Rumah Adat Balla To Kajang dan Filosofinya

Di Pulau Sulawesi, di Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan, terdapat  suku dengan tradisi mistis yang unik. Suku Kajang, yang merupakan suku tertua di Desa Tana Toa, adalah contoh nyata cinta mendalam terhadap alam.

Mau nulis? Lihat caranya yuk!
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia!

Rumah Adat Balla To Kajang. Suku Ammatoa, yang juga dikenal sebagai Suku Kajang, memiliki hubungan erat dengan alam sekitarnya. Mereka melihat hutan sebagai “ibu” yang patut dihormati dan dilindungi, mengingat peran ibu yang begitu penting dalam budaya mereka.

Salah satu ciri khas yang paling mencolok adalah pakaian tradisional yang dikenakan oleh Suku Kajang. Mereka selalu mengenakan pakaian berwarna hitam dan tidak menggunakan alas kaki. Pengunjung yang ingin mengunjungi komunitas ini diharapkan mengenakan pakaian berwarna hitam, karena warna ini memiliki makna persamaan, persatuan dalam segala aspek kehidupan, dan kesederhanaan menurut pandangan Suku Kajang.

Warna hitam bagi mereka merupakan simbol kekuatan dan derajat yang tinggi dalam tatanan alam. Keseragaman yang dimaknai oleh warna hitam juga tercermin dalam pandangan mereka terhadap perlindungan lingkungan, khususnya hutan, yang dianggap sebagai sumber kehidupan yang tak ternilai harganya.

- Advertisement -

Yang tak kalah menarik adalah rumah suku ini. Rumah Kajang, yang juga dikenal sebagai Balla To Kajang, adalah rumah tradisional yang digunakan oleh masyarakat adat Kajang di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Seperti banyak rumah adat di Sulawesi Selatan, rumah Kajang memiliki desain rumah panggung yang khas.

Konstruksi rumah Kajang, 100 persen menggunakan bahan-bahan alami. Kayu merupakan bahan utama, sedangkan daun nipah, alang-alang digunakan sebagai bahan atap, sementara ijuk dan rotan digunakan sebagai pengikat, dan bambu digunakan untuk lantai dan dinding.

Penting untuk dicatat bahwa rumah tradisional masyarakat adat Kajang cenderung menghemat penggunaan kayu. Hanya tiga balok pasak atau sulur bawah (padongko) diperlukan untuk membangun sebuah rumah, yang melintang dari sisi kiri ke sisi kanan rumah. Balok besar yang melintang di bagian atas rumah digunakan untuk mengikat tiang-tiang dalam satu jejeran (latta’).

- Advertisement -
Baca Juga :  Kampung Adat Prai Ijing, Tradisi dan Adat yang Karismatis

Rumah Kajang memiliki makna mendalam dalam budaya masyarakat adat Kajang. Rumah ini dianggap sebagai mikrokosmos dari hutan adat, dan penggunaan balok-balok mencerminkan simbolisasi tangkai-tangkai kayu pada pohon, yang dihubungkan dengan tiang-tiang rumah. Tiang-tiang ini ditanamkan ke dalam tanah pada kedalaman sekitar setengah depa (sihalirappa) atau paling dangkal satu siku (sisingkulu) untuk menjaga pergeseran.

Rumah-rumah dalam kawasan adat Kajang sering dihiasi dengan anjungan (anjoang) yang berbentuk tanduk kerbau atau ukiran kayu. Anjungan ini menggambarkan dunia atas dan sering berbentuk naga, yang dalam kosmologi beberapa suku dan masyarakat adat Kajang dianggap sebagai binatang raksasa penjaga langit.

Desain rumah adat suku Kajang memiliki keunikan tersendiri. Berbeda dari rumah-rumah pada umumnya yang memiliki dapur di bagian belakang, rumah adat Kajang memiliki dapur yang terletak di bagian depan menghadap jalan utama.

- Advertisement -

Hal ini merupakan simbol kesederhanaan dan sikap terbuka, karena mereka senantiasa menyembunyikan rumah di balik hutan. Di dalam rumah adat suku Kajang, Anda tidak akan menemukan peralatan rumah tangga, kursi, kasur, atau bahkan barang elektronik apa pun, mencerminkan gaya hidup sederhana dan tradisional yang mereka anut.

- Advertisement -