantai 4.

Baca Juga :  Pulau Rote, Antara Dinasti Chola Dan Serbuan Imigran Dari Utara

Vihara ini berfungsi sebagai tempat peribadahan umat Buddha, tidak hanya bagi etnis Tionghoa di sekitar vihara, tetapi juga bagi warga Makassar dari wilayah lain dan bahkan manca negara.

- Iklan -

Meskipun berfungsi sebagai tempat ibadah Buddha, vihara ini kadang-kadang juga digunakan untuk merayakan hari-hari besar kepercayaan tradisional Tionghoa. Ibadah dilaksanakan sekitar dua kali sebulan, pada awal dan pertengahan bulan.

Arsitektur bangunan vihara ini mencerminkan gaya khas Tionghoa, terlihat dari denah berbentuk 4 persegi panjang. Ciri khasnya terlihat pada atap dan motif dekoratifnya. Bangunan ini memiliki luas total 660 m2 dan terdiri dari beberapa bagian, termasuk halaman depan, unit utama (pusat vihara), sayap kiri, dan tempat sembahyang.

Pintu masuk vihara, yang berwarna merah dengan lukisan panglima perang, didekorasi dengan dua patung singa, masing-masing betina dan jantan. Patung-patung ini memiliki makna simbolis, melambangkan kekuatan, keberanian, dan ketabahan serta berfungsi sebagai penolak bala.

Prasasti dengan aksara dan bahasa Mandarin, lukisan-lukisan khas Tionghoa, dan ukiran naga juga menghiasi vihara ini, memperkaya pengalaman spiritual dan budaya para pengunjung.

Meskipun mengalami tragedi, vihara ini tetap berfungsi sebagai tempat ibadah umat Buddha hingga sekarang. Dalam rangka pemeliharaan, vihara ini telah mengalami pemugaran sebanyak tiga kali pada tahun 1805, 1831, dan 1867.

Bangunannya terdiri dari empat bagian, melibatkan halaman depan dengan gapura utama, unit utama yang mencakup atas teras, bagian tengah, dan bagian dalam. Di bagian kiri unit ini, terdapat kamar yang saling berhubungan, sementara ruangan untuk sembahyang berada di bagian ujung belakang.

Selain memiliki fungsi religius, Vihara Ibu Agung Bahari juga dianggap sebagai peninggalan sejarah yang dilindungi oleh Undang-Undang No. 11 Tahun 2010, nomor register 342, oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Sulawesi Selatan, Tenggara, dan Barat. Keberadaan vihara ini menjadi saksi bisu perjalanan panjang dan perubahan signifikan dalam komunitas etnis Tionghoa di Makassar.

Baca Juga :  Ini Tongkonan Tertua di Toraja, Beratapkan Batu dan Berusia 700 Tahun
- Iklan -

Mau lihat keindahan Indonesia lainnya?
Yuk tekan tombolnya!

BAGIKAN