Di pesisir timur Pulau Sumbawa, menghadap jalur pelayaran penting Nusantara bagian timur, tumbuh sebuah kekuatan politik dan budaya yang berumur panjang: Kerajaan Bima. Kerajaan ini bukan hanya penanda penting dalam sejarah Nusa Tenggara Barat (NTB), tetapi juga memainkan peran strategis dalam proses Islamisasi, perdagangan, dan dinamika kekuasaan di kawasan timur Indonesia.
Perjalanan sejarah Bima mencerminkan transformasi besar Nusantara: dari masyarakat lokal yang dipimpin kepala adat, pengaruh Hindu-Jawa, masuknya Islam, hingga tekanan kolonial Eropa dan akhirnya integrasi ke dalam Republik Indonesia.
Dunia Ncuhi dan Lahirnya Kerajaan
Sejarah awal Bima bermula jauh sebelum pengaruh Islam masuk ke wilayah ini. Sekitar abad ke-13 Masehi, wilayah Bima belum berbentuk kerajaan tunggal, melainkan terdiri dari komunitas-komunitas yang dipimpin oleh tokoh adat yang dikenal sebagai Ncuhi. Para Ncuhi ini memimpin wilayahnya masing-masing, menjaga adat, hukum lokal, serta keseimbangan sosial masyarakat.
Dalam tradisi sejarah Bima, disebutkan bahwa terdapat lima Ncuhi utama yang menguasai wilayah-wilayah penting. Seiring waktu, kebutuhan akan kepemimpinan terpusat untuk menjaga stabilitas dan memperkuat hubungan antarwilayah mendorong terbentuknya federasi Ncuhi.
Kesepakatan para Ncuhi kemudian melahirkan sebuah keputusan penting: memilih seorang pemimpin tunggal yang diyakini mampu menyatukan wilayah Bima. Dalam sumber-sumber sejarah lokal, sosok tersebut dikenal sebagai Sang Bima, seorang bangsawan yang disebut berasal dari Jawa. Meskipun Sang Bima tidak lama memerintah langsung di Bima, kehadirannya menjadi simbol awal berdirinya Kerajaan Bima.
Keturunan Sang Bima, terutama Indra Zamrud dan Indra Komala, kemudian memegang tampuk kekuasaan sebagai raja-raja awal. Pada fase ini, Kerajaan Bima mulai tersusun sebagai entitas politik yang lebih terorganisir, dengan struktur kekuasaan yang berpusat pada raja.
Pengaruh Hindu dan Budaya Jawa
Pada periode awal kerajaan, Bima menunjukkan kuatnya pengaruh Hindu-Jawa, yang masuk melalui hubungan dagang, migrasi elite, dan jaringan kekuasaan Nusantara bagian barat. Gelar raja, struktur istana, serta unsur simbolik kekuasaan mencerminkan corak Hindu yang berkembang di Jawa dan Bali.
Meski demikian, pengaruh tersebut tidak sepenuhnya menghapus tradisi lokal. Justru terjadi proses akulturasi, di mana adat Bima tetap hidup berdampingan dengan nilai-nilai baru. Kerajaan Bima tumbuh sebagai kekuatan regional yang mengandalkan pelayaran, perdagangan hasil bumi, dan posisi geografis strategis di jalur timur Nusantara.
Islamisasi dan Lahirnya Kesultanan Bima
Perubahan paling mendasar dalam sejarah Bima terjadi pada awal abad ke-17. Gelombang Islamisasi yang telah lebih dulu berkembang di Sulawesi Selatan dan Maluku mulai menjangkau Pulau Sumbawa. Hubungan erat Bima dengan Kesultanan Makassar menjadi salah satu jalur utama masuknya Islam.
Raja Bima ke-27, yang dikenal sebagai Ruma Ta Ma Bata Wadu, memeluk Islam sekitar tahun 1620 Masehi. Setelah masuk Islam, ia mengambil gelar Sultan Abdul Kahir, sekaligus menandai perubahan bentuk pemerintahan dari kerajaan menjadi Kesultanan Bima.
Islam tidak hanya menjadi agama penguasa, tetapi juga dijadikan dasar pemerintahan. Syariat Islam mulai diterapkan dalam hukum, adat, dan tata kelola kerajaan. Ulama memiliki posisi penting dalam struktur kekuasaan, berdampingan dengan elite adat.
Sejak saat itu, Kesultanan Bima berkembang sebagai salah satu pusat kekuasaan Islam di kawasan timur Indonesia, sekaligus menjadi simpul penyebaran Islam ke wilayah-wilayah sekitar.
Masa Kejayaan Abad ke-17 hingga ke-19
Kesultanan Bima mencapai masa kejayaannya antara abad ke-17 hingga ke-19. Pada periode ini, wilayah kekuasaan Bima meluas tidak hanya di bagian timur Pulau Sumbawa, tetapi juga mencakup pulau-pulau kecil di sekitarnya, bahkan menjangkau wilayah Flores Barat dan kawasan Selat Alas.
Posisi strategis Bima menjadikannya pelabuhan penting dalam jaringan perdagangan Nusantara. Komoditas seperti hasil pertanian, ternak, dan hasil laut diperdagangkan melalui jalur laut yang menghubungkan Sulawesi, Maluku, dan Jawa.
Hubungan politik dan budaya dengan Makassar, serta kerajaan-kerajaan Islam lainnya, memperkuat posisi Kesultanan Bima sebagai kekuatan regional yang disegani.
Tekanan Kolonial dan Campur Tangan Belanda
Memasuki akhir abad ke-17, dinamika kekuasaan berubah. Setelah jatuhnya Makassar ke tangan VOC, pengaruh Belanda mulai merambah wilayah Bima. Sejak sekitar 1669, Kesultanan Bima berada dalam tekanan politik dan ekonomi Belanda melalui berbagai perjanjian yang merugikan.
Kesultanan tetap berdiri, tetapi posisinya semakin terbatas. Bima menjadi semi-protektorat Hindia Belanda, di mana sultan masih memerintah, namun berada di bawah pengawasan kolonial.
Pada awal abad ke-20, kontrol Belanda semakin kuat. Struktur pemerintahan tradisional diintervensi, hukum adat dibatasi, dan kebijakan kolonial mulai menggerus kedaulatan kesultanan.
Akhir Kesultanan dan Integrasi ke Republik Indonesia
Kesultanan Bima secara formal masih bertahan hingga pertengahan abad ke-20. Sultan terakhir yang memerintah dengan kekuasaan nyata adalah Sultan Muhammad Salahuddin (1915–1951).
Setelah Indonesia merdeka, peran politik kesultanan secara bertahap dihapuskan. Wilayah Bima kemudian diintegrasikan ke dalam struktur negara Republik Indonesia dan menjadi bagian dari Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Meski kekuasaan politiknya berakhir, Kesultanan Bima tetap hidup sebagai entitas budaya dan adat.
Peninggalan dan Warisan Sejarah
Jejak panjang sejarah Kerajaan dan Kesultanan Bima masih dapat disaksikan hingga kini, antara lain:
-
Istana Asi Mbojo, bekas istana sultan yang kini menjadi museum sejarah Bima
-
Masjid Sultan Muhammad Salahuddin, simbol perkembangan Islam di Bima
-
Tradisi Rimpu, busana adat perempuan Bima yang sarat makna budaya
-
Berbagai artefak, manuskrip, dan adat istiadat yang masih dijaga masyarakat
Sejarah Kerajaan Bima adalah kisah tentang perubahan, adaptasi, dan ketahanan. Dari federasi Ncuhi, kerajaan bercorak Hindu, hingga kesultanan Islam yang berpengaruh di timur Nusantara, Bima menunjukkan dinamika sejarah yang kompleks dan kaya.
Warisan tersebut tidak hanya tercermin dalam bangunan dan artefak, tetapi juga hidup dalam identitas budaya masyarakat Bima hingga hari ini.


